Lompat ke konten
Home » Sosial Politik » Ironi Neo-Liberalisme

Ironi Neo-Liberalisme

  • oleh

Dengan demikian kita temukan sebuah situasi yang benar-benar penuh ironi dalam alam neoliberalisme sekarang. Ironi pertama adalah dominasi dari perusahaan multinasional (MNC). Sebagai perusahaan swasta semestinya mereka tunduk kepada otoritas politik tempat mereka berada, justru negara-negara yang mengakui memiliki kedaulatan (sovereignty) malah melepaskannya kepada perusahaan multinasional. Orang-orang yang tidak dipilih oleh rakyat (elected representatives), malah mampu mendiktekan jenis kebijakan yang harus diambil oleh penguasa negara yang mendapat mandat dari rakyat.

Ironi kedua menyangkut negara. Di mana-mana selalu dituntut agar negara tidak lagi memainkan peran dalam ekonomi Negara harus menjalankan kebijakan “laissez faire”, membiarkan mekanisme pasar mengatur produksi, distribusi, maupun konsumsi.

Tetapi, pada saat yang sama, justru muncul organisasi daninstitusi internasional yangtelah disebutkan di atas yang menjalankan survellance. Organisasi-organisasi ini pada hakekatnya telah menjelma menjadi sebuah birokrasi baru yang berskala global, sebuah “supra state”, yang mempunyai jangkauan kekuasaan amat luas, yang lucunya justru dipakai untuk mengawasi pelaksanaan pasar bebas. Muncullah “ekonomi global terpimpin”.

Ironi ketiga adalah tentang pelaksanaan ideologi neoliberalisme itu sendiri. Ideologi ini mengajarkan bahwa masa depan umat manusia akan bertambah ge,ilang jika semua orang dan semua negara setuju menjalankan pasar bebas dan perdagangan bebas.

Ideologi yang dipromosikan oleh negara maju, ternyata dipatahkan oleh negara-negara maju sendiri karena alasan vested interest. Dengan kata lain, lagi merdu perdagangan bebas dan pasar bebas ternyata dijadikan “lagu wajib” bagi negara berkembang, sementara negara maju tetap membentengi diri dengan aneka macam non-tariff barriers maupun aneka subsidi pertanian (Uni Eropa, Jepang maupun Amerika Serikat).

Pada akhirnya yang kita dapatkan adalah bukan kebebasan dan kemakmuran global, melainkan

(1) situasi perekonomian dunia secara umum yang semakin terpuruk;

(2) organisasi internasional yang dimanipulasi habis dan

(3) dominasi negara maju atas negara berkembang mirip kolonialisme abad ke-19. Tiga hal ini kiranya yang memberi inspirasi bagi gerakan yang kini disebut “Anti-globalisasi”, sebuah gerakan yang lahir pada tahun 1999 (di Seattle, Amerika Serikat) dan kini makin mendapat dukungan luas di selurus dunia. Gerakan ini memang baru dan unik karena gerakan ini mempersatukan semua aliran yang secara tradisional terbagai menjadi “kiri” dan “kanan”: buruh, petani, pejuang lingkungan, kelompok feminis, mahasiswa, intelektual, dsb. Pembagian “kiri dan kanan” hilang, semuanya dipersatukan oleh tujuan menentang gagasan ekonomi neoliberal yang dikemas dalam “globalisasi”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.