Lompat ke konten
Kategori Home » Arsitektur » Kekuatan dan Kelemahan Model Pemrograman Farbstein dan Kurtz

Kekuatan dan Kelemahan Model Pemrograman Farbstein dan Kurtz

  • oleh

Kekuatan dan kelemahan yang ada pada kedua model dapat menjadi ambigu dalam pengertian kekuatan pada satu sisi dapat . juga menjadi kelemahannya; terutama dalam kaitannya dengan tingkat kompleksitas proyek (fasiilitas) yang dikerjakan.

Namun demikian secara umum kekuatan dan kelemahan model ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

Kekuatan Model Farbstein:

1. Terletak pada urutan tahap pemrograman yang logis, bergerak secara bertahap dan teratur dari hal yang paling sederhana yaitu studi literatur untuk menentukan masalah kemudian menentukan .’kondisi’. pengguna lalu menetapkan kriteria tampilan yang sesuai dengarl tahap sebelumnya, menentukan program-program terpilih serta diakhiri oleh spesifakasi alternatif ruang dalam bentuk set alternatif usulan penyelesaian masalah.

2. Keterlibatan klien dengan urutan tersebut dimungkinkan pemrograman dilakukan secara bersama-sama I dan evaluasimya dilakukan langsung pada tiap tahap.

3. Tidak ada proses perancangan atau disain selama pemrograman dilakukan sehingga produknya akan berupa set alternatif usulan pemecahan masalah yang pada akhirnya memungkin disain tidak tunggal

Kelemahan Model Farbstein:

Model yang berjenjang dan secara tegas memisahkan setiap tahap “tanpa ada” alur feed back (yang) akan memungkinkan setiap tahap berikutnya hanya tergantung dari tahap sebelumnya. Selain itu penetapan masalah tidak merupakan bagian spesifik dan tampaknya hanya terjadi pada tahap ke-dua saja.

Kekuatan Model Kurtz:

1. Adanya proses iterasi yang menunjukan upaya pengkajian tahap-tahap sebelumnya yang tidak sesuai untuk kemudian dilakukan pemrograman ulang

2. Proses iterasi tidak dilakukan sekali tetapi dapat dilakukan berulang dengan demikian menunjukan adanya upaya molakukan feedback.

Kelemahan Model Kurtz:

1. Keteriibatan klien sangat terpisah dengan pemrogram artinya klien hanya bersifat mengevaluasi hasil yang telah dibuat tanpa secara tegas ikut terlibat dalam pemrograman.

2. Landasan penetapan base program tidak tegas dan jelas diperlihatkan sehingga dimungkinkan terjadi penetapan masalah yang tidal: tepat.

3. Adanya proses perancangan dalam pemrogramannya dan basil rancangan menentukan perbaikan program dan final program sehingga hasilnya menjadi rancu dan memungkinkan terjadi disain tunggal dengan kata lain hasil pemrograman hanya berupa penyelesaian bukan set alternatif usulan .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *