Lompat ke konten
Home » Ilmu Psikologi » Teori Perilaku Kriminal

Teori Perilaku Kriminal

  • oleh

Perspektif atau teori lain yang juga ikut andil dalam proses pembahasan perilaku kriminalitas, dapat dikemukakan sebagai berikut :

1. Subculture Theory

Suatu perspektif yang menyetakan bahwa perilaku kriminalitas itu merupakan suatu perilaku yang menjadi bagian dari kebudayaan, artinya, sepanjang klebudayaan manusia itu masih ada, maka bersamaan dengan itu perilaku kriminalitas juga akan ada.

Mengapa demikian, karena menurut pendekatan ini, proses terjadinya perilaku. kriminalitas juga akan sama dengan proses terjadinya perilaku kriminal.

2. Learning Theory

Suatu perspektif yang berpandangan bahwa perilaku kriminalitas itu tidak harus didukung oleh kondisi bakat secara fisik maupun sosial, karena sebenarnya setiap orang memiliki kemampuan untuk melakukan tindak kriminal, asal dirinya mau berlatih atau belajar. Bagaimana cara mencurti, cara berbohong, cara menyontek dan sebagainya, menurut perspektif ini dapat ditempuh dengan proses belajar.

3. Normal dan Pathologycal Theory

Suatu perspektif yang menyatakan bahwa suatu perilaku itu, apakah dianggap sebagai kriminal atau tidak, sangat tergantung dari bagaimana masyarakat menempatkan dan memaknai perilaku tersebut.

Seseorang yang melakukan kritik terhadap kebijakan Pemerintah di Jaman Orde Baru, bisa dianggap sebagai telah berbuat kriminal atau bahkan subversif, sementara bagi anggota masyarakat lain yang merasa dirugikan oleh kebijakan pemerintah itu, justrui akan menganggap pelakunya sebagai pahlawan.

Jadi pendek kata, suatu perilaku, akan dianggap normal, apabila sebagian besar anggota masyarakat telah melakukannya dan telah menganggapnya normal atau biasa. Sementara apabila sejumlah besar anggota masyarakat menganggap tidak normal atau patologis, maka perbuatannya akan dianggap kriminal.

Di antara dua kelompok perspektif itu, pendekatan Sosiologi telah menempatkan diri pada perspektif eksternal, karena pendekatan Sosiologis terhadap masalah kriminal, merupakan pendekatan yang menitik beratkan kepada faktor lingkungan sosial, bukan faktor individual. Baik lingkungan sosial yang paling kecil seperti keluarga, maupun lingkungan sosial yang lebih luas pada tingkat masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.