Lompat ke konten
Kategori Home » Farmasi » FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DESAIN RADIOFARMASETIK

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DESAIN RADIOFARMASETIK

  • oleh

Faktor-faktor berikut dibutuhkan untuk membayangkan sebelum, selama, dan sesudah penyiapan dari radiofarmasetik baru.

Kompatibilitas

Bila senyawa berlabel disiapkan, !criteria pertama untuk dibayangkan adalah ya apa tidak label dapat di inkorporasikan kedalam molekul yang dilabel. Misalnya,In Ion  membentuk  ikatan  kovalen  koordinat,  dan  DTPA  juga  senyawa  khelat  yang mengandung nitrogen dan atom oksigen dengan lone paers  elektron yang dapat dicatat untuk membentuk ikatan kovalen koordinat. Maka, bila ionIn dan DTPA dicampur dibawah kondisi fisiko kimia yang sesuai,In-DTPA terbentuk dan masih stabil untuk beberapa lama.

Maka bila ionIn ditambahkan pada bensin atau senyawa yang serupa, tidak akan melabel mereka.  Iodine terutama berikatan dengan group tirosil dari protein. Radionuklida merkuri mengikat gugus sulfhidril dari protein.

Contoh ini menggambarkan titik bahwa hanya senyawa radionuklida spesifik berlabel tertentu, tergantung dari sifat kimia mereka.

Dalam hal senyawamTc-berlabel, sifat kimia danmTc tidak dimengerti secara jelas. Karena kekurang stabilan nuklida dari Technetium, pengertian dari kimiamTc telah dibayangkan hampered.  MakamTc-radiofarmasetik baru dibuat dengan uji coba untuk penggunaan klinik.

Stoichiometry

Dalam penyiapan radiofarmasetik baru, seseorang membutuhkan pengetahuan jumlah dari masing-masing komponen yang ditambahkan. Ini terutama penting dalam tingkat kimia kelumit dan kimiamTc. Konsentrasi darimTc dalammTc-eluat mendekati 10-9 M. 

Walaupun  untuk  reduksi  dan  jumlah  kelumit  dan mTc  hanya  sejumlah equivalen dari Sn’ ditambahkan, seribu sampai sejuta kali lebih dari yang akhir ini ditambahkan pada persiapan untuk menyakinkan reduksi yang komplit. Hal yang sama, agen khelat yang cukup, seperti DTPA, difosfonat, atau metilen difosfonat (MDP), juga ditambahkan untuk menegaskan semuamTc tereduksi. Rasio stoichiometrik dari senyawa yang berbeda bisa didapat dengan menentukan persamaan yang baik untuk reaksi kimia.

Untuk konsentrasi rendah dari semua komponen kadang-kadang bisa mempengaruhi integritas dari penyiapan atau bahkan merusak senyawa.

Muatan molekul

Muatan dari komplek dalam radiofarmasetik menentukan kelarutannya dalam berbagai solven. Muatan yang lebih besar, kelarutan yang lebih tinggi dalam larutan air. Molekul non polar cenderung lebih stabil dalam solven organik dan lipid.

Ukuran molekul

Ukuran molekul dari radiofamasetik adalah determinant penting dalam absorpsinya dalam sistem biologik. Substansi dari berat molekul rendah umumnya tidak diabsorpsi oleh intestin. Molekul yang lebih besar (berat molekul > ~ 60.000 ) tidak tersalin oleh glumerulos dalam ginjal.

Informasi ini pada berat molekul akan memberikan beberapa petunjuk jarak berat molekul dari semua radiofarmasetik yang akan dipilih untuk dipelajari.

Ikatan protein

Hampir semua obat, radioaktif maupun bukan, berikatan dengan protein plasma pada tingkat variabel.

Calon utama untuk tipe ikatan ini adalah albumin, walaupun banyak senyawa terutama berikatan dengan globulin dan protein lain.

Indium, gallium, dan banyak ion metal terikat erat pada transferin dalam plasma. Ikatan protein sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti muatan pada molekul radiofarmasetik, pH, kemurnian dan konsentrasi aninon dalam plasma. Obat kationik, jarang didapatkan, sedikit berikatan dengan protein plasma. Pada pH rendah, protein plasma menjadi lebih bermuatan positif, dan maka dari itu obat anionik mengikat erat pada mereka.

Kemurnian protein, terutama kandungannya hidroksil, karboksil, dan gugus amino dan konvigurasi mereka dalam struktur protein, menentukan perluasan dan tegangan dari ikatannya pada radiofarmasetik.

Adanya anion lain menimbulkan kompetisi dengan radiofarmasetik dalam berikatan dengan protein. Ikatan protein mempengaruhi distribusi jaringan dan kliren plasma dari radiofarmasetik dan pengambilannya oleh organ yang bersangkutan. Maka,  akan menentukan   perluasan   ikatan   protein   dari   beberapa  radiofarmasetik   sebelum penggunaan kliniknya.

Ini dapat di barengi oleh presipitasi protein dengan TCA dari plasma setelah pemberian radiofarmasetik dan kemudian mengukur aktivitas dalam presipitat.

Kelarutan

Untuk injeksi, radiofarmasetik harus dalam larutan air pada pH yang sesuai dengan pH darah (7,4). Tegangan ionik dan osmolilitas dari senyawa juga hams di sesuaikan untuk darah. Dalam banyak hal, kelarutan lemak dari radiofarmasetik adalah faktor penentu dalam lokalisasinya dalam organ.

Membran sel terutama terdiri dari fosfolipid, dan kecuali radiofarmasetik adalah larut lipid, is akan sukar berdifusi melalui membran sel.

Kelarutan lipid yang lebih tinggi dari radiofarmasetik, adalah difusi yang lebih tinggi melalui membran sel, dan maka dari itu lokalisasinya juga lebih tinggi dalam organ. Ikatan protein mereduksi kelarutan lipid dari radiofarmasetik.

Ionisasi obat adalah kurang larut lipid, dimana obat non polar lebih larut dalam lipid dan maka dari itu mudah berdifusi melalui membran sel. RadiofarmasetikIn-oxine lebih larut dalam lipid dan maka spesifik digunakan untuk labeling leukosit dan platelet.

Hg-klomerodrin tidak larut dalam lemak dan maka dari itu difusinya melalui membran sel  terbatas.  Jelasnya,  kelarutan  lipid  dan  ikatan  protein  dari  beberapa  obat memainkan peranan kunci dalam distribusi dan lokalisasi in vitronya.

Stabilitas

Stabilitas senyawa berlabel adalah sate dan problem besar dalam kimia labeling. Ini hams di stabilkan keduanya in vitro dan in vivo. Temperatur, pH, dan efek ringan stabilitas dari beberapa senyawa dan jarak optimal dari kondisi fisiko kimia ini hams ditetapkan untuk penyiapan dan penyimpanan senyawa berlabel.

Biodistribusi

Studi dari biodistribusi radiofarmasetik lebih esensial dalam mengekstabliskan efikasi dan  kegunaannya.  Ini  termasuk  distribusi  jaringan,  kliren  plasma,  ekskresi  urin, ekskresi vekal setelah pemberian radiofarmasetik.

Dalam studi distribusi jaringan, radiofarmasetik diinjeksikan ke dalam binatang seperti marmut, tikus, kelinci, dan anjing.

Kemudian  binatang  dibunuh  pada  interval  waktu  yang  berbeda  dan  organ  yang berbeda diambil. Aktivitas pada organ ini diukur dan dibandingkan. Data distribusi jaringan akan mengatakan sebaik mana radiofarma-setik untuk membayangkan organ yang dimaksud. Kliren plasma yang dihasilkan dari kedua ekskresi win dan lokalisasi dari radiofarmasetik pada organ yang berbeda dan dipengaruhi oleh ikatan protein plasma.

paruh untuk kliren plasma dari mTc-S koloid adalah sebesar 2-3 menit, terutama disebabkan oleh kecepatan ekstraksi dari partikel koloidal oleh fagosit pada liver. Kliren plasma darimTc-DTPA sangat cepat, terutama disebabkan oleh filtrasi glomerular oleh ginjal. Sebaliknya, waktu paruh kliren plasma dariGa-gallium sitrat adalah panjang, dan hampir menggunakan 2-3 hari untuk menggambarkan lesion neoplastik dalam badan

Waktu paruh kliren plasma dari radiofarmasetik dapat diukur dengan mengkoleksi seri sampel darah pada interval waktu yang berbeda setelah injeksi dan mengukur aktivitas plasma. Dari plot aktivitas versus waktu, seseorang dapat menentukan waku paruh untuk kliren plasma dari kelumit.

Ekskresi urin dan vekal dari radiofarma-setik adalah penting dalam evaluasi klinik. Ini terutama penting dalam perhitungan dosis radiasi. Makin cepat ekskresi urin atau vekal, makin lambat dosis radiasi.

Harga ini dapat ditentukan oleh koleksi urin atau feses pada interval waktu tertentu setelah injeksi dan mengukur aktivitas dalam sampel.

Efek dan radiofarmasetik juga hams dievaluasi. Efek ini termasuk kerusakan jaringan disfungsi fisiologi dari organ, dan bahkan kematian binatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *