Lompat ke konten
Home » Kedokteran » Mekanisme Pembelaan Immature

Mekanisme Pembelaan Immature

  • oleh

Suatu mekanisme pembelaan yang dilakukan dengan sikap kekanak-kanakan (tidak dewasa). Mereka yang menggunakan mekanisme pembelaan ini sikapnya nampak kekanak-kanakan , sikap dan tingkah lakunya seperti anak kecil. Ada beberapa macam mekanisme pembelaan yang immature ini, antara lain :

a.  Acting out

Orang  mengungkapkan  harapan  atau  impuls  bawah  sadar  dengan memerankannya  untuk  menghindari  menjadi  disadari  dari  afek  yang menyertai.  Khayalan  bawah  sadar  dihidupkan  secara  impulsif  dalam perilaku ,  dengan  demikian  memuaskan  impuls,  bukannya  melarang impuls. Memerankan merupakan pengalahan kronis kepada impuls untuk menghindari ketegangan yang akan terjadi dari penundaan pengungkapan

b. Blocking

Mekanisme pembelaan dengan cara berdiam diri atau mematung . Inhibisi sementara   atau   transien   dari   pikiran   terjadi   pada   penghambatan (blocking). Afek dan impuls mungkin juga terlibat. Penghambatan sangat menyerupai represi tetapi berbeda di mana ketegangan timbul jika impuls, afek, atau pikiran dihalangi

c. Hipokondriasis

Mekanisme   pembelaan   yang   dilakukan   dengan   mengalihkan   pada keluhan-keluhan fisik (somasi). Umumnya keluhan fisik yang diungkapkan adalah  untuk  menghindari  tanggung  jawab.  Celaan  yang  timbul  dari kehilangan,  kesepian,  atau  impuls  agresif  yang  tidak  dapat  diterima kepada orang lain adalah diubah menjadi celaan terhadap diri sendiri dan keluhan  nyeri ,  penyakit  somatik,  dan  neurastenia.  Semua  penyakit mungkin  juga  diperberat  atau  ditekankan  secara  berlebihan  untuk mendapatkan penghindaran dan regresi. Pada hipokondriasis , tanggung jawab dapat dihindari , rasa bersalah dapa dielakan, dan impuls instinktual ditangkis. Karena Introyeksi hipokondriakal adalah bertentangan dengan ego, orang yang terkena mengalami disforia dan penderitaan.

d. Introyeksi

Mekanisme pembelaan dengan cara menirukan atau memasukkan obyek yang dicintai. Walaupun penting bagi stadium perkembangan seseorang, introyeksi juga memiliki fungsi pertahanan yang khusus. Proses introyeksi melibatkan internalisasi kualita obyek jika digunakan sebagai pertahanan, ia  dapat  menghalangi  perbedaan  antara  subjek  dan  objek.  Melalui introyeksi suatu objek yang dicintai, kesadaran akan perpisahan yang menyakitkan atau ancaman kehilangan akan dihindari introyeksi objek yang ditakuti berperan untuk menghindari kecemasan jika karakteristik agresif  dari  objek  diinternalisasikan,  jadi  menempatkan  agresi  dalam pengendalian dirinya sendiri.

Contoh klasik adalah identifikasi dengan agresor. Suatu identifikasi dengan korban juga dapat terjadi, dengan jalan mana kualitas menghukum diri sendiri dari objek diambil dan ditegakkan dalam diri seseorang sebagai gejala atau sifat karakter.

e. Pasif-Agresif

Mekanisme pembelaan berupa sikap melakukan pemusuhan dengan cara diam- diam atau secara pasif menyerang orang lain. Agresi kepada orang lain diekspresikan secara tidak langsung melalui pasivitas , masokisme, dan berbalik menentang diri sendiri. Manifestasi perilaku pasif-agresif adalah kegagalan , penundaan , dan penyakit yang lebih mempengaruhi orang lain dibandingkan diri sendiri.

f. Regresi

Mekanisme pembelaan dengan cara bersikap kembali seperti pada waktu fase anak-kanak, sehingga sikapnya tiak lagi sesuai dengan keadaannya sekarang. Melalui regresi, orang berusaha untuk kembali ke fase fungsi libido yang lebih awal untuk menghindari ketegangan dan konflik yang ditimbulkan  pada  tingkat  perkembangan  sekarang.  Ini  mencerminkan kecenderungan dasar untuk mendapatkan pemuasan instinktual pada periode yang kurang berkembang . Regresi juga merupakan fenomena normal,   karena   sejumlah   tertentu   regresi   adalah   diperlukan   untuk relaksasi, tidur, dan orgasme dalah hubungan seksual. Regresi dianggap penyerta yang penting dari proses kreatif

g. Fantasi Skizoid

Mekanisme pembelaan yan diperlihatkan dengan cara melamun. Melalui khayalan, orang menuruti kemunduran autistik untuk memecahkan konflik dan mendapatkan pemuasan . Keintiman interpersonal adalah dihindari, dan  eksentrisitas  berperan  untuk  menolak  orang  lain.  Orang  tidak sepenuhnuya percaya pada khayalan atau ingin memerankannya

h. Somatisasi

Mekanisme pembelaan dengan cara mengalihkan situasi yang dihadapi pada eluhan-keluhan fisik (seperti hipokondriasis) tetapi rasa sakit yang dikeluhkan meliputi badan atau seluruh tubuh. Asal psikis diubah menjadi gejala tubuh dan orang cenderung bereaksi dengan manifestasi somatik bukannya  manifestasi  psikis.  Pada  desomatisasi,  respon  somatisasi infantil digantikan oleh pikiran dan afek pada resomatisasi, orang beregresi kepada bentuk somatik yang febih awal saat berhadapan dengan konflik yang terpecahkan.

i. Identifikasi

Identifikasi yang berperan penting dalam perkembangan ego, juga dapat digunakan  sebagai  mekanisme  pertahanan  dalam  keadaan  tertentu. Identifikasi  dengan  objek  cinta  dapat  berperan  sebagai  pertahanan terhadap kecemasan atau rasa sakit yang menyertai perpisahan dari atau kehilangan objek, baik nyata atau ancaman, jika identifikasi terjadi karena rasa bersalah, orang beridentifikasi untuk menghukum dirinya sendiri dengan kualitas atau gejala orang yang merupakan sumber perasaan bersalah. Mekanisme identifikasi pada agresor, pertama kali dijelaskan oleh   Anna   Freud,   dapat   juga   dimasukkan   sebagai mekanisme pertahanan

j. Proyeksi

Seseorang menempatkan perasaannya dan harapannya sendiri kepada orang lain karena perasaan internal atau afek menyakitkan yang tidak dapat ditoleransi. Secara karakteristik ditemukan pada keadaan psikotik, khususnya sindroma paranoid, proyeksi juga banyak digunakan dalam kondisi normal. Dalam psikosis, proyeksi mengambil bentuk waham yang jelas tentang kenyataan ekstemal, biasanya bersifat waham kej’ar, dan termasuk   persepsi   perasaan   diri   sendiri   kepada   orang   lain   dan memerankan persepsi selanjutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.