Lompat ke konten
Home » Farmasi » Antibodi Monoklonal

Antibodi Monoklonal

  • oleh

Spesifisitas respon imun telah membantu sebagai dasar untuk reaksi serologi,  dimana  spesifisitas  antibodi  digunakan  untuk  determinasi  antigen secara  kualitatif  dan  kuantitatif.  Akan  tetapi,  kekuatan  diskriminasi  antibodi serum, bukan tanpa batas, sebab antigen yang diimunisasikan, yang biasanya mempunyai   banyak   epitop,   menyebabkan   produksi  antisera   yang   berisi campuran antibodi dengan spesifisitas yang bervariasi untuk semua epitop. Sesungguhnya, antibodi terhadap epitop tunggalpun, biasanya juga merupakan campuran   imunoglobulin   dengan   spesifik   yang   berbedanya   halus (five specificities), dan maka dari itu afinitas berbeda untuk determinan tersebut.

Selanjutnya,  imunisasi  dengan  suatu  antigen,  memperluas  macammacam populasi dari antibodi yang dibentuk oleh limfosit. Sel-sel ini dapat dipelihara dalam kultur hanya untuk waktu yang pendek (dalam hitungan hari), sehingga tidak praktis, jika mungkin, menimbulkan sel normal dan memperoleh klon yang memproduksi antibodi dengan spesifisitas tunggal. Pada tahun 1970 an, Milstein dan Kohler, mengembangkan metode untuk mendapatkan antibodi monoklonal, yang mendapatkan hadiah nobel untuk perkembangan ini. Antibodi monoklonal adalah populasi molekul antibodi yang homogen, diturunkan dari sel tunggal yang memproduksi antibodi, dimana semua antibodi identik dan spesifisitasnya persis sama untuk epitop yang diberikan.

Milstein  dan  Kohler,  mengambil  keuntungan  dari  sifat  sel  plasma malignan yang imortal dan dapat dipelihara dalam kultur selama bertahun-tahun. Mereka  memilih  suatu  populasi  sel  plasma  malignan  yang  tidak  mampu mensekresi Imunoglobulin, tetapi juga defisiensi enzim hypoxanthine guanine phosphoribosyl transferase (HGPRT), yang akan mati, kecuali HGPRT diberikan di kultur maupun dengan mempfusi sel dengan sel HGPRT.

Sel malignan berfusi dengan sel limpa yang dipanen dalam keadaan segar dari tikus yang baru saja diimunisasi dengan antigen. Karena sel B limpa yang memproduksi antibody adalah HGPRT+, sel hibrida terdiri dari sel myeloma yang difusi dengan sel B yang kekurangan HGPRT dalam media kultur.

Produksi Antibodi

Bioteknologi untuk produksi hibridoma, yang dikembangkan oleh Kohler dan Milstein, diilustrasikan dalam gambar berikut ini :

Gambar 1. Skema Produksi Antibodi Monoklonal

Pembuatan fusi seringkali diberi PEG. Nukleus dari sel hibrida juga berfusi, dan sel hibridoma kemudian mempunyai keduanya, yaitu kapasitas produksi imunoglobulin dan kemampuan hidup dalam kultur dalam media terpilih, seperti mengandung hipoksantin, aminopterin, dan timidin (HAT). Sel malignan yang defisiensi enzim menjadi mati, kecuali defisiensi dikoreksi dengan sel yang memproduksi enzim. Jadi, hibrid tersebut dapat dipisahkan dari sel malignan yang  terkontaminasi,  yang  tidak  dapat  betahan  hidup,  sebab  mereka  tidak mempunyai enzim yang diperlukan. Sel-sel hibrid tersebut memproduksi antibodi spesifik diseleksi oleh beberapa tes dan dipropagasi dalam tissue culture. Setiap klon mensintesis antibodi dengan spesifisitas tunggal.

 Antibodi   monoklonal   dengan   spesifisitas   tinggi,   digunakan   untuk bermacam-macam prosedur, dari tes diagnostik spesifik sampai agen biologik yang  digunakan  dalam  imunoterapi  kanker.  Dalam  imunoterapi,  bermacammacam obat atau toksin dikonjugasikan ke antibodi monoklonal, yang dalam perjalanannya mengirim senyawa ini untuk melawan sel tumor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.