Lompat ke konten
Home » Sosial Politik » Merencanakan dan Mendesain Penelitian Kuantitatif

Merencanakan dan Mendesain Penelitian Kuantitatif

  • oleh

Sumber ide penelitian (atau sebut saja: latar belakang masalah) untuk penelitian kualitatif, seperti tergambar pada bagan sebelumnya, ada bermacam-macam seperti kepentingan individu (personal interests), munculnya peluang (opportunities), kejanggalan-kejanggalan (predicaments), permasalahan public (public problem), prioritas organisasi (organizational priority), serta persoalan teoritik dan disiplin keilmuan (theoretical / disciplinary problem).

Berikut akan dijelaskan sumber ide penelitian tersebut:

1. Personal Interests, Opportunities dan Predicaments

Awal ide suatu penelitian kerap berasal dari pemikiran tentang pelaku, apa yang dilakukannya serta apa yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari. Perhatian personal terhadap hal ini menjadi berarti karena kepentingan dalam kehidupan kemudian dapat dipandang sebagai sasaran untuk sebuah aktivitas penelitian yang sistematik.

Di samping kepentingan personal, sumber ide bisa pula berasal dari sebuah kesempatan atau suatu peluang yang diperoleh. Kesempatan ini teramat beragam bentuknya dengan waktu datang dan bentuk pemunculan yang berbeda-beda.

Sumber lain dapat berasal dari predicaments yang dapat diartikan sebagai keyakinan personal yang secara ideologis bertentangan namun menarik untuk dijadikan subjek penelitian. Menurut Conquergood (1991: 179-194), predicaments (kejanggalan) akan nampak menonjol pada orang-orang yang identitas dirinya bertentangan dengan identitas umum dalam suatu, misalnya, etnik, usia, gender, politik, dan orientasi seksual. Dalam beberapa kasus, predicaments ini bisa menjadi daya tarik tersendiri terhadap permasalahan yang akan dikuak dalam penelitian.

2. Public Problem

Persoalan kemasyarakatan acap kali diangkat ke permukaan oleh kelompok, institusi atau agen-agen perubahan dalam kehidupan di masyarakat. Persoalan publik ini dapat muncul dalam perdebatan publik tentang kebijaksanaan yang diambil (misalnya, pemberlakuan pajak baru), tindakan hukum (misalnya, penggusuran), gerakan sosial (demonstrasi menentang perjudian), kampanye politik, krisis organisasi dan bahkan penolakan terhadap suatu perubahan.

3. Organizational Priority

Untuk kepentingan suatu organisasi, dana penelitian sering dikucurkan pada suatu lembaga penelitian untuk membantu organisasi itu memahami persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Dengan sendirinya, persoalan yang diteliti pun disesuaikan dengan hal-hal yang diprioritaskan atau dipandang krusial oleh organisasi itu.

Persoalannya, seringkali muncul benturan antara kepentingan peneliti dengan hal-hal yang diprioritaskan organisasi itu. Selain itu, kemandirian penelitian sedikit banyak akan terganggu oleh dukungan dana yang diterima peneliti dari pihak luar. Namun demikian, terlepas dari adanya benturan itu, hal-hal yang diprioritaskan suatu organisasi dapat dipandang sebagai sumber ide untuk menjalankan penelitian.

4. Theoretical/Disciplinary Problem

Sumber ide penelitian dapat pula berasal dari suatu persoalan yang sebelumnya kurang terjawab dengan tuntas. Ketidak tuntasan in dapat berasal dari rangkaian teori yang tidak atau belum mungkin terjawab atau bisa jadi justru dari munculnya pemikiran-pemikiran baru setelah suatu penelitian berusaha dilaporkan. Hal ini oleh para peneliti sering disebut dengan “perlu penelitian lebih lanjut dengan … sehingga studi tentang … akan menjadi lebih lengkap.”

Lindlof (1995: 73-74) memberikan daftar persoalan yang terkait dengan problem teoritik dan disiplin keilmuan ini:

  • Ketakkonsistenan atau kontradiksi pada elemen-elemen dari teori yang telah ada. – Kekosongan atau lubang yang ada dalam teori atau pengetahuan.
  • Kebutuhan untuk menerapkan suatu pandangan teori baru.
  • Rentang yang tak tergali tentang cara suatu fenomena muncul dan beroperasi.
  • Kebutuhan untuk menerapkan konsep atau penjelasan yang ada untuk kasus-kasus mendesak.
  • Kebutuhan untuk memperhitungkan kekhususan historis dari suatu fenomena, dan,
  • Kebutuhan untuk melakukan experimen metodologis.

Sumber ide penelitian (latar belakang) ini bisa jadi teramat pendek dan bersifat selintas. Langkah lebih jauh untuk mengatasi hal ini adalah dengan mengembangkan permasalahan yang layak untuk dikaji. Pengembangan permasalahan bisa dilakukan dengan memperkaya sumber ide atau dengan memperberat bobot konseptualnya. Dalam penelitian komunikasi, pendalaman konsep ini bisa dilakukan dengan menggabungkannya pada konsep-konsep di bidang lain yang dipandang relevan.

Relevansi untuk melakukan penggabungan ini dapat dilakukan dengan melakukan tes resonansi. Tiga pertanyaan mendasar yang bisa dipakai untuk melihat relevansi adalah: apakah ide ini bersatu dengan identitas diri peneliti, apakah ide ini sesuai dengan kebutuhan peneliti untuk jangka waktu yang lebih panjang, dan apa yang bisa peneliti harapkan agar bisa melakukan itu (Lindlof, 1995: 80).

Tes resonansi ini menyangkut kesamabangunan identitas (identity congruency) antara peneliti, sumber ide dan hasil pengembangan permasalahannya, kemampuan untuk mengatasi hambatan (interest sustenance) yang diperkirakan muncul dalam pelaksanaan penelitian (bosan, ancaman dan perlawanan sebagai contoh, serta nilai hasil dari produk (yield) bila penelitian itu telah dij alankan.

Bila fase tes resonansi itu dapat terjawab, langkah lebih lanjut yang harus dilakukan adalah melakukan konsolidasi aktivitas. Seperti yang tergambar pada bagan Lindlof di depan, tahap konsolidasi ini menyangkut tiga langkah: persiapan awal, pendalaman literatur dan menghubungi sejawat.

1. Persiapan awal

Persiapan awal dilakukan untuk melihat suitabilitas dan fisibilitas studi yang akan dilakukan yang dalam istilah Lindlof disebut dengan casing the scene. Cara yang biasa dilakukan oleh peneliti adalah dengan mendatangi wilayah atau tempat penelitian yang akan dilakukan, melakukan proses penginderaan (melihat, mendengar, menyentuh, membaui, dan merasakan) atmosfer di wilayah penelitian yang nanti akan dipakainya.

Menghubungi satu atau dua orang yang sudah menjadi bagian di wilayah penelitian, berdialog awal dan ringan dengan penduduk setempat, atau berdiskusi dengan ahli dapat pula dilakukan. Persoalan yang bisa jadi ditemui dalam tahap persiapan awal ini adalah emic (pengetahuan peneliti terhadap situasi yang dihadapi) serta etic (kriteria dari luar yang diambil untuk diterapkan pada scene untuk menambah kemungkinan sebagai subjek penelitian dan mencari kemungkinan untuk masuk ke dalamnya).

Schatzman dan Strauss (1973: 19) menjelaskan alasan bagi peneliti untuk mengenali wilayah penelitian (site) yang akan digarapnya. Pertama, menentukan dengan tepat apakah site ini sesuai dengan kebutuhan substansiailnya (suitability). Kedua, melakukan pengukuran kemampuan dirinya dengan hal-hal yang harus dihadapinya di lapangan (feasibility). Ketiga, untuk mengumpulkan informasi tentang hal-hal yang bisa dipakainya untuk masuk dan bekerja di wilayah penelitian (suitable tactics).

2. Memperdalam Literatur

Langkah yang dilakukan dengan memperdalam literature pada dasarnya diarahkan agar peneliti menjadi familiar dengan domain persoalan yang akan dikajinya. Langkah ini memungkinkan peneliti mengenali setting dan menentukan strategi yang tepat untuk menghadapinya.

Memang terdapat semacam kekhawatiran bahwa memperbanyak literatur akan membuat peneliti terpengaruh dan menjadikannya bias. Namun demikian, pengenalan wilayah penelitian tetap saja diperlukan dan salah satunya adalah dengan membaca sejumlah literatur yang telah terlebih dahulu mengupasnya.

3. Menghubungi Sejawat

Konsolidasi aktivitas dapat dilakukan dengan melakukan tukar pikiran dan informasi dengan kolega untuk tujuan pengembangan proposal. Kepakaran dan pengalaman yang dimiliki sejawat kadang-kadang justru dapat mempertajam dan memperkuat rencana penelitian yang akan dilakukan.

Dengan melewati sejumlah tahap yang dijelaskan di muka, seorang peneliti kemudian mulai dapat menyusun proposal penelitiannya. Bentuk dan isi proposal kemungkinan bervariasi, namun dalam penelitian komunikasi, elemen-elemen yang sering termuat dalam proposal penelitian adalah sebagai berikut (Lindlof, 1995: 91-95):

1. Statement of Purpose

Berisi tentang hal yang akan diteliti dan bagaimana penelitian itu akan dilakukan.

2. Rationale and Significance

Berisi tentang alasan dan nilai penting penelitian itu dilakukan sekarang. Alasan yang dikemukakan bisa diambilkan dari hal-hal di bawah ini:

  • untuk meluruskan kelemahan atau ambiguitas dalam teori dan konsep terdahulu.
  • untuk memvalidasi konstruk
  • untuk menggambarkan lebih dalam suatu proses yang baru sedikit dipahami
  • untuk mendokumentasikan variasi budaya dalam suatu proses atau fenomena
  • untuk menentukan batas suatu teori atau konsep dengan menguji kasus-kasus tertentu
  • untuk menambah informasi yang terkait dengan tujuan, struktur, kebijaksanaan dan proses suatu masyarakat atau organisasi.

3. Conceptual Areas of Study

Dalam penelitian kualitatif, konsep digunakan untuk jembatan masuk ke scene persoalan dan mengeskplorasinya. Konsep hams dikaitkan dengan aspek-aspek historis, cultural dan hubungan sosial dari scene khusus.

4. Hypotheses atau Research Questions

Meskipun jarang dipakai dalam penelitian kualitatif, beberapa hipotesis tentang fenomena memungkinkan peneliti untuk membuat inferensi induktif di lapangan untuk menguji dan memodifikasi hipotesisnya. Research questions lebih sering dipakai dalam penelitian kualitatif. Pertanyaan-pertanyaan penelitian pada dasarnya menerjemahkan konsep dan batasan-batasan istilah yang dikaitkan pada persoalan-persoalan yang ditemui di lapangan.

5. Methodology

Metodologi bisa dipandang sebagai strategi yang menghubungkan tujuan penelitian dengan jenis, rentang dan metode yang dipakai.

6. Protocol and Logistics

Kondisi nyata yang melingkupi penerapan metode disebut dengan protokol. Misalnya, bagaimana cara masuk ke wilayah penelitian akan dilakukan, bagaimana orang-orang akan dikorek informasinya, bagaimana kunjungan observasi dijadwalkan, bagaimana interview guides disusun, dan bagaimana konteks sosial yang ada saat observasi dan wawancara dilakukan.

Sedangkan logistik menyangkut pelaksanaan dan manajemen sumber-sumber dalam proyek penelitian. Hal ini mencakup peralatan audio-visual, komputer, kaset dan disket, fotokopi, biaya transkrip, upah dan tanggung jawab peneliti lapangan, pembayaran untuk subyek penelitian, biaya perjalanan, ruangan kantor, dan proses-proses pembayaran yang dilakukan pihak sponsor atau pendana penelitian.

7. Analysis

Sesungguhnya pada bagian langkah-langkah penelitian dan metodologi sudah menunjukkan cara peneliti dalam menganalisis data. Namun demikian, untuk memudahkan pengguna penelitian, proses pengkodingan dan teknik analisis yang digunakan perlu pula sedikit lebih dirincikan pada bagian ini.

Proposal penelitian yang telah jadi dan berisi bagian-bagian dan disusun atas dasar langkah-langkah seperti yang disebutkan di atas itulah yang kemudian dibawa dan dipergunakan peneliti untuk memulai penelitiannya. Butir-butir penting dalam langkah awal peneliti di wilayah penelitian akan disajikan pada bagian selanjutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.