Lompat ke konten
Home » Arsitektur » Polusi udara

Polusi udara

  • oleh

Keinginan manusia untuk hidup dan bekerja di dalam kota telah menciptakan perubahan kualitas atmosfer urban. Berbagai bentuk polusi udara timbul akibat adanya kegiatan urban, atau kegiatan yang mensuplai kebutuhan kota, seperti pembangkit tenaga  listrik.  Dibawah  kondisi  cuaca  tertentu,  polusi  udara  dapat mencapai tingkat yang membahayakan kesehatan dan kesejahteraan manusia, merusak bangunan, serta merusak atau mematikan tanaman.

Miller (1991) menjelaskan bahwa sebanyak seperempat kematian anakanak dibawah usia lima tahun diseluruh dunia dimungkinkan akibat langsung dari polusi udara. Bahkan di kota Meksiko, sebanyak 45.000 anak di usia tersebut meninggal setiap tahun karena polusi udara. Miller selanjutnya memperkirakan bahwa 60% penduduk Amerika Serikat bernapas dengan udara yang tidak bersih. Lebih jauh lagi, di Amerika Serikat paling tidak 11% sampai 21% penyakit kanker paru-paru disebabkan oleh polusi udara.

Daerah urban hampir selalu diasosiasikan dengan tingkat polusi udara yang tinggi, dan hal inimenggambarkan adanya resiko lebih besar bagi penduduk kota terkena penyakit sistem pemapasan. Sebagai contoh di beberapa kota di Cina, kematian akibat kanker paru-paru empat sampai tujuh kali lebih tinggi daripada di kota-kota lain di dunia; sementara di Calcuta, India, 60% penduduknya menderita penyakit karena polusi udara seperti bronchitis dan paru-paru basah (WCED, 1997).

Polutan udara di perkotaan dapat berasal dari berbagai sumber, terutama dari kegiatan manusia. Sumber polutan terbanyak berasal dari kegiatan-kegiatan yang memakai bahan bakar. Beberapa sumber polutan di perkotaan terlihat pada detail dibawah :

Sumber polutan di daerah perkotaan

  • Emisi (gas buang) industri, pembangkit tenaga listrik;
  • Lalu lintas, termasuk mobil, sepeda motor, truk, bis, yang memakai bahan bakar bensin dan disel;
  • Kegiatan pelabuhan, termasuk emisi dari kapal-kapal besar, perahu motor, kegiatan bongkar muat barang;
  • Kereta api, termasuk emisi kereta api yang memakai tenaga disel dan kegiatan perkereta apian alinnya;
  • Kegiatan rumah tangga, termasuk emisi dari kegiatan memasak, pemanasan dan pendinginan rumah, pemakaian penyemprot rambut, nyamuk, pengharum ruang;
  • Permukaan tanah terbuka, termasuk tanah bekas galian, jalan tanpa

            perkerasan maupun dengan perkerasan yang banyak mengandung polutan partikel;

  • Emisi alamiah dari vegetasi, tanah dan air terbuka;
  • Sumber-sumber Iainnya, seperti pompa bensin, penyimpanan bahan bakar, pendingin dan pemanas kegiatan komersial.

Ada  berbagai  kelompok  polutan  udara,  yang  masing-masing  terdiri  dari berbagai jenis polutan seperti terlihat pada detail diatas, Kelompok polutan udara seperti terlihat di detail diatas adalah penyebab timbulnya berbagai penyakit, sedang akibat dari polutan-polutan yang berupa logam toksik terhadap kesehatan terlihat pada Tabel 10.2. Perlu untuk dicatat bahwa pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, akan menghasilkan semua kelompok polutan. Batu bara masih banyak dipakai sebagai bahan bakar di dunia, baik untuk pembangkit tenaga listrik, industri maupun kendaraan bermotor.

Emisi-emisi COmerupakan penyumbang utama polusi udara, khususnya yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil. Sedang CO merupakan polutan udara terbesar di daerah urban (Singh, 1990). Lebih dari 90% emisi CO berasal dari sektor  transportasi,  terutama  dari  gas  buang  kendaraan  bermotor.  Emisi  CO umumnya lebih terkonsentrasi di pusat-pusat kota dengan kepadatan kendaraan tinggi serta sepanjang jalan raya.

Polutan  udara  yang  berupa  partikel  ukurannya  sangat  kecil  dan  dapat berpenetrasi sangat dalam di paru-paru. Kanker paru-paru dapat disebabkan karena penderita menghirup partikel-partikel asbes, berilium, arsen, krom dan nikel (Miller, 1988).   Selain   berbahaya   bagi   kesehatan   manusia,   polutan   partikel   dapat menyebabkan kerusakan bangunan, patung, pakaian, lukisan dan kendaraan. Sifat asam dari beberapa polutan partikel (terutama garam sulfat dan nitrat) diperkirakan telah merusak dan membuat berkarat bangunan Taj Mahal di Agra, India (Joshi dalam   Naughton   dan   Hunter, 1994).   Sedangkan   tanaman   akan   terganggu melakukan   fotosintesa   apabila   daun-daun   tertutup   oleh   polutan   partikel. Pembakaran bahan bakar fosil oleh industri, listrik, dan kendaraan di berbagai kota besar di dunia seperti London dan Chicago, telah mengakibatkan tertutupnya kota dengan kabut sulfur, terutama dimusim dingin.

Di kota-kota besar di Indonesia, khususnya Jakarta, gas buang kendaraan bermotor merupakan sumber polutan udara terbesar, dan tampaknya dari tahun ke tahun tingkat emisi kendaran tersebut semakin tinggi, sejalan dengan semakin bertambah  banyaknya  jumlah kendaraan  bermotor.  Gambar  10.1 menunjukkan emisi kendaraan bermotor di kota Jakarta yang berupa polutan partikel.

Gas buang kendaraan bermotor di Jakarta

(World Bank, 1994)

Referesensi : Universitas Gadjah Mada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.