Lompat ke konten
Home » Arsitektur » Paradigma Kultur

Paradigma Kultur

  • oleh

Kegiatan dalam mewujudkan karya-karya interaksi ruang, makna, komunikasi dan waktu yang berfokus pada penataan lingkungan. Penyebab penting dalam penataan tersebut adalah bahwa makna lingkungan didalamnya membantu komunikasi sosial antara orang-orang dengan lingkungan kepada masyarakat melalui kultur masing-masing. Jadi lingkungan melalui ruang dan makna mencerminkan pengaturan komunikasi, sebab komunikasi merupakan faktor penting bersifat temporal dan dapat dianggap pengaturan waktu. Waktu bisa masa lampau, sekarang dan yang akan datang.

Essensi

Pengejawantahan gagasan pengaturan interaksi ruang, makna, waktu dan lingkungan; pertama-tama mengacu kepada alam dengan muatan spiritualis/ religiusitas yang kental, berlandaskan kesadaran yang cair sehingga cenderung berubah dari waktu ke waktu. Perbedaan antara kultur di Barat dan kultur di Timur secara garis besar adalah Barat ingin menguasai alam, sedang Timur ingin menyelaraskan dengan alam. Kultur Barat didominasi oleh pemikiran-pemikiran Yahudi dan Kristen sedangkan kultur Timur lebih banyak didominasi oleh pemikiran-pemikiran Hindu, Budha di belahan bumi India dan Asia Tenggara, bercampur dengan Tao, Lao-Tse, Konghucu di belahan bumi Cina, Korea dan Indocina, di Jepang bercampur dengan Shinto. Islam sebagai agama terkemudian mempengaruhi sebagian besar pemikiran-pemikiran di Mediteranian, Arab, Persia dan sebagian besar Asia Tenggara. Masa pre-Modern peradaban Barat dengan melihat peradaban masa kejayaan Roma masa lalu lebih berkembang dan mulai mendominasi peradaban dunia dan menimbulkan pandangan-pandangan Romantisme, dengan semangat Renaissance. Loncatan kemajuan yang diawali pada Revolusi Industri dengan semangat Renaissance membentuk pandangan yang memiliki perhatian terhadap logika konstruksi, struktur tersembunyi dalam langgam ornamen. Pada masa itu dimulai penemuan-penemuan baru dalam konstruksi seperti pre-fabrikasi dengan penggunaan material-material baru. Motif sejarah lokal menguat, kebebasan individual berkembang menimbulkan pendekatan baru pada disain dan individu, material-material bangunan disintesakan dalam penerapan ornamen dan konstruksi. Kemajuan akibat Revolusi Industri menimbulkan ledakan penduduk dan mendorong penggunaan konstruksi yang tepat serta adaptif dengan mempelajari problem-problem masa lalu. Arsitektur tanpa bentuk tumbuh dalam dunia yang keras, brutal sehingga menimbulkan kebebasan visual.

Pada bagian dunia Timur hanya Jepang yang mampu mengadaptasi pemikiran-pemikiran Barat pada masa pre-Modern. Unsur-unsur Barat itu diimport, dipelajari,ditiru, diserap, dan kemudian diberi jiwa / kehidupan baru, diperbaiki dan dibentuk kembali bentuk akhir yang muncul sebagai elemen yang berkepribadian Jepang. Disini orang tidak bisa lagi membedakan apakah unsur-unsur tersebut berasal dari asing ataukah asli Jepang. Hal tersebut diatas berpengaruh juga pada perkembangan arsitektur Jepang.

Prinsip-prinsip arsitektur Barat telah terpinjam dan diserap sedemikian rupa sehingga masyarakat Jepang pada umumnya telah menganggap dan menerimanya sebagai bagian dari warisan arsitektur nasional mereka. Masa modern faham-faham Sosialisme, Komunisme, Kapitalisme, dan Fasisme saling bersaing dalam memperebutkan hegemoni-hegemoni ideologi dan praktek-praktek ekonomi. Pandangan-pandangan tersebut timbul dengan menaruh perhatian pada suasana persaingan ideologi dan persaingan sumber baku dan pasar bagi industri-industri mereka. Peradaban Barat menguasai Timur dalam suasana universal, pemanfaat teknologi industri berkembang seiring dengan kebutuhan-kebutuhan ekonomi. Harmonisasi antara elemen-elemen modern dengan perubahan sosial ekonomi berkembang.

Kalkulasi waktu menjadi penting dalam kaitan metodologi membangun yang memperpadukan kepentingan teknik konstruksi dan teknik ekonomi. Karya arsitektur tidak hanya cerminan bentuk saja, tapi sudah merupakan cerminan utilitas, komunitas dan komunikasi bangunan. Karya arsitktur sudah merupakan jaringan kehidupan didalamnya. Fantastisme Futuristik yang penuh imajinasi tentang pemanfaatan teknologi mengemuka dalam usulan-usulan arsitektur. Di Barat, fantastisme futuristik tetap tinggal fantasi sedang di Jepang memperoleh banyak pengagum sampai memasuki periode Post-modern.

Arsiteknologi, futurisme dan metabolisme adalah keterpaduan yang tuntas antara perkembangan teknologi modern dengan warisan kultural dan arsitektural dengan label arsiteknologi. Fantasi futurisme lahir karena kemajuan teknologi dan ekonomi telah menciptakan suatu iklim yang merangsang penggunaan building system yang pre-industrialized, pre-fabricated dan pre-packaged dengan pertimbangan utama pada segi-segi ekonomi dan efisiensi serta berkembang menjadi norma estetio yang disepakati bersama. Metabolisme didasarkan pada analogi organis dalam proses biologis untuk pelestarian kehidupan melalui “continuous cycle” dalam pembentukan dan pemusnahan protiplasma.

Dalam berarsitektur istilah metabolism adalah penciptaan lingkungan dinamis yang dapat hidup tumbuh dengan membuang bagian-bagian yang sudah rusak dan melahirkan elemen-elemen baru yang lebih dibutuhkan. Arsitektur dianggap sebagai jasad hidup yang capable dalam bereaksi dengan berbagai tingkat perubahan yang terjadi. Salah satu tujuan metabolisme mengembangkan suatu building system yang dapat mengatasi berbagai masalah-masalah didalam kehidupan masyarakat yang cenderung selalu berubah cepat dan pada saat yang sama cenderung melestarikan tata kehidupan yang sudah mantap / stabil. Gejala-gejala tersebut diatas jauh lebih kuat terjadi di Jepang daripada di negara-negara Barat lainnya sebab Jepang negara kepulauan, berpegunungan, kepadatan penduduk tinggi. Keadaan tersebut telah merangsang penggalian elemen-elemen kunci yang terutama menyangkut “change ability”, „elasticity” dan “flexibility” yang tanggap terhadap dinamika perubahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.