Lompat ke konten
Kategori Home » Farmasi » MATURASI SEL T DALAM TIMUS

MATURASI SEL T DALAM TIMUS

  • oleh

Jumlah total spesifisitas sel T untuk antigen yang berbeda dalam suatu individu disebut penyajian sel T. Penyajian sel Th dan sel T sitolitik matur mempunyai dua sifat utama.

Pertama : Antigen dikenal oleh sel T, jika bergabung dengan MHC self. Kedua : Persembahan sel T matur adalah toleran self, keadaan dimana sel dalam individu tidak mengenal molekul MHC self atau antigen yang bergabung dengan MHC self.

Kegagalan mengelola toleran berakibat terjadinya respon imun terhadap antigen jaringan sendiri dan penyakit auto-imun.

Maka dari itu pemahaman bagaimana perkembangan penyajian / persembahan sel  T  matur  adalah  penting  untuk  memahami  spesifisitas  sel  T  dan  dapat membantu kita untuk menguraikan penyakit auto-imun.

Timus adalah tempat utama seleksi dan maturasi sel Th maupun sel Tc. Yang pertama  diduga  penyebab  defisiensi  imunologik  dihubungkan  dengan  tidak adanya timus. Tikus dewasa yang timusnya diambil segera setelah kelahirannya, mempunyai sangat sedikit sel T dalam jaringan limfoid periferalnya dan tidak mampu menyusun respon imun terhadap berbagai macam protein antigen asing.

Pada keadaan cacat bawaan tanpa timus, seperti pada sindrom George manusia atau dalam strain mouse “nude”, yang dikarakterisasi oleh jumlah sel T matur yang sedikit dalam sirkulasi dan jaringan limfoid perifernya dan menderita defisiensi fungsional dalam imunitas yang tergantung sel T (imunitas seluler).

Adanya kenyataan bahwa beberapa sel T fungsional dengan fenotipe matur terdapat dalam individual atimik, diduga bahwa ada tempat maturasi sel T ekstratimik,  tetapi  lokasi  tersebut  belum  diketahui  dan  kontribusinya  untuk perkembangan imunitas sel T agaknya minim.

Lagi pula, meskipun timus jelas merupakan tempat utama maturasi sel T, organ tersebut akan mengkerut bersamaan dengan umur dan sesungguhnya tidak dapat dideteksi pada manusia setelah dewasa.

Meskipun  demikian,  paling  tidak  beberapa  sel  T  matur  melanjutkan selama kehidupan pada masa dewasa. Hal ini, diperkirakan bahwa sisa dari timus yang mengkerut masih mencukupi untuk pematurasian sel T atau ada jaringan lain yang membantu peran timus tersebut.

Karena sel T memori mempunyai kehidupan yang panjang (lebih 20 tahun pada manusia), maka kebutuhan untuk menurunkan sel T yang baru, menurun seiring dengan umur.

Maturasi sel T terdiri dari 3 proses yang saling berdekatan

1. Migrasi dan proliferasi.

Populasi sel pre-T diproduksi dalam sumsum tulang, migrasi melewati timus, dimana beberapa sel distimulasi untuk berkembang dan beberapa mati. Progeni yang hidup, akhirnya kembali ke darah dan jaringan periferal sebagai sel T fungsional.

Sel T imatur yang baru saja timbul dari prekursornya dalam sumsum tulang, berfungsi sesuai dengan keturunan sel T tetapi tidak mengekspresikan TCR atau molekul asesori dan tidak mempunyai kapasitas untuk mengenal antigen  atau  tidak  membentuk  fungsi  efektor. 

Prekursor  ini  meninggalkan sumsum tulang dan masuk ke timus. Mereka imigrasi dari kortek timik ke medula dan akhirnya dilepas sebagai sel T matur masuk ke dalam jaringan perifer.

Selama migrasi intratimik ini, beberapa sel berproliferasi dengan cepat setelah memasuki kortek timik dan beberapa sel mati di dalam kortek. Sel mati tersebut menjamin bahwa hanya sel T matur yang terikat MHC dan yang selftoleran yang keluar dari timus.

2. Diferensiasi.

Fenotipe sel T dewasa berkembang dalam timus. Kompleks TCR dengan CD3   diekspresikan   pada   awal   masa   maturasi   sel   T   intratimik,   setelah pembentukan gena TCR fungsional oleh penyusunan ulang somatik dari segmen gena yang berbeda.

Setelah  kompleks  TCR :  CDS,  permukaan  sel  T  mengekspresikan bermacam-macam molekul asesori yang terjadi selama maturasi timik, beberapa darinya,  termasuk CD4 dan CD8, menjalankan  peran  yang  penting  dalam pengenalan antigen dan aktivasi sel T. Fungsional maturasi, adalah kemampuan untuk membentuk fiingsi helper atau sitolitik, diperoleh secara stimulan dengan, dan sebagian besar tergantung pada, pengekspresian molekul permukaan sel T ini.

3. Seleksi.

Sel matur menyajikan antigen asing spesifik, sel yang dibatasi oleh MHCself diseleksi dalam timus. Secara individual mengandung gena TCR dalam genomnya.  Gena  TCR  ini  dapat  mengkode  reseptor  yang  dapat mengenal beberapa antigen yang berbeda yang bergabung dengan beberapa molekul MHC. Maka dari itu, setiap individu, ketika sel T timbul dari prekursor sumsum tulang, mereka mempunyai kekuatan untuk mengekspresikan reseptor yang dapat  mengenal  antigen  apapun  (asing  atau  self)  yang  bergabung  dengan molekul MHC (asing atau self). Setelah reseptor yang berbeda diekspresikan pada  permukaan  klon  yang  berbeda  dari  sel  T  yang  sudah  berkembang, penyajian dimodifikasi oleh 2 proses seleksi (lihat Gambar ), yaitu :

1) seleksi positif: proses dimana penyajian sel T menjadi dibatasi MHC self yang juga disebut edukasi timik.

2) seleksi negatif: proses eliminasi atau inaktivasi klon autoreaktif yang potensial, untuk memastikan, bahwa sel T matur adalah toleran self. Kedua proses seleksi terdapat pada level perkembangan seluruh populasi sel T, dan karena selektifitas tumbuh atau mati dari individual sel.

Gambar : Seleksi Positif dan Negatif Sel T dalam Timus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *