Lompat ke konten
Home » Ekonomi » Pengertian Break Even Point (BEP)

Pengertian Break Even Point (BEP)

  • oleh
  • Oktober 1, 2020Oktober 1, 2020

Apa itu Break Even Point ?

Break Even Point adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan. Oleh karena analisa tersebut mempelajari hubungan antara biaya keuntunganvolume kegiatan, maka analisa tersebut sering pula disebut ‘Cost—Profit—Volume analysis” (CPV analysis). Dalam perencanaan keuntungan, analisa break-even merupakan “profitplanning approach” yang mendasarkan pada hubungan antara biaya (cost) dan penghasilan penjualan (revenue).

Apabila suatu perusahaan hanya mempunyai biaya variabel saja, maka tidak akan muncul masalah break-even dalam perusahaan tersebut. Masalah break-even baru muncul apabila suatu perusahaan di samping mempunyai biaya variabel juga mempunyai biaya tetap. Besarnya biaya variabel secara totalitas akan berubah-ubah sesuai dengan perubahan volume produksi, sedangkan besarnya biaya tetap secara totalitas tidak mengalami perubahan meskipun ada perubahan volume produksi.

Adapun biaya yang termasuk golongan biaya variabel pada umumnya adalah bahan mentah, upah buruh langsung (direct labor), komisi penjualan. Sedangkan yang termasuk golongan biaya tetap pada umumnya adalah depresiasi aktiva tetap, sewa, bunga utang, gaji pegawai, gaji pimpinan, gaji staf research, dan biaya kantor.

Karena adanya unsur variabel di satu pihak dan unsur tetap di lain pihak, maka dapat terjadi bahwa suatu perusahaan dengan volume produksi tertentu menderita kerugian, karena penghasilan penjualannya hanya menutup biaya variabel dan sebagian saja dan biaya tetap. Ini berarti bahwa bagian dan penghasilan penjualan yang tersedia untuk menutup biaya tetap tidak cukup untuk menutup biaya tetapnya.

Penghasilan penjualan setelah dikurangi biaya variabel merupakan bagian dan penghasilan penjualan yang tersedia untuk menutup biaya tetap biasanya dinamakan “contribution margin” atau “contribution to fried cost “. Apabila contribution margin lebih besar daripada biaya tetap, berarti penghasilan penjualan lebih besar daripada biaya total, maka perusahaan mendapatkan keuntungan. Berhubung dengan itu maka sangatlah bagi pimpinan suatu perusahaan untuk mengetahui pada volume kegiatan atau volume produksi penjualan berapa penghasilan penjualan dapat tepat menutup biaya totalnya untuk dapat menghindarkan kerugian. Volume penjualan dimana penghasilannya (revenue) tepat sama besar dengan biaya totalnya, sehingga perusahaan tidak mendapatkan keuntungan atau menderita kerugian dinamakan “brek even point”.

Apabila digunakan konsep “contribution margin” maka break-even point akan tercapai pada volume penjualan dimana contribution margin-nya tetap sama besarnya dengan biaya tetap-nya. Oleh karena analisa break-even ini mempelajari perimbangan antara “revenue minus biaya variabel (contribution to fixed cost) di satu pihak dengan biaya tetap di lain pihak, maka sering dikatakan bahwa analisa break even merupakan salah satu alat untuk mempelajari “operating leverage “. Operating leverage terjadi setiap waktu di mana suatu perusahaan mempunyai biaya tetap yang harus ditutup betapapun besar biaya volume kegiatannya. “Leverage” dapat didefinisikan sebagai penggunaan aktiva atau dana untuk penggunaan mana perusahaan harus menutup biaya tetap atau membayar biaya tetap. Ada dua macam leverage, yaitu “operating leverage” dan ‘financial leverage “. Operating laverage bersangkutan dengan penggunaan aktiva atau operasinya perusahaan yang disertai dengan biaya tetap.

Dikatakan bahwa operating leverage itu menghasilkan leverage yang “favorable” atau positif kalau revenue setelah dikurangi biaya variabel (=contribution to fixed cost) lebih besar daripada biaya tetapnya. Bisa dikatakan bahwa operasinya perusahaan yang disertai dengan biaya tetap itu (operating leverage) merugikan atau menghasilkan leverage yang negatif kalau “contribution to fixed cost-nya lebih kecil daripada biaya tetapnya. Dikatakan bahwa operasinya pemsahaan yang disertai dengan biaya tetap itu dalam keadaan breakeven kalau contribution to fixed cost-nya tepat sama besarnya dengan biaya tetapnyasebagaimana telah diuraikan di muka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.