Lompat ke konten
Home » Sosial Politik » MOTIF AFEKTIF DAN GRATIFIKASI MEDIA

MOTIF AFEKTIF DAN GRATIFIKASI MEDIA

  • oleh

Delapan teori di atas berkenaan dengan aspek-aspek kognitif, delapan teori yang berikutnya berkenaan dengan motif afektif yang ditandai oleh kondisi perasaan atau dinamika yang menggerakkan manusia mencapai tingkat perasaan tertentu.

Seperti di atas, kita akan memulai dengan motif-motif yang ditujukan untuk memelihara stabilitas psikologi dan motif-motif yang mengambangkan kondisi psikologis. Pada kelompok pertama kita masukkan teori reduksi tegangan, teori ekspresif, teori egodefensif, dan teori peneguhan. Pada kelompok kedua kita masukkan teori penonjolan, teori afiliasi, teori identifikasi, dan teori peniruan.

Teori reduksi tegangan memandang manusia sebagai sistem tegangan yang memperoleh kepuasan pada pengurangan ketegangan. Manusia dipandang sebagai makhluk yang mencoba mencapai suasana “nirwana”, orang berusaha menghilangkan atau mengurangi tegangan dengan mengungkapkannya. Tegangan emosional karena marah berkurang setelah kita mengungkapkan kemarahan itu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ungkapan perasaan dipandang dapat berfungsi sebagai

katarsis atau pelepas tegangan.

Menurut kerangka teori ini komunikasi massa menyalurkan kecenderungan destruktif manusia dengan menyajikan peristriwaperistiwa atau adegan-adegan kekerasan. Film kekerasan dalam televisi dianggap

bermanfaat karena membantu orang melepaskan kecenderungan agresifnya. Menuru teori ini, penjahat mungkin tidak jadi melepaskan dendamnya setelah puas menyaksikan pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh seorang jagoan dalam film televisi.

Teori ekspresif menyatakan bahwa orang memperoleh kepuasan dalam mengungkapkan eksistensi dirinya – menampakkan perasaan dan keyakinannya. Latihan yang berat untuk memperoleh keterampilan fisik, misalnya, terasa menyenangkan karena memberikan tantangan untuk menunjukkan kemampuan diri. Komunikasi massa mempermudah onang untuk benfantasi, melalui identifikasi dengan tokoh-tokoh yang disajikan sehingga orang secara tidak langsung mengungkapkan perasaannya.

Media massa bukan saja membantu orang untuk mengembangkan sikap tertentu, tetapi juga menyajikan berbagai macam permainan untuk ekspnesi diri: misalnya teka-teki silang, kontes, novel mistenius, acara kuiz televisi. Teori ego-defensif beranggapan bahwa dalam hidup ini kita mengembangkan citra din yang tertentu dan kita berusaha untuk mempertahankan citra diri ini serta berusaha hidup sesuai dengan diri dan dunia kita.

Kita berpegang teguh pada konsep diri ini karena kita membentuknya dengan susah payah. Bila terjadi peristiwa yang tidak sesuai dengan konsep diri, kita menggunakan makanisme pertahanan ego yang

diuraikan oleh kelompok psikolog dan mazhab psikoalisasis, misalnya rasionalisasi, personifikasi, pembentukan reaksi, dan sebagainya. Teori ini memberikan penjelasan mengapa terjadi perhatian selektif atau pemberian makna terhadap pesan komunikasi yang mengalami distorsi.

Dan media massa kita memperoleh informasi untuk membangun konsep diri kita, pandangan dunia kita, dan pandangan kita tentang sifatsifat manusia dan hubungan sosial.

Bila kita telah merumuskan konsep-konsep tersebut, komunikasi massa membantu memperkokok konsep itu. Pada saat citra diri keemasan kita. Dengan demikian komunikasi massa memberikan bantuan dalam melakukan teknik-teknik pertahanan ego. Teori peneguhan memandang bahwa orang dalam situasi tertentu akan bertingkah laku dengan suatu cara yang membawanya kepada ganjaran seperti yang telah dialaminya pada waktu lalu.

Teori peneguhan memang berasal dan mazhab behaviorisme. Menurut kerangka teori ini, orang menggunakan media massa karena mendatangkan ganjaran berupa informasi, hiburan, hubungan dengan orang lain, dan sebagainya. Di samping isi media yang menarik, peristiwa menggunakan media sering diasosiasikan dengan suasana yang menyenangkan; misalnya menonton televise sering dilakukan di tengah-tengah keluarga dan membaca buku dikerjakan di tempat yang sepi dan tenang, jauh dari gangguan. Menurut teori peneguhan, hal-hal netral yang dikaitakan dengan hal-hal yang menyenangkan menjadi stimuli yang menyenangkan juga.

Teori Pononjolan (assertion) memandang manusia sebagai makhluk yang selalu mengembangkan seluruh potensinya untuk memperoleh penghargaan dan dirinya dan orang lain. Manusia ingin mencapai prestasi, sukses, dan kehormatan. Masyarakat dipandang sebagai suatu perjuangan di mana setiap orang ingin menonjolkan dan yang lain. Dalam bahasa Hobbes, manusia adalah srigala bagi manusia lain (homo hontini lupus).

Dalam konsepsi Alfred, manusia bergerak karena didorong oleh

keinginan benkuasa. Dalam tilikan David McClelland, ini disebutnya hasrat berprestasi (need for achievement). Teori penonjolan yang menekankan motif agresi dan berkuasa memang tidak terlalu berhasil dapat dipuaskan komunikasi massa. Tetapi komunikasi massa- seperti telah dijelaskan di atas — merupakan institusi pendidikan yang menyediakan informasi dan keterampilan yang membantu orang untuk menaklukan dunia Ini memenuhi kebutuhan individu akan keinginan berkuasa.

Di samping itu, komunikasi massa memberikan kesempatan kepada khalayak untuk mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh-tokoh yang berkuasa – baik fiktif maupun factual. Buat kelompok lemah di tengah-tengah masyarakat, fantasi tentang kekuasaan juga mendapat saluran dalam konsumsi media massa.

Teori afiliasi (affiliation) memandang manusia sebagai mahluk yang mencari kasih sayang dan penerimaan orang lain. Ia ingin memelihara hubungan interpersonal dengan saling membantu dan saling mencintai. Dalam hubungannya dengan gratifikasi media, banyak sarjana ilmu komunikasi yang menekankan fungsi media massa dalam hubungkan individu dengan individu lain. Lasswell (1948) menyebutnya fungsi “correlation”.

Asumsi pokok dan Kazt, Gurevitz, dan Hass adalah pandangan bahwa komunikasi massa digunakan individu untuk menghubungkan dirinya – melalui hubungan instrumental.  Afektif, dan integratif – dengan orang-orang lain (diri, keluarga, kawan, bangsa dan sebagainya). Isi media menegaskan kembali fungsi khalayak sebagai peserta dalam drama kemanusiaan yang lebih luas. Tidak jarang isi media massa juga dipergunakan orang sebagai bahan percakapan dalam membina interaksi sosial. Disamping itu, media massa juga dapat menjadi sahabat akrab bagi khalayaknya yang setia.

Teori identifikasi melihat manusia sebagai pemain peranan yang berusaha memuaskan egonya dengan menambahkan peranan yang memuaskan pada konsep dirinya. Kepuasan diperoleh bila orang memperoleh identitas peranan tambahan yang meningkatkan konsep dirinya. Media massa, terutama sekali pada penyajian fiktif dan sampai tingkat tertentu juga pada penyajian faktual, menyajikan orang-orang yang memajukan peranan yang diakui dan berdasarkan gaya tertentu, maka teori identifikasi mempunyai cukup relevansi dengan pemuasan yang diperoleh dan konsumsi media.

Bahkan pada saat isi komunikasi massa tidak secara eksplisit dirancang untuk menampilkan tokoh yang memainkan peranan atraktif (misalnya kisah-kisah berita), media cenderung menggambarkan orang dalam berbagai situasi dramatis yang melibatkan respons-respons menarik dan memperkenalkan khalayak pada berbagai peranan dan gaya hidup, sehingga memberikan bahan alternatif identitas peranan untuk memperkaya konsep diri.

Isi yang bersifat fiktif secara eksplisit menampilkan orang dalam peranan-peranan – yang secara tipikal dirancang untuk dikagumi dan seringkali diwarnai glamor – yang dengan fantasi memudahkan khalayak untuk mengambil peranan pendorong ego (ego enchancing roles) melalui identifikasi dengan tokoh-tokoh. Ketika orang-orang yang disajikan media memainkan peranan “rakyat biasa” (seperti adegan “ibu rumah tangga” dalam serial televisi), penyajian media massa tetap menegaskan dan meninggikan makna peranan-peranan tersebut, yang sebenarnya secara meluas diperankan oleh kebanyakan anggota khalayak.”

Teori peniruan (modeling theories) hampir sama dengan teori identifikasi, memandang manusia sebagai makhluk yang selalu mengembangkan kemampuan afektifnya. Tetapi, berbeda dengan teori identifikasi, teori peniruan menekankan orientasi eksternal dalam pencarian gratifikasi. Disini, individu dipandang secara otomatis cenderung berempati dengan perasaan orang-orang yang diamatinya dan meniru perilakunya.

Kita membandingkan perilaku kita dengan orang yang kita amati, yang berfungsi sebagai model. Komunikasi massa menampilkan berbagai model untuk ditiru oleh khalayaknya. Media cetak mungkin menyajikan pikiran dan gagasan yang lebih jelas dan lebih mudah dimengerti dan pada yang dikemukakan oleh orang-orang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Media piktorial seperti televisi, film, dan komik secara dramatis mempertontonkan perilaku fisik yang mudah dicontoh. Melalui televisi, orang meniru perilaku idola mereka. Teori peniruanlah yang dapat menjelaskan mengapa

media massa begitu berperan dalam menyebarkan mode – berpakaian, berbicara, atau berperilaku tertentu lainnya.

Setelah melacak berbagai teori motivasi, kita dapat menyimpulkan bahwa orang menggunakan media massa karena didorong oleh beraneka ragam motif. Pada setiap orang motif yang mendorong komsumsi media itu tidak sama. Bapak Pasca mungkin menonton televisi untuk mencari informasi sehingga ia hanya menyaksikan acara “Dunia dalam berita” saja. Mpok Minah justru menghindari warta berita yang

dipandangnya sebagai siaran pidato, dan memilih sandiwara radio untuk memuaskan

kebutuhannya akan-hiburan. Bapak Pejabat hanya menonton televisi setelah diberitakan akan disiarkan dalam Laporan Pembangunan; ia ingin melihat permainan peranan yang dilakukannya. Saya sendiri hanya menonton film serial yang sering melukiskan adegan baku hantam dan tembak-menembak; saya tidak tahu apakah dengan cara itu saya menyalurkan temperamen agresif saya.

Menurut aliran uses and gratification, perbedaan motif dalam konsumsi media massa menyebabkan kita bereaksi pada media massa secara berbeda pula. Lebih lanjut ini berarti bahwa efek media massa juga berlainan pada setiap anggota khalayaknya. Kepada pencari informasi, media massa diduga mempunyai efek kognitif yang menguntungkan. Kepada pencari identitas, media massa mungkin menimbulkan efek afektif yang mengerikan. Kepada pencari model, media massa mungkin mendorong perilaku yang meresahkan.

Referensi :

Universitas Gadjah Mada (elisa.ugm.ac.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.