Lompat ke konten
Home » Sosial Politik » Beberapa Teori Komunikasi Massa

Beberapa Teori Komunikasi Massa

  • oleh

1. Hypodermic Needle Theory

Disebut juga teori jarum hipodermik (hypodermic needle theory) atau teori peluru. Peluru diibaratkan sebagai sebuah pesan yang ditembakkan dan langsung mengenai sasaran. Audience, anggota dari masyarakat dianggap punya ciri khusus yng seragam dan dimotivasi oleh faktor biologis dan lingkungan dan mereka mempunyai sedikit kontrol. Tidak ada campur tanggan diantara pesan dan penerima artinya pesan yang sangat jelas dan sederhana akan jelas dan sederhana pula direspon.

2. Cultivation Theory

Dikenalkan oleh profesor George Gerbner. Gerbner berpendapat bahwa media massa menanamkan sikap dan nilai tertentu. Media pun kemudian memelihara dan menyebarkan sikap dan nilai itu antar anggota masyarakat kemudian mengikatnya bersama-sama pula.

Gerbner menekankan pada televisi sebagai media dan fungsi simbolik dalam konteks budaya. Hal ini kemudian mendatangkan kritik bahwa Gerbner terlalu menyederhanakan masalah. Perilaku manusia sangat bisa dipengaruhi media lain selain teleyisi, juga oleh pengalaman langsung dan pengaruh orang-orang yang sating berhubungan. Para penganut teori kultivasi cenderung memandang sebelah maw adanya dinamika sosial di dalam memanfaatkan siaran televisi.Faktor interaksi seperti tahap pembangunan, pengalaman menonton, pengetahuan, etnis, jenis kelamin, suasana menonton, sikap dan kondisi sosial ekonomi yang berpengaruh pada interpretasi.

3. Cultural Imperialism Theory

Dikemukakan oleh Herb Schillier (1973). Tcori imperalisme budaya menyatakan bahwa negara barat mendonimasi media di seluruh dunia. Alasannya media barat mempunyai efek yang kuat untuk mempengaruhi dunia ketiga. Dominasi ini disebabkan karena dunia barat mempunyai kekuatan pada uang dan teknologi.

4. Media Equation Theory

Dikemukaan oleh Byron Reeves dan Clifford Nass. Media Equation Theory’ atau teori persamaan media ingin menjawab persoalan mengapa orang-orang secara tidak sadar dan bahkan secara otomatis merespon apa yang dikomunikasikan media seolah-olah media itu manusia. Dengan demikian menurut asumsi teori ini media diibaratkan manusia. Teori ini memperhatikan bahwa media juga bisa diajak berbicara seperti halnya dalam komunikasi interpersonal. Media bahkan dianggap seperti kehidupan nyata (media ang real life are the same).

5. Spiral of Silence Theory

Pertama kali dikenalkan oleh Elizabeth Noelle-Neumann. Teori ini ingin menjawab pertanyaan mengapa orang-orang dari kelompok minoritas sering merasa perlu untuk menyembunyikan pendapat dan pandangannya ketika berada dalam kelompok mayoritas bahkan kadang mengubah pendiriannya. Kajian ini menitikberatkan pada peran opini dalam interaksi sosial. Opini publik sebagai sebuah isu kontroversial akan berkembang pesat manakala dikemukaan lewat media massa. Ini berarti opini publik orang- orang juga dibentuk, disusun, dikurangi oleh peran media massa. Opini yang berkembang pada kelompok mayoritas, dan kecenderungan seseorang untuk diam (sebagai basis dasar teori ini) karena is berasal dari kelompok minoritas juga bisa dipengaruhi oleh media massa.

6. Technological Determinism Theory

Dikemukaan oleh Mashal McLuhan tahun 1962. Ide dasar teori ini adalah bahwa perubahan yang terjadi pada berbagai macam cara berkomunikasi akan membentuk pula keberadaan manusia itu sendiri. Teknologi membentuk individu, bagaimana cara berpikir, berperilaku dalam masyarakat. Ada beberapa tahapan yang dikemukakan yaitu, pertama penemuan dalam teknologi komunikasi menyebabkan perubahan. Kedua perubahan di dalam jenis-jenis komunikasi akhirnya membentuk kehidupan manusia. Ketiga, manusia membentuk peralatan komunikasi dan akhirnya peralatan komunikasi yang digunakan tersebut membentuk dan mempengaruhi manusia.

7. Diffusion of Innovation Theory

Dikemukakan oleh Paul Lazarfeld, Bernard Berelson, dan H. Gaudet pada tahun 1944. dalam teori ini dikatakan bahwa komunikator yang mendapat pesan dari media massa sangat kuat untuk mempengaruhi orang-orang. Dengan demikian ketika ada inovasi (penemuan), lalu disebarkan (difusi) melalui media massa akan kuat mempengaruhi massa untuk mengikutinya (adopsi).

8. Uses and Gratification theory

Pertama kali dikemukaan oleh Herbert Blumer dan elihu Katz tahun 1974. Teori ini mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan madia tersebut. Dengan kata lain pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenuhi kebutuhannya, artinya teori Uses of Gratifications mengasumsikan bahwa pengguna mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya. Teori ini berkebalikan dengan teori peluru yang memandang media sangat aktif dan powerfull sementara audience berada di pihak yang pasif.

9. Agenda Setting Theory

Teori ini diungkapkan oleh Maxwell McCobms dan Donald L. Shaw pada tahun 1973. Teori ini mengatakan bahwa media, khususnya media berita tidak selalu berhasil memberitahu apa yang kita pikir, tetapi media tersebut benar-benar berhasil memberitahu kita berpikir tentang apa. Manurut asumsi teori ini media punya kemampuan untuk menyeleksi dan mengarahkan perhatian masyarakat pada gagasan atau peristiwa tertentu. Media mengatakan pada kita apa yang penting dan apa yang tidak penting. Media pun mengatur apa yang harus kita lihat atau tokoh siapa yang harus kita dukung.

10. Media Critical Theory

Beberapa teori studi budaya (cultural studies) dan ekonomi politik juga dikaitkan dengan teori kritis. Teori-teori itu secara terbuka menekankan perlunya evaluasi dan kritik terhadap status quo. Teori kritis membangun pertanyaan dan menyediakan alternatif jalan untuk menginterpretasi. Bisa dikatakan bahwa teori media kritis ini sebisa mungkin mendorong perubahan secara terus menerus. Teori media kritis adalah alternatif baru dalam usaha memahami seluk-beluk media dan bagaimana media itu harus selalu bersikap untuk tidak mengukuhkan ststus quo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.