Lompat ke konten
Home » Arsitektur » Pemahaman Tentang Fenomena Perilaku

Pemahaman Tentang Fenomena Perilaku

  • oleh

Pengkajian lingkungan perilaku dalam arsitektur meliputi kajian hubungan antara lingkungan dan manusia dan penerapannya dalam proses perancangan. Beberapa hal yang terkandung dalam kajian tersebut adalah interaksi antara manusia dan lingkungannya dalam skala mikro, meso dan makro. Interaksi yang dimaksud akan menjangkau faktor psikologis baik yang eksplisit (kasat mata/ tangible) dapat maupun yang implisit (tidak kasat mata).

Beberapa definisi perilaku dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Perilaku adalah perasaan atau tindakan individu atau kelompok yang menggambarkan rasa senang, gembira, nyaman, tertekan, sedih, sumpek, stress, kebutuhan privasi, teritori.

b. Perilaku adalah basil interaksi antara desakan atau keinginan yang ada di dalam diri individu atau kelompok dengan situasi atau kondisi settingnya/ lingkungannya.

c. Perilaku adalah mekanisme yang menghubungkan karakteristik dan individu atau kelompok manusia dengan situasi atau kondisi settingnya.

Sebuah model yang dapat digunakan untuk memahami perilaku lingkungan dirumuskan oleh Altman (1975) yang memuat tiga komponen pokok yaitu: (1) seting, (2) kelompok manusia dan (3) fenomena perilaku.

Sistem perilaku lingkungan (environment-behavior systems) dipahami dalam tiga sub sistem yaitu organisasi, individu dan setting fisik. Atribut lingkungan adalah pengalaman yang dipandang sebagai hasil interaksi ketiga sub sistem tersebut. Atribut didefinisikan sebagai nilai ekstrinsik (dari luar) karakter hubungan berbagai hal sedangkan yang lebih mengarah kepada nilai instrinsik adalah properti yang akan menentukan karakteristik.

Weisman (1981) mengemukakan sebuah konsep tentang mekanisme interaksi antara manusia dengan seting fisiknya. Privasi merupakan atribut yang muncul dari kerangka interaksi manusia dengan steing fisiknya yang ditunjukkan pada gambar dibawah :

Gambar : Model Sistem Perilaku-Lingkungan Weisman, 1981

Dari model Weisman di atas terlihat terdapat 3 (tiga) komponen yang berperan penting di dalam sistem perilaku lingkungan yaitu seting fisik, pemakai/ pelaku (individu maupun kelompok) serta fenomena perilaku (privasi, control, ruang personal, kesesakan dan isolasi)

Menurut Weisman (1981) atribut yang muncul dari interaksi dapat dirinci menjadi 12 (dua belas) yaitu,

1. Kenyamanam (comfort) adalah keadaan lingkungan yang memberikan rasa yang sesuai kepada pancaindera dan antropometrik disertai oleh fasilitas-fasilitas yang sesuai dengan kegiatannya. Antropometrik adalah proporsi dan dimensi tubuh manusia serta karakteristik fisologis dan kesanggupan berhubungan dengan berbagai kegiatan manusia yang berbeda-beda. Antropometrik disebut juga sebagai faktor manusiawi yang secara dimensional mempengaruhi perancangan Arsitektur.

2. Sosialitas (sociality) adalah tingkat kemampuan seseorang dalam melaksanakan hubungan sosial di suatu setting. Suatu tingkat di mana manusia dapat mengungkapkan dirinya dalam hubungan perilaku sosial dihubungkan secara langsung pada susunan tempat duduk dan meja di suatu ruang umum. Jarak antar individu, perilaku non verbal seperti sudut tubuh, kontak mata, ekspresi muka akan menunjukkan kualitas sosialisasi.

3. Visibilitas (visibility) adalah kemampuan untuk dapat melihat tanpa terhalang secara visual pada objek yang dituju. Visibilitas berkaitan dengan jarak yang dirasakan oleh manusia. Namun jarak yang dirasakan tersebut bukan hanya jarak secara dimensional/ geometric saja, namun menyangkut persepsi visual di mana manusia merasa ada tidaknya halangan untuk mencapai objek yang dituju.

4. Aksesibilitas (accessibility) adalah kemudahan bergerak melalui dan menggunakan lingkungan. Kemudahan bergerak yang dimaksud adalah berkaitan dengan sirkulasi (jalan) dan visual.

5. Adaptabilitas (adaptability) adalah kemampuan lingkungna untuk dapat menampung perilaku berbeda yang belum ada sebelumnya.

6. Rangsangan inderawi (sensory stimulation) adalah kualitas dan intensitas perangsang sebagai pengalaman yang dirasakan oleh indera manusia

7. Kontrol (control) adalah kondisi suatu lingkungan untuk mewujudkan personalitas menciptakan teritori serta membatasi suatu ruang.

8. Aktivitas (activity) adalah perasaan adanya intensitas padaperilaku yang terus menerus terjadi di dalam suatu lingkungan.

9. Kesesakan (crowdedness) adalah perasaan tingkat kepadatan (density) di dalam suatu lingkugan

10. Privasi (privacy) adalah kemampuan untuk memonitori jalannya informasi yang terlihat dan terdengar baik dari atau di suatu lingkungan. Privasi adalah keinginan atau kecenderungan pada diri seseorang untuk tidak diganggu kesendiriannya.

11. Makna (meaning) adalah kemampuan suatu lingkungan menyajikan maknamakna individual atau kebudayaan bagi manusia.

12. Legibilitas (legibility) adalah suatu kemudahan bagi seseorang untuk dapat mengenal atau memahami elemen-elemen kunci dan hubungan dalam suautu lingkungan yang menyebabkan orang tersebut menemukan jalan atau arah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.