Lompat ke konten
Home » Ilmu Psikologi » Teori Kategorisasi Sosial

Teori Kategorisasi Sosial

  • oleh

Dunia merupakan kekompleksan yang tiada batas. Melalui kategorisasi kita membuatnya menjadi sederhana dan bisa kita mengerti. Melalui kategorisasi kita membedakan diri kita dengan orang lain, keluarga kita dengan keluarga lain, kelompok kita dengan kelompok lain, etnik kita dengan etnik lain. Pembedaan kategori ini bisa berdasarkan persamaan atau perbedaan. Misalnya persamaan tempat tinggal, garis keturunan, warna kulit, pekerjaan, kekayaan yang relatif sama dan sebagainya akan dikategorikan dalam kelompok yang sama. Sedangkan perbedaan dalam warna kulit, usia, jenis kelamin, tempat tinggal, pekerjaan, tingkat  pendidikan  dan  lainnya  maka  dikategorikan  dalam  kelompok  yang berbeda.

Mereka yang memiliki kesamaan dengan diri kita akan dinilai satu kelompok dengan kita atau in group. Sedangkan mereka yang berbeda dengan kita akan dikategorikan   sebagai  out   group.   Seseorang   pada   saat   yang   sama   bisa dikategorikan dalam in groupataupun out groupsekaligus. Misalnya Sandi adalah tetangga   kita,   jadi   sama-sama   sebagai   anggota   kelompok   pertetanggaan lingkungan RT. Pada saat yang sama ia merupakan lawan kita karena ia bekerja pada perusahaan saingan kita. Jadi, Sandi termasuk satu kelompok dengan kita (in group) sekaligus bukan sekelompok dengan kita (out group).

Kategorisasi   memiliki   dua   efek   fundamental   yakni   melebih-lebihkan perbedaan  antar  kelompok  dan  meningkatkan  kesamaan  kelompok  sendiri. Perbedaan antar kelompok yang ada cenderung dibesar-besarkan dan itu yang sering di ekspos sementara kesamaan yang ada cenderung untuk diabaikan. Disisi lain kesamaan yang dimiliki oleh kelompok cenderung sangat dilebih-lebihkan dan  itu  pula  yang  selalu  diungkapkan.  Sementara  itu  perbedaan  yang  ada cenderung diabaikan. Sebagai contoh perbedaan antara etnik jawa dan etnik batak akan cenderung di lebih-lebihkan, misalnya dalam bertutur kata dimana etnis jawa lembut dan etnis Batak kasar. Lalu, orang-orang seetnis cenderung untuk merasa sangat identik satu sama lain padahal sebenarnya diantara mereka relatif cukup berbeda.

Ukuran  kelompok  adalah  faktor  penting  dalam  menilai  apakah  diantara anggota-anggotanya relatif sama ataukah plural. Kelompok minoritas menilai dirinya lebih similar dalam kelompok, sementara kelompok mayoritas menilai dirinya kurang similar. Anggota kelompok minoritas juga mengidentifikasikan diri lebih kuat ke dalam kelompok ketimbang anggota kelompok yang lebih besar. Kelompok yang minoritas juga menilai dirinya lebih berada di dalam ancaman dibanding kelompok yang lebih besar. Keadaan ini menyebabkan kelompok minoritas tidak mudah percaya, sangat berhati-hati dan lebih mudah berprasangka terhadap kelompok mayoritas. Kecemasan berlebih itu tidak kondusif dalam harmonisasi hubungan sosial. Karena sebagaimana yang dikatakan oleh Islam dan Hewstone (1993)  hubungan  yang  cenderung  meningkatkan  kecemasan  akan mengurangi sikap yang baik terhadap kelompok lain.

Pengkategorian cenderung mengkontraskan antara dua pihak yang berbeda. Jika  yang  satu  dinilai  baik  maka  kelompok  lain  cenderung  dinilai  buruk. Kelompok sendiri biasanya akan dinilai baik, superior, dan layak dibanggakan untuk meningkatkan harga diri. Sementara itu disaat yang sama, kelompok lain cenderung   dianggap   buruk,   inferior,   dan   memalukan.   Keadaan   ini   bisa menimbulkan  konflik  karena  masing-masing  kelompok  merasa  paling  baik. Keadaan konflik ini baik terbuka ataupun tidak melahirkan prasangka. Oakes, Haslam & Turner (1994) menyatakan bahwa kategorisasi sosial juga akan melahirkan diskriminasi antar kelompok jika memenuhi kondisi berikut :

• Derajat subjek mengidentifikasi dengan kelompoknya. Semakin tinggi derajat identifikasi  terhadap  kelompok  semakin  tinggi  kemungkinan  melakukan diskriminasi.

• Menonjol tidaknya kelompok lain yang relevan. Bila kelompok yang relevan cukup menonjol maka kecenderungan untuk terjadi diskriminasi juga besar. Derajat dimana kelompok dibandingkan pada dimensi-dimensi itu (kesamaan, kedekatan, perbedaan yang ambigu). Semakin sama, semakin dekat, dan semakin ambigu yang dibandingkan maka kemungkinan diskriminasi akan mengecil.

• Penting dan relevankah membandingkan dimensi-dimensi dengan identitas kelompok. Semakin penting dan relevan dimensi yang dibandingkan dengan identitas kelompok maka kemungkinan diskriminasi juga semakin besar. Status relatif in groupdan karakter perbedaan status antar kelompok yang dirasakan. Semakin besar perbedaan yang dirasakan maka diskriminasi juga semakin mungkin terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.