Lompat ke konten
Home » Sosial Politik » Teori Batas Akal

Teori Batas Akal

  • oleh

Teori ini menyatakan bahwa permulaan terjadinya agama dikarenakan manusia mengalami gejala yang tidak dapat diterngkan oleh akalnya. Teori batas akal ini berasal dari pendapat seorang ilmuwan besar dari Inggris, James G. Frazer.

Menurut Frazer, manusi biasa memecahkan berbagai persoalan hidupnya dengan akal dan sistem pengetahuannya. Tetapi akal dan sistem pengetahuan itu ada batasnya, dan batas akal itu meluas sejalan dengan meluasnya perkembangan ilmu dan teknologi. Oleh karena itu, makin maju kebudayaan manusia, makin luas batas akal itu.

Dalam banyak kebudayaan di dunia ini, sebagai batas akal manusia itu masih amat sempit karena tingkat kebudayaannya masih sangat sederhana. Oleh karena itu, berbagai persoalan hidup banyak yang tidak dapat dipecahkan dengan akal mereka. Maka mereka memecabkarinya melalui magic atau alam gaip.

Menurut James G. Frazer, magic adalah segala perbuatan manusia untuk mencapai suatu maksud tertentu melalui berbagai kekuatan yang adea di alam semesta serta seluruh kompleksitas anggapan yang ada di belakangnya..

Pada mulanya, manusia hanya menggunakan ilmu gaib untuk memecahkan soal-soal hidupnya yang ada di luar batas kemampuan dan pengetahuan akalnya. Lambat faun terbukd banyak perbuatan magisnya itu tidak ada. hasilnya. Oleh karena itu, is mulai percaya bahwa alam ini didiami oleh makhluk-makhluk halus yang lebih berkuasa dari pada manusia.

Maka mereka mulai mencari hubungan yang baik dengan makhluk-makhluk halus yang mendiami alam itu. Dengan demikian, hubungan balk ini menyebabkan manusia mulai mempercayakan nasibnya kepada kekuatan yang dianggap lebih dari dirinya. Dari sinililah mulai timbul religi.

Menurut Frazer, ada perbedaan antara magic dengan religi. Magic adalah sistem perbuatan dan sikap manusia untuk mencapai suatu maksud dengan menguasai dan menggunakan kekuatan dan hukum-hukum gaib yang ada di alam. Sedangkan agama ( religion ) adalah segala sistem kepercayaan dan sistem perbuatan manusia untuk mencapai suatu maksud dengan cara menyandarkan did kepada kemauan dan kekuasaan Tuhan, makhluk halu, roh, atau dewa dewi yang dianggap menguasai alam. Berbagai macam ritus merupakan cara manusia agar Tuhan berkenan menolongnya dari segala permasalahan hidup.

R. First dalam bukunya, Human Types, mengemukakan perbedaan magic dan religion. Menurutnya, magic adaiah serangkaian perbuatan manusia untuk mengontrol alam semesta, sedangkan religion adalah respons manusia terhadap kebutuhan akan konsepsi yang tersusun mengenai alam semesta dan sebagai mekanisme dalam rangka mengatasi kegagalan yang timbal akibat ketidakmampuan manusia untuk meramalkan dan. memahami kwejadian alam, atau peristiwa yang tidak diketahui dengan tepat.

Referensi :

Universitas Gadjah Mada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.