Lompat ke konten
Home » Farmasi » Efek dari interaksi obat (Skrining Klinis)

Efek dari interaksi obat (Skrining Klinis)

  • oleh
  • September 6, 2021September 6, 2021

Menurut mekanismenya, interaksi obat dapat terjadi baik secara farmasetis, farmakokinetik maupun farmakodinamik. Interaksi farmasetis adalah interaksi yang terjadi saat obat belum sampai ke tubuh, yaitu pada inkompatibilitas fisika dan kimia.

Secara farmakokinetik, interaksi dapat terjadi selama proses absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi. Secara farmakodinamik, interaksi terjadi antara 2   atau  lebih  obat   yang  mengakibatkan  adanya  kompetisi  dalam pendudukan  reseptor  sehingga  meniadakan  salah  satu  efek  dari  obat  yang digunakan.

Contoh interaksi pada proses absorbsi misalnya obat yang satu merubah kecepatan  atau  jumlah  obat  lain  yang  diabsorbsi.  Pada  proses  distribusi, mekanisme   dapat   terjadi   karena   terbatasnya   protein   plasma   darah   yang dibutuhkan oleh obat untuk berikatan.

Pada proses metabolisme, mekanisme interaksi bisa berupa inhibisi atau induksi enzim pemetabolisme obat. Pada proses ekskresi, misalnya suatu obat menyebabkan perubahan pH urin sehingga merubah klirens obat lainnya.

Efek dari interaksi obat:

a.Efek sinergis: 1+1 = 10 (Obat A dan obat B digunakan bersamaan sehingga menghasilkan efek yang jauh lebih besar)

b.Efek antagonis: 1+1 = 1 (Obat A dan obat B diminum bersamaan sehingga efeknya meniadakan salah satu obat)

c.Efek additif: 1+1 = 2 (Obat A dan obat B digunakan bersamaan sehingga memberikan efek ganda).

Kesesuaian dosis, durasi, dan jumlah obat yang diminta

Dalam pengobatan perlu dipastikan bahwa kadar obat selalu berada di atas KEM (konsentrasi efektif minimum) dan di bawah KTM (konsentrasi toksis minimum), sehingga perlu aturan dosis yang mengatur dosis dan jarak waktu pemberian agar obat mencapai konsentrasi terapi sesuai dengan yang dikehendaki. Aturan dosis dapat diberikan dalam tiga dasar kategori:

• Dosis pemeliharaan, yaitu pada konsentrasi efektif. Efek obat harus selalu terpelihara pada jendela terapi.

• Dosis terapi pada periode waktu tertentu. Dosis yang diberikan hanya dalam waktu  tertentu  tingkat  terapi  yang  diinginkan,  seperti  pada  pemberian antibiotika terhadap pengobatan infeksi dan obat-obat dengan t/2pendek.

• Dosis tunggal atau terapi jangka pendek. Dosis ini diberikan pada keadaan efek obat yang diinginkan hanya untuk sesaat, seperti pada pengobatan simptomatik.

Beberapa faktor yang memengaruhi dosis:

• Usia

bayi dan anak-anak sangat peka terhadap obat karena fungsi hati, ginjal, dan sistem enzimnya belum sempurna. Begitu juga pada orang tua karena fungsi hati dan ginjal yang telah menurun. Dosis untuk orang tua:

  • -74 tahun:           dosis biasa – 10%
  • – 84 tahun:   dosis biasa – 20%     
  • > 85 tahun:         dosis biasa – 30%

• Bobot badan

• Luas permukaan badan

• Jenis Kelamin

• Beratnya penyakit

Karena banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam memberikan dosis, perlu dicek kembali apakah dosis yang diminta di resep sesuai dengan dosis lazim anak atau dewasa, dan tidak melebihi dosis maksimal sesuai usia pasien. Dosis lazimadalah jumlah obat yang sering digunakan dan merupakan dosis terapi. Dosis maksimaladalah jumlah maksimal obat  yang dapat diberikan tanpa menimbulkan efek toksis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.