Lompat ke konten
Kategori Home » Kehutanan » Stabilitas Ekosistem dan Tingkat Suksesi

Stabilitas Ekosistem dan Tingkat Suksesi

  • oleh

Banyak ahli ekologi yang menyatakan bahwa keanekaragaman biota meningkat selama proses suksesi dan ada hubungan yang seiring dengan meningkatnya stabilitas, namun pada saat ini tampaknya sudah dipertimbangkan bahwa mungkin hubungannya tidak begitu sederhana antara keanekaragaman jenis dan stabilitas.

Berikut ini adalah arti dari stabilitas, yaitu:

1. Konstan (constancy). Kurang adanya perubahan dalam beberapa parameter dariekosistem seperti jumlah jenis, bentuk kehidupan dalam komunitas, kenampakan fisik lingkungan.

2. Menetap (persistence). Panjangnya waktu sehingga ekosistem konstan atau mampu memelihara kondisi khusus di dalam ikatan tertentu.

3. Kelembaman (inertia). Kemampuan ekosistem untuk tetap konstan atau untuk tahan dalam menghadapi faktor-faktor pengganggu seperti angin, api, penyakit, serangan herbivora dll.

4. Keuletan (resilience). Stabilitas yang elastik.

5. Kelenturan (elasticity). Kecepatan suatu ekosistem untuk kembali pada kondisi orisinalnya setelah terjadi gangguan

6. Ayunan (amplitude). Luasnya suatu ekosistem dapat dirubah dan masih kembali dengan cepat pada kondisi orisinilnya.

7. Stabilitas sildis (cyclic stability). Property suatu ekosistem untuk berubah melalui rangkaian kondisi yang membawa kembali pada kondisi orisinilnya.

8. Stabilitas lintasan cepat (trajectory stability). Kecenderungan ekosistem untuk kembali pada kondisi final tunggal, setelah gangguan telah merubah kondisi awal menjadi kondisi baru yang beragam. Contohnya pada pemusatan ekologis yang mengikuti suksesi yang retrogesif.

Stabilitas ekosistem akan beragam antara tipe suksesi yang berbeda, antara tingkat suksesi dan antara suksesi primer dan suksesi sekunder. Kelembaman pada stabilitas mesosere akan lebih besar dibanding xerosere atau hidrosere, dan mesosere lebih elastik (untuk kembali pada kondisi klimaks lebib cepat).serta cenderung memiliki stabilitas dengan amplitude yang lebih besar daripada xerosere dan hidrosere. Tingkat awal dari sere primer akan memiliki nilai yang lebih rendah untuk beberapa indek stabilitas daripada tingkat awal dari sere sekunder.

Tingkat seral awal kemungkinan akan lebih stabil dari pada tingkat seral akhir atau klimaks menurut keterangan tersebut. Sewaktu intensitas kebakaran rendah mungkin hanya merusak tingkat seral awal, sedangkan hutan klimaks kemungkinan menjadi relatif tidak berubah karenanya. Di sisi lain, badai angin yang besar menyerang hutan klimaks, mungkin hal tersebut tidak berpengarub terhadap tingkat semak. Kondisi ini diinterpretasikan bahwa tingkat seral awal menjadi lebih stabil dari pada tingkat klimaks.

Banyak pembahasan tetang stabilias ekosistem telah memfokuskan pada struktur ekosistem; komposisi jenis tumbuhan dan susunan spasial, dalam dan komposisi lantai hutan, dsb. Yang terakhir, evaluasi stabilitas lebih diperlebar mencakup fungsi ekosistem. Ekosistem yang memiliki biomas hidup yang lebih besar dan lambat untuk kembali pada kondisi biomas tersebut (yaitu organisme yang besar dan hidupnya panjang) umumnya memiliki stabilitas inertial yang tinggi.

Komponen yang berbeda dari ekosistem daratan mungkin memberikan tipe stabilitas yang berbeda pada ekosistem. Hutan biasanya memiliki lapisan tajuk bawah yang terdiri atas tumbuhan yang hidupnya pendek yang memberikan tingkat kelenturan pada system, sedang lapisan tajuk pohon atas yang hidupnya panjang memberikan stabilitas inertial. Stabilitas inertial dan resiliensi ekosistem hutan kadang-kadang berhubungan dengan heterogenitas spasial dan genetic (yaitu keanekaragaman) biomasa, tetapi hubungan ini sangat kompleks dan sulit untuk di generalisir. Kemampuan suatu ekosistem untuk sembuh dari gangguan mungkin lebih dekat hubungannya dengan kemampuan ekosistem pada proses energi dari pada keanekaragamannya.

Referensi : Universitas Gadjah Mada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *