Lompat ke konten
Home » Kedokteran » Mekanisme Pembelaan yang Mature

Mekanisme Pembelaan yang Mature

  • oleh

Ketika mekanisme pembelaan yang telah diuraikan di atas mekanisme pembelaan yang tidak matang, oleh karena rtu sedapat mungkin harus dihindari. Ada beberapa macam mekanisme pembelaan yang mature, antara lain :

a. Altruisme

Mekanisme  pembelaan  pada  orang  yang  mampu  mengorbankan  diri sendiri untuk kepentingan orang lain tetapi tanpa merugikan diri sendiri. Orang menjalani pengalaman yang dilakukan untuk orang lain dengan cara yang konstruktif dan   secara instinktual memuaskan orang lain. Altruisme termasuk pembentukan reaksi yang ringan dan konstruktif. Altruisme dibedakan dari penyerah altruistik (altruistic surender), di mana penyerah dari pemuasan langsung atau dari kebutuhan instinktual terjadi untuk memenuhi kebutuhan orang lain dengan merugikan diri sendiri dan dimana kepuasan dapat dinikmati hanya melalui introyeksi yang dilakukan untuk orang lain.

b. Antisipasi

Mekanisme pembelaan dengan cara melakukan antisipasi pada masa depan.  Mereka  yang  memakai  mekanisme  ini  mampu  menghadapi kecemasan dengan membuat rencana yang positif. Kecemasan atau ketakutannya diantisipasi dengan cara membuat program yang jelas dan positif.  la  mampu menggunakan  waktu  sebaik-baiknya.  Umumnya kecemasan  yang  dihadapinya  adalah  sesuatu  yang  belum  terjadi. Antisipasi   realistik   atau   perencanaan   untuk   masa   depan   adanya ketidaknyamanan  dalam  diri  berarti  perencanaan  yang  cermat  atau antisipasi afektif yang mengkhawatirkan atau prematur tetapi realistik adanya    kejadian    menakutkan    dan    kemungkinan    hasil    yang mengecewakan.

c. Aseitisme

Mekanisme pembelaan pada mereka yang mampu mengendalikan diri bila mendapatkan   musibah   atau   kegembiraan.   Orang   yang   memiliki mekanisme ini tidak akan terlalu kecewa bila mendapatkan musibah dan tidak akan terialu gembira bila mendapatkan kesenangan. Efek yang menyenangkan dari pengalaman dihilangkan. Terdapat elemen moral dalam menentukan nilai kesenangan tertentu. Pemuasan didapatkan dari penolakan , dan pertapaan diarahkan menentang semua kesenangan dasar yang dirasakan secara sadar.

d. Humor

Mekanisme pembelaan yang ditunjukkan dengan cara membuat humor agar orang lain tertawa. Humor yang dibuatkan selalu humor yang tanpa menyinggung  dan  menyakiti  hati  orang  lain.  Humor  memungkinkan ekspresi perasaan dan pikiran secara jelas tanpa ketidaknyamanan atau imobilisasi pribadi dan tidak menghasilkan efek yang tidak menyenangkan bagi orang lain. Ini memungkinkan orang untuk mentoleransi tetapi masih memuaskan pada apa yang terlalu menakutkan untuk dipikul ; humor berbeda dari kejenakaan, yaitu suatu bentuk pengalihan yan gmengalihkan perhatian dari masalah afektif.

e. Sublimasi

Mekanisme pembelaan yang ditunjukkan dengan kemampuan mengganti dorongan  instink  yang  tidak  baik  dengan  kegiatan-kegiatn  lain  yang bermanfaat (positif). Kecemasan atau kekecewaan yang dihadapi sudah terjadi,  sehingga  harus  dilakukan  sublimasi.  Pemuasan  impuls  dan penundaan tujuan adalah dicapai, tetapi tujuan atau sasaran diubah dari yang mungkin ditolak secara sosial menjadi yang diterima secara sosial. Sublimasi memungkinkan instink disalurkan, bukannya dihambat atau dialihkan . Perasaan dikenali , dimodifikasi, dan diarahkan kepada sasaran atau tujuan yang penting, dan terjadi pemuasan instinktual yang ringan

f. Supresi

Mekanisme   pembelaan   dengan   cara   melupakan   kekecewaan   atau kegagalan yang dihadapi dengan penuh kesadaran . Di sini harus mampu menerima realita dengan ikhlas untuk kemudian melepaskannya. Karena ikhlas  dan  penuh  kesadaran  maka  orang  akan  tetap  berada  dalam keadaan homeostasis, dan dengan demikian orang akan berada dalam keadaan sehat bebas dari simtom-simtom gangguan menal atau bahkan gangguan fisik. Keputusan yang disadari atau setengah disadari untuk menunda perhatian pada terjadinya impuls atau konflik yang disadari. Masalah dapat semata-mata dihalangi, tetapi tidak dihindari. Rasa tidak nyaman adalah dirasakan tetapi ditekan.

Mekanisme pembelaan yang dewasa (mature) ml perlu dikembangkan dan disebar luaskan pada setiap orang karena mekanisme ini akan membawa orang pada kondisi sehat. Memang tidak mudah untuk memiliki mekanisme pembelaan yang  tewasa  ini.  Orang  harus  berlatih  dan  berupaya  dengan  tekun  agar memilikinya. Ada nece-apa cara agar orang mampu bereaksi terhadap stresor yang dihadapinya nengan mekanisme pembelaan yang dewasa . Upaya itu antara lain dengan neiakukan hal-hal sebagai berikut :

Pertama, memusatkan  perhatian  pada  yang  ada,  pada  yang  telah  dimiliki (pekerjaan apabsaja) dan lakukanlah sebaik mungkin. Hindari situasi yang memperburuk keadaan dengan memikirkan hal-hal masa lalu dan menghawatirkan masa depan

Kedua, buatlah daftar masalah yang dihadapi dan pecahkan (selesaikan) setiap masalah itu satu persatu menurut kala prioritas. Atasi dulu satu masalah sebelum menangani masalah lainnya

Ketiga, bila  telah  ditetapkan  suatu  pemecahan  masalah,  maka  lakukanlah dengan segera. Jangan membuang-buang energi dengan was-was.

Keempat, usahakanlah agar hidup ini lebih produktif . Hindari adanya kekosongan waktu, sebab waktu yang kosong itu dapat menambah keresahan dan ketegangan

Kelima, hindari cara berfikir untuk selalu menyalahkan orang lain, sebab hal ini akan  menimbulkan  frustasi  berkepanjangan,  dan  rasa  permusuhan terhadap semua orang yang terlibat.

Keenam, luangkanlah waktu setiap hari untuk beistirahat beberapa saat sebagai usaha untuk menenangkan fisik dan mental. Dalam waktu istirahat ini pikirkanlah  hal-hal yang menggembirakan atau tidak bepikir sama sekali.

Ketujuh, ciptakanlah  rasa  aman  dan  damai  dengan  cara  mempertahankan kebiasaan-kebiasaan yang telah dilakukan sehari-hari. Pertahankanlah hal ini sebaik mungkin, misalnya jam kerja, waktu makan, tidur dan kegiatan-kegiatan lain.

Kedelapan, atasi setiap masalah sebelum masuk tidur . Masalah yang belum ada alternatif pemecahannya atau bahkan masalah yang dapat teratasi akan selalu mengganggu tidur, akibatnya di keesokan harinya tak mungkin bangun dalam keadaan segar.

Kesembilan, biasakanlah untuk menerima dan menghadapi situasi kritis yang mungkin selalu terjadi dan tak mungkin untuk dihindari

Kesepuluh, dalam keadaan kecemasan yang dirasakan terlalu berat, berfikirlah rasional dan carilah pertolongan pada ahlinya (psikiater). Hindarilah berpikir yang irrasional yang dapat membawa pada hal-hal yang akan menambah parah gangguan yang diderita.

Dalam  masyarakat  tradisional,  bila  ada  seseorang  yang  mengalami gangguan baik fisik naupun mental dan belum diketahui penyebabnya maka gangguan yang terjadi itu dihubung-hubungkan dengan ketakutan supernatural, sehingga timbullah seperti stigma. Stigma yang dikaitkan dengan timbulnya gangguan mental karena sebab adanya kekuatan supernatural itu, tidak hanya terdapat  pada  mereka  yang  berpendidikan  tinggi.  Umumnya  mereka  yang mempunyai stigma adalah mereka yang ttdak mempunyai pegangan yang jelas dalah hidupnya, artinya mereka tidak beragama dengan baik . Umumnya mereka mudah gelisah dan bingung, tidak mengerti kemana harus mencari pertolongan

Ada hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu tentang kemampuan seseorang memaki mekanisme pembelaan yang dewasa itu adalah mereka yang terpenuhi kebutuhan dasarnya (terutama dalam masa The Formative of Years) sebagai manusia. Kebutuhan dasar itu sering disebut sebagai basic needs dari Maslow

Referensi : elisa.ugm.ac.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.