Lompat ke konten
Home » Sosial Politik » DALIL SOSIOLOGI PENGETAHUAN DALAM TEORI POLITIK

DALIL SOSIOLOGI PENGETAHUAN DALAM TEORI POLITIK

  • oleh

Untuk membahas masalah sosiologi pengetahuan ini, akan diawali dengan sebuah cerita. Di sebuah negara totaliter, seorang pejabat negara datang menemui seorang petani miskin. Dia ingin menguji kadar patriotisme warganya ini. Mulailah dia dengan pertanyaan:

“Saudara, apakah anda rela mengorbankan tanah anda untuk negara?”

“Slap,” jawab si petani.

“Bagaimana dengan rumah anda?”

“Slap!”

“Tentunya anda juga rela mengorbankan ayam dan itik anda untuk kepentingan negara?”

“Tidak!”

Si pejabat terperanjat. Dengan penuh keheranan, dia lalu bertanya:

“Lho, mengapa tidak?”

Si petani miskin dengan tenang menjawab;

“Karena saya memiliki ayam dan itik.

Kisah diatas menunjukkan bahwa pemikiran seseorang tidak bisa dilepaskan dari eksistensi kehidupannya. Pemikiran seseorang tidak terlepas dari apa yang dia miliki di dunia ini, dari apa yang dia cintai, dari apa yang menjadi kepentingannya. Pemikiran seseorang menentukan pengetahuannya. Antara pengetahuan seseorang dan eksistensinya sebagai manusia terdapat hubungan yang erat. Kenyataan inilah yang menjadi pusat perhatian dari sebuah cabang sosiologi modern yang dinamakan sebagai Sosiologi Pengetahuan. 3

Sosiologi Pegnetahuan merupakan sebuah ilmu yang antara lain dirintis oleh Karl Nabbheim. Dalam bukunya menjadi klasik, Ideology and Utopia. An Introduction to the Sociology of Knowledge yang terjemahannya sedang anda baca. Mannheim mengatakan:

“Sosiologi Pengetahuan adalah salah satu dari cabang-cabang ini berusasha menganalisis kaitan antara pengetahuan dan eksistensi; sebagai riset sosiologis-historis, cabang ini berusaha menelusuri bentuk-bentuk yang diambil oleh kaitan itu dalam perkembangan intelektual manusia”.

Sudah sangat lama terdapat anggaran bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuan di mana tidak terdapat hubungan antara subyek yang mengetahui dan obyek yang diketahui. Dengan demikian, masalah pengetahuan manusia adalah bagaimana cara menangkap fakta obyektif, yang menunggu di luar subyektivitas manusia, tanpa dicampuri unsur subyektivitas ini. Katanya, hal ini bisa dicapai kalau kita menggunakan cara berfikir yang logis dan ilmiah. Kalau aturan-aturan cara berfikir logis dan ilmiah ini diikuti dengan ketat pengetahuan yang obyektif bisa diperoleh.

Dengan demikian, perdebatan ilmu pengetahuan berkisar pada apakah pengetahuan yang ada pada manusia merupakan pengetahuan yang obyektif atau tidak, dan bagaimana mencapai pengetahuan yang obyektif ini memalui metodologi berfikir yang benar. Hanya pengetahuan yang obyektiflah yang bisa bersifat absolut dan universal, artinya benar untuk segala zaman dan segala tempat.

Tapi, kalau pengetahuan manusia sudah dicampuri oleh perasaan, kepentingan, dan faktor-faktor subyektif lainya dari individu sipemikir, pengetahuannya sudah tidak bisa bersifat absolut dan universal, karena sifatnya yang subyektif. Pengetahuan yang memang dipakai (sadar atau tidak) untuk menipu orang demi kepentingan si pembuat atau penganut ideologi tersebut. Ideologi adalah pengetahuan yang subyektif, dan karena itu, salah.

Bagi Sosiologi Pengetahuan, persoalannya tidaklah sederhana ini. Pertanyaan yang diajukan: Dapatkah pengetahuan manusia dilepaskan dari unsur subyektivitasnya: Sosiologi Pengetahuan menjawabnya dengan jawaban yang negatif. Pengetahuan manusia tidak bisa lepas dari subyektivitas individu yang mengetahuinya. Pengetahuan dan eksistensi merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Semua manusia akan menangkap realitas berdasarkan perspektif dirinya. Latar belakang sosial dan psikologi individu yang mengetahui tidak bisa ditepaskan dalam proses terjadinya pengetahuan. Kata Mannheim: “Ringkasnya: pendekatan pada suatu masalah, pada tahap abtraksi dan tahap kekonkretan yang diharapkan orang untuk mencapai, semuanya dan dengan cara yang sama terkait dengan kehidupan sosial”.

Dengan demikian, daripada kita terlibat pada perdebatan yang mana di antara dua pendapat yang merupakan pendapat yang benar (yang obyektif), lebih baik kita menjelaskan hubungan antara pengetahuan tersebut perspektif psikologi dan sosial dari manusia yang memproduksi pengetahuan tersebut. Pengertian kita akan jauh bertambah tentang permasalahannya bila kita mengetahui hubungan – hubungan yang ada antara pengetahuan manusia dan eksistensinya.

Tapi, apakah kita tidak akan terjebak kepada relativisme kebenaran pengetahuan? Relativisme kebenaran pengetahuan terjadi, kalau kita mempunyai asumsi bahwa ada kebenaran absolut. “Pernyataan itu menjadi relativisme hanya bila terkait dengan cita-cita statis kuno tentang kebenaran-kebenaran abadi yang tidak memiliki perspektif yang indenpenden dari pengalaman subyektif pengamat, dan bila nilai dengan cita-cita kebenaran absolut yang asing ini”.

Tapi, kalau kita hanya mau melukiskan kesaling-terhubungan antara pengetahuan dan perspektif si pengamat, yang terjadi bukanlah relativisme, melainkan relasionisme. Pengertian kita tentang relasi atau kesaling-hubungan antara perspektif si pengamat dan pengetahuannya merupakan sebuah pengetahuan yang sangat berguna. Seperti yang dinyatakan oleh Mannheim:

Dalam kasus pikiran yang dikondisikan secara situasional, obyektivitas bisa berarti sesuatu yang sangat baru dan berbeda:

1. Pertama-tama ada fakta bahwa sejauh pengamat-pengamat yang berbedabeda tenggelam di dalam sistem yang sama, atas dasar identitas peralatan konseptual dan kategorial mereka dan memalui semesta pembicaraan bersama yang dengan cara itu diciptakan, akan sampai pada hasil-hasil yang sama, dan

akan berada dalam suatu posisi untuk menghapus segala sesuatu yang menyimpang dari: kesepakatan ini sebagai suatu kesalahan:

2. dan akhir-akhir ini ada suatu pengakuan atas fakta bahwa bila para pengamat mempunyai perspektif yang berbeda-beda, “obyektivitas” dapat dicapai hanya dalam suatu cara yang tidak langsung. Dalam kasus ini, apa yang sudah diketahui secara betul tapi berbeda-beda oleh kedua perspektif itu harus dimengerti dalam terang perbedaan-perbedaan dalam struktur bentuk-bentuk persepsi yang berbeda-beda ini. Haruslah dibuat suatu usaha untuk menemukan sebuah rumusan untuk menerjemahkan hasil-hasil yang satu ke dalam hasil-hasil perspektif yang lain dan untuk menemukan suatu nama yang sama untuk tilikan-tilikan perspektivistis yang berbeda-beda ini. Sekali suatu nama bersama seperti itu ditemukan, mungkinlah memisahkan perbedaanperbedaan yang mencolok dari kedua pandangan dari unsur-unsur yang diketahui dan disalahartikan semau-maunya yang di sini pun harus dianggap sebagai kesalahan-kesalahan.

Justru, demikian Mannheim, dengan menyadari perspektif yang berbeda

dari masing-masing pengamat pengetahuan, kita bisa sampai kepada suatu persetujuan, tanpa menyatakan pengetahuan siapa yang secara obyektif dan absolut lebih benar. Inilah yang merupakan sumbangan besar dari ilmu sosial muda yang disebut sebagai Sosiologi Pengetahuan.

Proses munculnya suatu pengetahuan atau pemikiran, menurut dalil Sosiologi Pengetahuan sangat berkaitan dengan latar belakang sosial dari individu, psikologi/pengalaman hidup individu, dan peristiwa besar yang terjadi pada kehidupannya. Prinsip ini sangat relevan untuk menjelaskan substansi sebuah teori dan pemikiran politik.

Teori-teori dan pemikiran John Locke banyak yang terbangun melalui prinsip dalil Sosiologi Pengetahuan ini.

Untuk memahami pemikiran Locke kita perlu memahami latar belakang kehidupan dan zamannya. Locke dilahirkan 29 Agustus 1632 di Wringron, sebuah desa di Somerset Utara, Inggris Barat. Ayahnya pengacara yang tidak begitu kaya. Masa- masa kecil Locke di Inggris, seperti juga yang dialami Hobbes, adalah masa tragis dan ironis, Inggris sebagaimana banyak negara Eropa abad XVII dilanda perang saudara dan perang agama antara kaum Protestan dan Katolisme. Misalnya, ketika ia berumur 10 tahun, terjadi perang antara kaum Puritan dengan Raja Charles I. Ayah Locke berpihak pada kaum Puritan. Manusia sating membantai dan membunuh sesamanya, tak peduli yang dibunuh itu saudaranya atau bukan. Tragedi itu membuat Locke terguncang jiwanya sebab

Sebagaimana ia merasakan langsung akibat-akibat perang itu. Dan tragedi masa kecil itu memberikan banyak pelajaran berharga bagi Locke. la mulai memahami betapa pentingnya penghargaan terhadap kebebasan, demokrasi, pembatasan kekuasaan dan toleransi agama.

Ketika tinggal di Wescminster, Locke dididik oleh guru-guru yang berhaluan politik Royalis, musuh kaum Puritan. Raja Charles digulingkan oleh kaum Puritan. la kemudian dieksekusi. Eksekusi itu membangkitkan simpati banyak kalangan muda termasuk Locke, terhadap kaum Royalis. Sosialisasi Locke dalam keluarga Calvinis (Puritan) dan pengaruh pendidikan Royalis membuat Locke beruntung mampu mengambil manfaat dari keduanya. Ketika berusia 20 tahun Locke memasuki Universitas Oxford dan mulai berkenalan dengan Edward Baghshave yang aktif mempropagandakan toleransi agama, kebebasan politik, dan hak-hak alamiah, suatu gagasan yang kemudian dilekatkan pada Locke.

Locke menyerang gagasan-gagasan liberalisme Baghshave melalui tulisan-tulisanya di tahun 1661, Locke, yang ketika itu masih berfikir konservatif, menilai bahwa penguasa sipil memiliki hak untuk memaksakan konformitas demi terbentuknya suatu tatanan keagamaan dalam masyarakat. Keduanya berdebat dan berpolemik panjang. Baghshave gagal mempertahankan pandangan liberalismenya. la kemudian diusir dari tempat tinggal di Chrirst christ dan meninggal dunia tak lama setelah itu. Setelah koleganya itu meninggal dunia, terjadi transformasi intelektual pada Locke. Perlahan tapi pasti, ia mulai menyetujui gagasan-gagasan 3aghshave.

Tokoh lain yang mempengaruhi Locke adalah Anthony Ashley Cooper yang dijumpainya di musim panas 1666. Cooper, yang kemudian menjadi The First Earl Shofresbury, adalah liberal terkemuka dan pembela gigih toleransi agama dan

kebebasan individual. Persahabatan Locke dengannya demikian akrab terbukti kemudian ia tinggal di rumah sahabatnya itu di London. Di masa inilah Locke menjadi tutor di Christ Church mengajar filsafat tradisional Aristoteles yang dianggapnya hanya membuang-buang waktu. Di masa ini pula Shafresbury memperkenalkan Locke dengan studi ekonomi dan melibatkannya mengelola pemerinatahn serta menumbuhkan minat Locke pada kajian teori-teori politik. Wawasan intelektual Locke pun semakin Was.

Locke berhenti mengajar filsafat Aristoteles dan mulai mempetajari filsafat Descarres dan metode Cartesian yang amat berbeda dengan aliran pemikiran yang diketahui sebelumnya. Ia mendiskusikan berbagai persoalan filsafat dengan Shafresbury dan koleganya yang lain. Dari diskusi-diskusi ini mulai ia terdorong untuk menulisnya gagasan-gagasannya. Karyanya, An Essay Concerning Human Understanding yang diselesaikannya 1687 dan dipublikasikan pada tahun 1690 merupakan produk awal dari diskusi-diskusi dengan Shafresbury dan kolegakoleganya. Sejak itu ia mulai tertibat dalam kegiatan politik Inggris.

Shafresbury dan Locke dituduh terlibat aksi pemberontakan menumbangkan kekuasaan raja Inggris dan penghujatan terhadap agama. Tuduhan itu membuat keduanya harus mengungsi ke negeri Belanda, 1683. Keharusan untuk mengungsi tidak membuat Locke berhenti berfikir, berdiskusi dengan sahabat-sahabatnya, dan menulis. Ia terus menulis gagasan-gagasannya. Maka tidak mengejutkan bila masa-masa pengungsian itulah (1687-1689) lahir katya-karya besarnya seperti Two Treatises of Government (1690), A Letter on Toleration (1689), dan Some Thoughts Concerning Education (1693).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.