Lompat ke konten
Kategori Home » Ilmu Psikologi » Teori Kognitif

Teori Kognitif

  • oleh

Teori  kognitif  menjelaskan  bagaimana  cara  individu  berpikir  mengenai prasangka (objek yang dijadikan sasaran untuk diprasangkai) dan bagaimana individu memproses informasi dan memahami secara subjektif mengenai dunia dan   individu   lain.   Dalam   mengamati   individu   lain,   seseorang   berusaha mengembangkan kesan yang terstruktur mengenai individu lain dengan cara melakukan proses kategorisasi. Kategorisasi sering kali didasarkan pada isyarat yang sangat jelas dan menonjol, seperti warna kulit, bentuk tubuh, dan logat bahasa.

Berdasarkan teori kognitif, prasangka timbul karena adanya atribusi dan perbedaan antara in group danout group.

a. Teori Atribusi

Atribusi adalah proses bagaimana kita mencoba menafsirkan dan menjelaskan perilaku individu lain, yaitu untuk melihat sebab tindakan mereka. Menurut teori atribusi,  prasangka  disebabkan  oleh  individu  sebagai  pengamat  melakukan atribusi yang “bias” terhadap target prasangka. Thomas Pettigrew (1979), Emmot, Pettigrew, dan Johnson (1983) mengemukakan bahwa individu yang berprasangka cenderung melakukan “ultimate attribution error”, yang merupakan perluasan dari “fundamental  attribution  error”.  Pettigrew  juga  menyebutkan  adanya ketidakkonsistenan  atribusi  individu  yang  berprasangka  terjadi  karena  target prasangka menunjukkan perilaku positif, yaitu :

• Kasus yang terkecuali (exceptional case)

Individu yang berprasangka akan memandang tindakan positif individu yang ditunjukkan target prasangka sebagai kasus yang terkecuali. Sebagai contoh, individu kulit putih yang melihat individu kulit hitam memiliki perilaku yang baik akan menyebutkan bahwa individu kulit hitam tersebut berbeda dari individu kulit hitam lainnya.

• Nasib baik atau keberuntungan istimewa (luck or special advantage)

Individu yang berprasangka melihat target prasangka bertindak positif, maka mereka  akan  mempersepsikan  hal  tersebut  bukan  sebagai  potensi  atau pembawaan yang baik dari target prasangka, melainkan target prasangka sedang mengalami nasib baik atau mendapatkan keberuntungan.

• Konteks situasional

Individu yang berprasangka melihat target prasangka bertindak positif, maka mereka akan mempersepsikan hal tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh faktor paksaan situasi (konformitas), bukan disebabkan oleh faktor disposisi kepribadiannya.

• Usaha dan motivasi yang tinggi

Individu  yang  berprasangka  melihat  target  prasangka  bertindak  positif (misalnya berprestasi), maka mereka akan mempersepsikan hal tersebut bukan sebagai usaha dan motivasi target prasangka untuk mencapai kesuksesan, bukan karena kemampuannya.

b. In group danout group

Secara umum, in groupdapat diartikan sebagai suatu kelompok dimana seseorang  mempunyai  perasaan  memiliki  dan “common  identity” (identitas umum). Sedangkan out groupadalah suatu kelompok yang dipersepsikan jelas berbeda dengan “in group”. Adanya perasaan “in group” sering menimbulkan “in group bias”, yaitu kecenderungan untuk menganggap baik kelompoknya sendiri. Menurut  Henry  Tajfel (1974)  dan  Michael  Billig (1982) in  group  bias merupakan refleksi perasaan tidak suka pada out groupdan perasaan suka pada in group. Hal tersebut terjadi kemungkinan karena loyalitas terhadap kelompok yang dimilikinya yang pada umumnya disertai devaluasi kelompok lain. Berdasarkan Teori Identitas Sosial, Henry Tajfel dan John Tunner (1982) mengemukakan bahwa prasangka biasanya terjadi disebabkan oleh “in group favoritism”, yaitu kecenderungan untuk mendiskriminasikan dalam perlakuan yang lebih baik atau menguntungkan in group di atasout group.

Berdasarkan teori tersebut, masing-masing dari kita akan berusaha meningkatkan harga diri kita, yaitu : identitas pribadi (personal identity) dan identitas sosial yang berasal dari kelompok yang kita miliki. Jadi, kita dapat memperteguh harga diri kita dengan prestasi yang kita miliki secara pribadi dan bagaimana kita membandingkan dengan individu lain.

Identitas sosial merupakan keseluruhan aspek konsep diri seseorang yang berasal dari kelompok sosial mereka atau kategori keanggotaan bersama secara emosional  dan  hasil  evaluasi  yang  bermakna.  Artinya,  seseorang  memiliki kelekatan emosional terhadap kelompok sosialnya. Kelekatan itu sendiri muncul setelah menyadari keberadaannya sebagai anggota suatu kelompok tertentu.

Orang memakai identitas sosialnya sebagai sumber dari kebanggaan diri dan harga  diri.  Semakin  positif  kelompok  dinilai  maka  semakin  kuat  identitas kelompok  yang  dimiliki  dan  akan  memperkuat  harga  diri.  Sebaliknya  jika kelompok yang dimiliki dinilai memiliki prestise yang rendah maka hal itu juga akan menimbulkan identifikasi yang rendah terhadap kelompok. Dan apabila terjadi sesuatu yang mengancam harga diri maka kelekatan terhadap kelompok akan meningkat dan perasaan tidak suka terhadap kelompok lain juga meningkat. Demikan pula akhirnya prasangka diperkuat.

Sebagai upaya meningkatkan harga diri, seseorang akan selalu berusaha untuk memperoleh identitas sosial yang positif. Upaya meningkatkan identitas sosial yang positif itu diantaranya dengan membesar-besarkan kualitas kelompok sendiri sementara kelompok lain dianggap kelompok  yang inferior. Secara alamiah memang selalu terjadi in group bias yakni kecenderungan untuk menganggap kelompok lain lebih memiliki sifat-sifat negatif atau kurang baik dibandingkan kelompok sendiri.

Tidak  setiap  orang  memiliki  derajat  identifikasi  yang  sama  terhadap kelompok. Ada yang kuat identifikasinya dan ada pula yang kurang kuat. Orang dengan identifikasi sosial yang kuat terhadap kelompok cenderung untuk lebih berprasangka daripada orang yang identifikasinya terhadap kelompok rendah. Secara  umum  derajat  identifikasi  seseorang  terhadap  kelompok  dibedakan menjadi  dua  yakni, high  identifiers dan low  identifiers.  High  identifiers mengidentifikasikan diri sangat kuat, bangga, dan rela berkorban demi kelompok. Hal ini misalnya ditunjukkan dengan melindungi dan membela kelompok kala mendapatkan imej yang buruk. Dalam situasi yang mengancam kelompok, orang dengan high  identifiers akan  menyusun  strategi  kolektif  untuk  menghadapi ancaman tersebut. Sebaliknya low identifierskurang kuat mengidentifikasikan ke dalam kelompok. Orang dengan identifikasi rendah terhadap kelompok ini akan membiarkan   kelompok   terpecah-pecah   dan   melepaskan   diri   mereka   dari kelompok ketika berada dibawah ancaman. Mereka juga merasa bahwa anggotaanggota kelompok kurang homogen.

Teori identitas sosial memiliki dua prediksi, yaitu :

 (1)ancaman terhadap harga diri seseorang akan meningkatkan kebutuhan untuk in group favoritism, dan

(2) ekspresi in grouppada gilirannya meningkatkan harga diri seseorang. Menurut Worchel dan kawan-kawan (2000), biasanya loyalitas danin group favoritism akan lebih muncul dan lebih intens pada kelompok minoritas daripada kelompok mayoritas.

Pada dasarnya, timbulnya in group biasselain bergantung pada tendensi seseorang untuk berinteraksi secara primer dengan anggota kelompok mereka sendiri, juga bergantung pada pola interaksi yang ada antar kelompok. Jika interaksi anatr kelompok jauh, maka gap antar kelompok akan lebar dan dapat memperbesar kemungkinan timbulnya in group bias.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *