Lompat ke konten
Home » Ilmu Psikologi » Beberapa pendekatan dasar pada motivasi

Beberapa pendekatan dasar pada motivasi

  • oleh
  • Januari 25, 2021Januari 25, 2021

Selanjutnya, S.S. Sargent dan R.C. Williamson (1966) mencoba menelusuri berbagai pendekatan dan teori tentang motif.

1.  Teori insting

untuk  menerangkan  perilaku  manusia,  mula-mula       (sampai  tahun 1920-an)  para  pakar merujuk pada insting (W. James, Mc. Dougall, E.L. Thorndike). Pada tahun 1924 sosiolog L.L. insting dan hampir 6000 jenis aktivitas manusia disebut sebagai insting. Akan tetapi, sejak 1920-

an teori ini mulai ditinggalkan orang karena penelitian antropologi dan sosiologi membuktikan bahwa perilaku manusia sangat bervariasi, tergantung dari lingkungan, sehingga tidak dapat dijelaskan dengan insting (yang universal). Insting masih tetap dipakai untuk perilaku-perilaku yang jelas diturunkan, tidak dipelajari dan universal bagi makhluk tertentu.

2.  Konsep dorongan (drive)

Pakar psikologi mencari penyebab perilaku pada “ketegangan” (tension) yang terjadi pada otot-otot dan kelenjar-kelenjar pada saat haus, lapar, dan sebagainya. Ketegangan-ketegangan ini menimbulkan dorongan untuk berperilaku tertentu (mencari  makan, minum dan lain-lain) sehingga dorongan dianggap sebagai penyebab perilaku. Umumnya dorongan menyangkut perilaku yang bersifat biologik dan fisiologik, seperti misalnya makan, minum, tidur, seks, mencari temperatur yang konstan, dan sebagainya, termasuk juga dorongan keibuan, dorongan untuk bermain pada anak-anak. E.C.Tolman membagi dorongan dalam dua jenis, yaitu hasrat (appetites) seperti lapar, haus, seks, dan pengingkaran (aversion) seperti menghindari sakit dan sebagainya.

3.  Teori libido dan ketidaksadaran dari Sigmund Freud

Teori ini adalah motif bersumber pada stress internal, yang terdiri atas insting dan dorongan (drive) yang bekerja dalam alam ketidaksadaran manusia. Dalam teori freud yang sangat berorientasi biologik ini, semua insting dan dorongan bermuara pada libido sexualis (dorongan seks) yang sebagian besar tidak dapat dikendalikan oleh orang yang bersangkutan (karena bekerjanya dalam alam ketidaksadaran)

4.  Perilaku purposif dan konflik

 Pengaruh pasikologi Gestalt (Gestalt adalah istilah bahasa jerman yang artinya keseluruhan) terhadap  behaviorisme  adalah  bahwa  orang  mulai  lebih  mementingkan  perilaku  moral (keseluruhan, seperti makan dan berlari) daripada perilaku molekuler (bagian dari perilaku keseluruhan, seperti mengeluarkan liur dan menggerakkan otot). Dalam hubungan ini perlu dicatat pendapat seorang tokoh bernama Edward Chase Tolman yang mengatakan bahwa perilaku tidak hanya ditentukan oleh rangsang dari luar atau stimulus (sebagaimana pendangan kaum behavioris). Akan tetapi, ditentukan juga oleh organisme atau orang itu sendiri. Jadi, orang bukan  hanya  memperhatikan  stimulusnya,  melainkan  memilih  sendiri  reaksinya.  Dengan demikian, perilaku (molar) selalu bertujuan.

5.  Otonomi fungsional

G.W. Allport pada tahun 1961, yaitu motif pada orang dewasa yang tumbuh dari sistemsistem yang mendahuluinya, tetapi berfungsi lepas dari sistem-sistem pendahulu itu. Dengan perkataan lain, motif ini berfungsi sesuai dengan tujuannya sendiri, terlepas dari motif-motif asalnya, misalnya seorang penjual soto. Lambat laun penjual soto tersebut memilki berbagai cabang di berbagai kota, sehingga tujuannya berjualan bukan lagi untuk mencari nafkah melainkan untuk mencari kepuasan tersendiri (otonomi fungsional).

6.  Motif sentral

Banyak pakar psikologi yang meragukan adanya satu motif sentral yang bisa merangkum semua jenis motif manusia. Goldstein misalnya pada tahun 1939 mengemukakan “aktualisasi diri” sebagai motif tunggal pada manusia. Menurut Goldstein setiap perilaku didasarkan pada kebutuhan untuk melindungi diri (self) dan mengurangi kecemasan serta mencari kemapanan bagi dirinya sendiri. Motif seperti ini paling terlihat pada paham-paham keagamaan seperti Yahudi, Kristen, Islam, dan Buddha.

Pengembangan dari motif “aktualisasi diri” terdapat dalam teori A.H. Maslow yang dikenal luas sejak 1959, yang menempatkan “aktualisasi diri” sebagai motif tertinggi di atas empat motif lain yang tersusun secara hierarkis (motif primer atau motif fisiologik, motif rasa aman, motif rasa memiliki, dan motif harga diri).

Teori motif tunggal lainnya adalah dari R.W. White yang pada tahun 1959 mengatakan bahwa satu-satunya motif manusia adalah motif kompetensi. Menurut White, manusia selalu ingin berinteraksi secara efektif dengan lingkungannya. Keinginan yang universal inilah yang dinamakannya motif kompetensi.

Referesensi :

Sarwono, Sarlito. 2002. Psikologi Sosial Individu dan Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta: Balai
Pustaka
Ahmadi, Abu. 2002. Psikologi Sosial. Jakarta: PT Rineka Cipta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.