Lompat ke konten
Home » Ilmu Psikologi » Nilai dan Keterbatasan Bibliotherapy

Nilai dan Keterbatasan Bibliotherapy

Nilai Bibliotherapy

Praktisi yang bekerja dengan klien yang mengalami masalah melihat nilai besar dari bibliotherapy. Secara khusus, bibliotherapy dapat membantu klien mendapatkan insight tentang masalah, memberikan klien teknik relaksasi dan diversi, dan membantu klien fokus pada hal-hal di luar dirinya sendiri.

Walaupun salah satu kritik utama terhadap bibliotherapy adalah bahwa bibliotherapy bukan ilmu eksakta, namun banyak praktisi menemukan bahwa bibliotherapy merupakan alat treatment yang efektif. Yang perlu dicatat adalah bahwa hampir seluruh terapi bantuan jauh dari eksak, termasuk bibliotherapy. Bibliotherapy bisa jadi lebih kompleks daripada terapi lain karena seseorang harus terampil baik dalam memilih literatur yang sejalan dengan masalah yang dihadapi klien maupun mengetahui bagaimana menggunakan literatur tersebut sebagai media terapeutik (Pardeck, 1990). Jika seseorang berhasil menyatukan tahap-tahap ini, bibliotherapy dapat terbukti sebagai pendekatan treatment yang sangat berharga.

Bibliotherapy juga dapat digunakan untuk membantu individu meningkatkan hubungan interpersonal. Sebagai contoh, jika klien memiliki masalah dalam hubungan dengan keluarga atau peer, bibliotherapy dapat membantu klien mengembangkan toleransi dan pemahaman terhadap orang lain dan merumuskan pendekatan yang lebih objektif untuk mengatasi masalah. Setelah membaca bagaimana keluarga lain mengatasi masalah, individu dapat sampai pada solusi untuk mengatasi masalah keluarga. Insight penting terhadap masalah ini dapat membawa pada eksplorasi solusi dengan bantuan dari praktisi (Pardeck, 1990).

Bibliotherapy merupakan alat yang sangat baik untuk membantu klien mengatasi hambatan fisik atau emosional. Melalui membaca tentang hambatan (disability) dan perolehan insight tentang bagaimana karakter (tokoh) dalam buku mengatasi masalah yang mirip, klien dapat mengatasi masalah yang berkaitan dengan hambatan (disablity)-nya.

Bibliotherapy juga dipandang sebagai alat preventif. Sebagai contoh, remaja dengan perilaku berlebihan dapat memperoleh insight melalui literatur tentang perilakunya dan menemukan solusi untuk mencegah masalah di masa mendatang. Individu dapat membaca tentang krisis perkembangan yang terjadi dan merumuskan strategi untuk mengatasinya. Remaja seringkali menaruh perhatian yang besar terhadap seksualitas manusia; literatur dapat membantunya mengatasi masalah dan isu yag berkaitan dengan seksualitas.

Keterbatasan Bibliotherapy

Sebagaimana juga dengan sebagian besar pendekatan terapeutik, terdapat keterbatasan dan hal-hal yang harus diwaspadai saat menggunakan bibliotherapy. Keterbatasan bibliotherapy yang paling utama adalah bibliotherapy seharusnya tidak digunakan sebagai pendekatan tunggal terhadap treatment; bibliotherapy lebih sebagai tambahan terhadap treatment (Pardeck & Pardeck, 1984, 1986).

Sebagai sebuah seni, bibliotherapy memiliki sejumlah keterbatasan:

Pertama, campuraduknya dukungan empiris bagi bibliotherapy yang dilakukan melalui fiksi, namun bukti memberikan kesan bahwa nonfiksi, khususnya buku-buku bantu diri (self-help book) dinilai memiliki dukungan ilmiah dalam bibliotherapy.

Kedua, banyak orang yang bukan pencadu membaca; hal ini berarti bibliotherapy memiliki dampak yang terbatas pada kelompok orang ini. Namun dinyatakan bahwa bibliotherapy berhasil dilakukan

terhadap kelompok bukan pembaca melalui buku bicara (talking book) maupun pendekatan inovatif lainnya. Bibliotherapy paling efektif bagi anak dan remaja yang memiliki kebiasaan membaca. Penting untuk diperhatikan orang yang membantu harus mengetahui klien dengan sebaik mungkin untuk menilai tingkat membaca dan minat klien. Jika klien dan helper tidak cocok (match), material bacaan bisa menyebabkan klien frustrasi (Pardeck & Pardeck, 1984).

Ketiga, klien mungkin mengintelektualisasikan masalah saat membacanya. Klien bisa gagal mengidentifikasi diri dengan karakter dalam cerita, yang kemudian memunculkan bentuk proyeksi untuk meredakan klien dari tanggungjawab mengatasi masalah (Pardeck & Pardeck, 1984). Anak- anak dengan usia lebih muda juga masih terbatas dalam perkembangan kognitif, sehingga bibliotherapy mungkin kurang tepat.

Keempat, berbahaya mengandalkan terlalu banyak hal pada buku (Bernstein, 1983). Bibliotherapy tidak dapat mengatasi seluruh masalah, bahkan mungkin meningkatkan rasa takut, defense, dan meningkatkan rasionalisasi atas perubahan. Seseorang harus benar-benar mengingat bahwa bibliotherapy bukanlah pengobatan ajaib untuk semua masalah.

Kelima, kemungkinan bahwa hubungan dengan orang yang membantu bisa menyebabkan teratasinya masalah perlu dipertimbangkan (Zaccaria & Moses, 1968). Sebagaimana pada cara terapeutik lainnya, perlu dimonitor dengan asesmen yang teliti tentang efek dari hubungan terapeutik terhadap masalah klien versus dampak bibliotherapy terhadap masalah klien (Pardeck, 1990).

Dengan memperhatikan keterbatasan-keterbatasan tersebut, praktisi maupun orang yang membantu akan dapat menjadikan bibliotherapy sebagai pendekatan kreatif untuk mengatasi masalah, tidak hanya pada orang dewasa namun juga pada anak-anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.