Lompat ke konten
Home » Arsitektur » Paradigma Estetika

Paradigma Estetika

  • oleh

Estetika pada awalnya merupakan salah satu cabang ilmu filsafat, tetapi dalam perkembangan kemudian membuat estetika tidak lagi hanya bercorak filsafat tetapi sudah berkembang lebih luas. Pendapat yang sangat berpengaruh namun saling bertentangan perihal pengungkapan keindahan adalah pandangan dari sudut teori obyektif dan teori subyektif.

Teori Obyektif berpendapat bahwa keindahan adalah sifat (kualitas) yang memang telah melekat pada bendanya (yang disebut) yang merupakan obyek. Ciri yang memberi keindahan itu adalah perimbangan antara bagian-bagian pada benda tersebut, sehingga asas-asas tertentu mengenai bentuk dapat terpenuhi. Teori Subyektif mengemukakan bahwa keindahan itu hanyalah tanggapan perasaan dalam diri seseorang yang mengamati benda itu.

Jadi kesimpulannya tergantung pada penyerapan/persepsi pengamat yang menyatakan benda yang dimaksud itu indah atau tidak. Bangsa Yunani misalnya, sangat peka terhadap keindahan obyektif seperti terlihat pada karya-karya zaman Yunani Kuno. Teori agung tentang keindahan (The Great Theori of Beauty) menerapkan matematika arsitektur Yunani yang dikenal dengan istilah Perbandingan Keemasan (Golden Section).

Perwujudan estetika dalam kaitan keindahan sebagai nilai intrinsik (sifat baik suatu benda), dinyatakan dengan prisip, kaidah-kaidah keselarasan, keseimbangan dan lainnya. Untuk mewujudkan ini digunakan unsur-unsur garis, bentuk, totalitas, warna, tekstur, struktur masa dan ruang. Bentuk sangat berarti dalam penampilan estetika dimana perwujudannya dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah simbol atau lambang sebagai elemen dekorasi. Sejak lama manusia memerlukan identitas baik bagi dirinya maupun bagi benda-benda yang ada disekelilingnya.

Di dalam dunia arsitektur pengenalan simbol merupakan suatu proses yang terjadi pada individu maupun masyarakat. Melalui panca indera (dalam hal ini indera penglihat lebih banyak berperan) manusia mendapat rangsangan yang kemudian menjadi pra-persepsi dan terjadi pengenalan terhadap obyek (fisik) selanjutnya terwujud persepsi, dan persepsi ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman termasuk pengalaman pendidikan yang menentukan tingkat intelektual manusia. Pada hampir dua ribu tahun yang lalu arsitek Roma (Itali) Vitruvius mengemukakan tiga faktor utama dalam arsitektur: venustas, utilitas dan firmistas.

Pada permulaan abad ketujuh belas, penulis Inggris Sir Henry Wotton menterjemahkannya menjadi “commodities”, firmness dan delight” yang kemudian menjadi sebuah ungkapan yang telah lama digunakan sehingga hampir menjadi suatu klise. Ketiga faktor ini selalu ada dan selalu berhubungan satu dengan lainnya secara timbal balik dalam suatu struktur yang baik. Secara naluriah bahwa apapun yang ditentukan terhadap salah satu darinya maka lainnya akan terpengaruh.

Paradigma Estetika mendorong tiga prinsip dari Vitruvius dan Henry Wotton pada sisi „venustas‟ dan „delight‟-nya. Di era Yunani dan Romawi, venustas dijabarkan dalam teori-toeri estetika. Yang paling berkembang dimasa ini adalah Teori Proporsi. Dimasa Renaissance, ditambahi dengan penemuan Teori Perspektif. Bila di Barat ada perkembangan perspektif ini, di Timur berkembang suatu genre geometri yang dikenal sebagai „Arabesque Geometri‟. Namun kemudian estetika menjelma menjadi ornamentasi (yang bahkan berlebihan) seperti di era Barok (Baroque) dan Rokoko (Rococco).

Dimasa yang lebih kontemporer, bosan dengan ornamentasi, delight, menginspirasi untuk melawannya. Kemudian teori-teori estetika mendapat tambahan dari teori-teori geometri dan matematika yang melahirkan bentuk-bentuk murni dari tuntutan struktural namun yang sangat indah dan kaya dengan permainan geometri. Sebagai pengaya, berikut diuraikan beberapa langgam yang berkembang sebagai akibat dari penggunaan paradigma estetika dan teori-teori yang berkembang pada masa-masa klasik.

Yunani

Pada masa Yunani Kuno karya -karya arsitektur yang dikenal dengan langgam Klasik, terdiri dari balok-balok dan kolom-kolom batu. Ekspresinya tampak pada derertan tiang seperti pada Basilika St. Petrus di Roma, kuil Parthenon dan bangunan lainnya di Arcopolis dekat Athena. Sebagai tiang penyangga terdapat tiga jenis kolom yang cukup berperan dalam perwujudan bangunan arsitektur Yunani dengan istilah Dorik Ionik dan Korintian. Kolom Dorik mempunyai tampilan yang terkesan jantan kokoh dan kaku, sedangkan Ionik dan Korintian lebih terkesan feminin, luwes, ornamental dengan dimensi yang lebih langsing. Tetapi secara keseluruhan, paradigma Estetika dalam arsitekturnya lebih essensial, yang sarat oleh kaidah-kaidah dan norma-norma “The Graet Thoery of Beauty” dan “Golden Section”. Romawi Munculnya Kekaisaran Romawi di Italia mempunyai dampak terhadap nilai-nilai budaya dan karya-karya arsitektur di daerah dan wilayah kekuasaannya. Gaya atau langgam Arsitektur Romantis, mempunyai ciri yang berbeda dengan langgam arsitektur Yunani Kuno, ditandai dengan bentuk-bentuk lengkung busur lingkaran pada struktur bagian atas bangunan, dan secara keseluruhan terkesan tidak sehalus arsitektur langgam Yunani Kuno. Sejalan dengan meluasnya daerah kekuasaan Romawi pada masa kejayaan Kaisar Constantin ke daerah Timur, Konstantinopel di Turki menrupakan pusat wilayah kekuasaanya di daerah Timur, dan di wilayah tersebut berkembang budaya Romawi dengan berbagai aspeknya termasuk arsitektur sebagai unsur budaya yang berasimilasi dengan budaya yang memunculkan corak Bizantium. Paradigma Estetika dalam arsitektur Romantis masih sangat mendominasi.

Gothic

Tahap perkembangan arsitektur berikutnya setelah era Romawi dalam arsitektur Kristen tertanam dalam kathedral Gothic. Ciri yang sangat menonjol dari arsitektur Gothic tercermin pada struktur lengkung bersudut pada puncak sebagai upaya untuk mendapatkan proporsi antara ketinggian dengan bentang yang dikehendaki. Dalam arsitektur Gothic meskipun struktur sudah merupakan pertimbangan dalam perancangan khususnya pada struktur atas bangunan, tetapi dalam penyelesaian arsitekturnya, paradigma estetika justru sangat dominan, dimana struktur lengkung runcing dikamuflir dengan ornamen-ornamen vertikal menjulang tinggi. Ide yang diekspresikan dalam bangunan ini merupakan jiwa, roh absolut, bilik dalam Tuhan. Untuk pertama kalinya dalam teori Estetika, ruang dalam yang sekarang terlingkung dalam suatu batas arsitektural, dipahami diidentifikasikan sebagai isi yang diperlukan (Ven, 1974).

Renaisance

Langgam Renaisance dalam arsitektur muncul pada era Renaisance (pembaharuan) yang diawali setelah revolusi humanis, dengan landasan berpikir bahwa manusia mempunyai kedudukan sejajar. Sejalan dengan pola pikir pada masa Renaisance sebagaimana dikemukakan diatas, konsep arsitekturnya mengacu kepada prinsip-prinsip garis horizontal, dengan menanggalkan vertikalisme yang merupakan konsep arsitektur Gothic. Kendati dalam era Renaisance ada pergeseran pola pikir dalam konsep arsitekturnya namun paradigma Estetika tetap mendominasi perwujudannya. Façade bangunan penuh dengan ornamen-ornamen non fungsional bila ditinjau dari fungsi bangunannya, dan ornamen tersebut semata-mata dimaksudkan sebagai pendukung paradigma Estetika. Langgam Baroc dalam arsitektur merupakan penonjolan kedudukan paradigma Estetika dari konsep-konsep dalam langgam sebelumnya. Tampilan bangunan menjadi sangat dekoratif yang penuh dengan ornamen-ornamen non fungsional, sedangkan gaya Rococco merupakan perwujudan arsitektur bangunan ornamentalis yang berlebihan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.