Lompat ke konten
Home » Ekonomi » Konsep Elastisitas

Konsep Elastisitas

  • oleh
  • Oktober 9, 2020Oktober 9, 2020

Elastisitas menjelaskan seberapa besar perubahan permintaan barang yang diminta jika variabel tertentu dirubah. Beberapa contoh elastisitas adalah

  1. Elastisitas Harga Dari Permintaan  (PRICE ELASTICITY OF DEMAND)
  2. Elastisitas Harga Silang
  3. Elastisitas Pendapatan
  4. Elastisitas lainnya, seperti elastisitas iklan.

Elastisitas Harga dari Permintaan (PRICE ELASTICITY OF DEMAND) Elastisitas ini mengukur seberapa besar jumlah barang yang diminta berubah jika harga barang berubah. Secara formal elastisitas tersebut dihitung sebagai berikut ini.

Elastisitas bisa dihitung untuk dua situasi: (1) kurva permintaan tidak diketahui (arc elasticity), dan (2) kurva permintaan diketahui.

Misalkan jika harga berubah dari 100 menjadi 200, maka kuantitas barang yang diminta berubah dari 2.000 unit menjadi 1.000 unit. Dalam situasi ini kita tidak mengetahui kurva permintaan, karena itu kita akan menghitung arc elasticity, sebagai berikut ini.

Karena semakin tinggi harga akan semakin sedikit barang yang diminta, maka kita akan memperoleh angka negative. Dalam hal ini kita lebih memfokuskan pada besarnya nilai absolut dari elastisitas.

Ada  beberapa  faktor  yang  mempengaruhi  besar  kecilnya  elastisitas,  seperti ketersediaan substitusi, jangka waktu, dan proporsi pengeluaran. Jika suatu barang mempunyai banyak substitusi, maka elastisitas mempunyai kecenderungan tinggi, dan sebaliknya. Sebagai contoh, jika kita ingin menghitung elastisitas harga dari permintaan makan dan tempe (lauk untuk nasi). Perhatikan bahwa makan merupakan kebutuhan yang lebih luas, sedangkan tempe merupakan kebutuhan yang lebih spesifik. Elastisitas makan akan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan elastisitas harga dari tempe. Kenapa demikian? Makan merupakan kebutuhan dasar sehingga tidak ada substitusinya (kita hams makan), sedangkan tempe merupakan kebutuhan yang lebih spesifik yang bisa  digantikan  dengan  mudah  oleh  lauk  lainnya,  missal  tahu.  Jika  harga  tempe meningkat, orang akan dengan mudah pindah ke alternative lainnya, missal tahu. Tetapi jika harga makanan secara umum meningkat, orang akan tetap makan karena alternative substitusinya sedikit. Faktor lain adalah jangka waktu. Semakin lama jangka waktunya, maka ada kecenderungan elastisitas menjadi semakin kecil, dan sebaliknya. Dalam jangka pendek, proses penyesuaian tidak bisa dilakukan dengan cepat dan mudah. Karena itu elastisitasnya menjadi kecil. Sebaliknya, dalam jangka panjang, orang akan bisa melakukan penyesuaian, sehingga elastisitasnya akan menjadi lebih besar. Sebagai contoh, jika harga tempe meningkat, dalam jangka pendek, orang yang mempunyai favorit tempe sebagai makanannya akan sulit meninggalkan tempe. Dalam jangka panjang, is akan berusaha sedikit demi sedikit melepaskan diri dari ketergantungannya terhadap tempe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.