Lompat ke konten
Kategori Home » Sosial Politik » Hubungan antara Kerumunan Sosial dan Kriminalitas

Hubungan antara Kerumunan Sosial dan Kriminalitas

  • oleh

Telah dikemukakan bahwa kerumunan sosial merupakan sekumpulan orang yang berbeda pada tempat yang sama, adakalanya tidak saling mengenal dan mempunyai sifat yang peka atau sensitif terhadap sugesti atau rangsang dari luar. Unsur penting yang membedakan antara kerumunan sosial dengan kategori sosial adalah bahwa sejumlah hal yang berbeda dalam suatu kerumunan sosial, secara fisik berada pada suatu tempat yang sama, sementara sejumlah orang yang masuk dalam kategori sosial tidak selalu berada pada tempat yang sama, akan tetapi menyebar dimana-mana.

Ciri-ciri lain dari kerumunan sosial, meliputi : (1) Sejumlah orang yang ada di dalamnya tidak selalu saling mengenal ; (2) Sejumlah orang yang berbeda dalam keru munan sosial tidak terorganisasi, tidak memiliki struktur, tidak memiliki kedudukan atau tingkatan : (3) Sekalipun secara fisik berada pada tempat yang sama, namun ikatan batin di antara anggotanya tidak ada atau jika ada, maka ikatan itu sangatlah lemah; (4) Sikap orang dapat masuk dan keluar dalam kerumunan sosial secara bebas : (5) Pada saat berada dalam kerumunan biasanya seseorang akan kehilangan identitasnya, sehingga mereka sangat mudah terkena pengaruh dari luar (Hendropuspito,1989 : 35-36)

Kerumunan dapat dibedakan menjadi kerumunan pasif dan kerumunan pasif. Contoh kerumunan pasif (crowd) adalah sejumlah orang yang sedang menunggu angkut an umum, sedang menonton pertunjukan balap mobil, sedang menonton pertunjukkan dangdut di suatu lapangan dan sebagainya.

Kerumunan aktif masih dapat dibedakan menjadi kerumunan aktif ekspresif dan kerumunan aktif destruktif. Kerumunan aktif ekspresif adalah suatu kerumunan yang aktivitasnya dilakukan dengan maksud sekedar untuk mengemukakan mendapat atau mengekspresikan isi hatinya, seperti pengajuan pendapat atau usulan sejumlah penge mudi anggkutan umum ke kantor DPR, karena perubahan jalur trayek angkutan umumyang dianggap merugikan fihak angkutan umum, sejumlah karyawan yang datang ke kantor pimpinan untuk mengajukan untuk mengajukan usulan kenaikan gaji atau tunjang an dari hari raya dan lain-lain yang semuanya itu dilakukan secara tertib, terarah dan tidak disertai tindakan-tindakan yang serusak. Sedangkan kerumunan aktif destruktif adalah suatu kerumunan yang aktifitasnya disertai dengan tindakan-tindakan merusak seperti: Sejumlah penonton sepak bola yang ketika pulang merasa sulit mendapatkan angkutan umum, kemudian melakukan pengrusakan terhadap setiap kendaraan yang lewat. Sejumlah penonton music dangdut yang merasa dikecewakan penyanyi atau panitia, kemudian melempari panggung dengan batu atau botol dan sejenis tindakan merusak lain yang dilakukan sejumlah orang yang terjadi secara spontan dan tidak terorganisir.

Keberadaan kerumunan ini pada saat tertentu sangatlah dibutuhkan, misalnya sebagai ajang penyampaian iklan, penyampaian pengumunan, penyampaian indoktrinasi, dan lain-lain, yang cukup efisien dan efektif karena proses penyebarannya akan realtif cepat, namun biayanya relatif murah. Sementara itu pada keadaan tertentu kerumunan juga dapat menyebabkan hal-hal yang negatif, mengingat sifamya yang tidak terorganisasi tidak terencana, tidak mempunyai pimpinan dan mempunyai sifat yang peka terhadap pengaruh luar, sehingga jika pengaruh yang masuk itu bersifat dan bertujuan negatif, maka kerumunan dapat membahayakan ketenangan anggota masyarakat yang lain, karena sangat potensial untuk berbuat kriminal..

Berkenaan dengan keadaan itu, untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, maka di dalam kehidupan masyarakat perlu dibuat atau dirumuskan suatu nilai, budaya dan norma social yang dapat dijadikan alat pengaman terhadap terjadinya akibat buruk dari suatu kerumunan, misalnya larangan mengadakan keramaian tanpa ijin dan koordinasi, larangan kegiatan tontonan yang dapat menimbulkan perilaku-perilaku negatif dari suatu masyarakat.

Beberapa ahli ilmu sosial dan sosiologi, memberikan saran bahwa apabila suatu kerumunan dipandang sudah mengarah pada kondisi yang membahayakan masyarakat,maka sistem kontrol perlu diciptakan, misalnya: Penyemprotan air berwarna, penyemprotan gas air mata, atau setidak-tidaknya berusaha menempatkan kegiatan tertentu yang dapat melahirkan kerumunan itu kedalam suatu situasi yang mudah dikontrol. Misalnya jika sejumlah pemuda yang memiliki sepeda motor cenderung melakukan kebut-kebuta di jalan raya, maka perlu .diusahakan agar mereka dapat dialihkan ke tempat yang mudah dikontrol, seperti arena sirkuit atau sejenisnya yang kira-kira dapat digunakan untuk menampung mereka, contoh lain dapat dikemukakan bahwa sejumlah wanita tuna susila yang berkeliaran dan mencari pelanggan ditempattempat umum dan terbuka sedapat mungkin diusahakan agar mereka dapat dilokalisir disuatu tempat yang dapat dikontrol, misalnya diarahkan ke lokalisasi, yang kemudian secara bertahap dibina dan diberi bekal untuk merubah cara hidup mereka kearah yang lebih baik. Jadi sebenarnya lokalisasi bukanlah berarti suatu langkah yang melegalkan tindak prostitusi, akan tetapi hendaknya difahami sebagai langkah jembatan untuk menghindari tindak distruktif yang dapat muncul sebagai akibat dari sebuah ketidak puasan, perebutan langganan dan sebagainya, yang secara bertahap mereka yang telah menghuni lokalisasi dapat diusahakan untuk menuju pada langkah mencari pendapatan yang lebih baik.

Dengan kata lain, terhadap kerumunan ini nampaknya perlu difikirkan mengenai keberadaan norma yang dapat mengatur dan mengusahakan agar keberadaannya tidak mengarah pada tindakan-tindakan yang bersifat distruktif, ingat pada perspektif tindak kriminalitas, khususnya perspektif kontrol sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *