Lompat ke konten
Home » Arsitektur » Paradigma Sosial (Human Science)

Paradigma Sosial (Human Science)

  • oleh

Manusia seperti diketahui termasuk mahluk sosial. Manusia tidak dapat selamat dengan hidup menyendiri. Dari lahir hingga mulai belajar, lingkungan yang dihadapinya adalahlingkungan keluarga terutama ibu dan ayahnya yang disebut keluarga batin. Kemudian membentuk masyarakat. Demikianpun semakin besar dan tentu saja semakin kompleks. Beberapa cerminan interaksi sosial yang terwujudkan dalam arsitektur.

Semangat kerjasama di dalam hal ideologi. Kita boleh berbangga hati dan kagum jika melihat megahnya candi Borobudur, candi Prambanan, sebagai karya arsitektur dan lain-lain peninggalan nenek moyang kita jaman duhulu hingga saat ini masih tetap berdiri dengan megahnya. Seperti diketahui agama Budha berasal dari India yang datang ke Indonesia dibawa oleh pedagang sambil berdagang mereka mengembangkan agama budha dan interaksi dengan masyarakat setempat terjadilah akulturasi agama kedalam masyarakat tanpa mengubah adat istiadat yang telah ada. Dengan adanya agama Bbudha mereka membutuhkan prasarana peribadatan dan didirikanlah candi-candi.

Candi-candi inilah yang merupakan karya arsitektur sebagai perwujudan dari adanya interaksi sosial dalam bentuk kerjasama dan akulturasi budaya masyarakat pendatang dan masayarakat yang ada, yang dalam perwujudannya berdampingan dengan bangunan tempat tinggal penduduk dengan ciri arsitektur tradisional setempat. Persaingan. Pada dasarnya manusia selalu berkeinginan dihargai dan hidup dengan lebih baik. Namun ini merupakan pendorong utama dari dalam diri manusia yangf mengakibatkan terjadinya apa yang disebut urbanisasi yaitu perpindahan penduduk dari desa ke kota. Denagn adanya urbanisasi ini terjadilah interaksi sosial dalam bentuk persaingan dan terjadi peningkatan kebutuhan sarana dan prasarana permukiman dikota khususnya bagi masyarakat pendatang yang umumnya orang-orang miskin dengan tingkat pendidikan relatif sangat rendah.

Untuk memnuhi kebutuhan inilah mereka membangun melalui proses persaingan tanpa mengikuti peraturan yang ada dengan bahan seadanya dan dengan penyelesaian tanpa teknologi yang dapat dipertanggung jawabkan. Sebagai akibatnya timbul permukiman kumuh didalam lingkungan kota yang dilain pihak tertata permukiman yang rapi, baik dan teratur yang merupakan tantangan bagi penentu kebijaksanaan pembangunan kota dalam penanggulangannya. Dalam beberapa hal misalnya seorang yang mengalami cacat, bahkan perlu didampingi sepanjang hidupnya, Selama proses membesarkan anak-anaknya atau mendampingi seseorang itulah manusia membutuhkan berbagai bentuk pedoman atau aturan-aturan yang disepakati.

Manusia adalah mahluk bersikap atau memilih. Alam menyediakan kemungkinan-kemungkinan dan manusia menjatuhkan pilihan-pilihan yang dipandang dapat menguntungkan. Kluckholn menyatakan bahwa komunitas manusia memiliki sistem-sistem bahasa, ilmu/pengetahuan, paralatan/teknologi, mata pencaharian, masyarakat/ komunitas, kesenian dan sistem religius/kepercayaan. Sistem-sistem itu melukiskan segala upaya manusia untuk tetap selamat ditengah alam dan diantara kelompok-kelompok yang ada.

Contohnya, yaitu sistem mata pencaharian merupakan pertemuan antara manusia dengan alam yang diolahnya melalui seperangkat sistem peralatan berdasarkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Manusia dikatakan juga sebagai mahluk yang menciptakan simbol. Secara akademis tanda dan simbol itu memang dibedakan, namun dalam kehidupan sehari-hari dua hal tersebut memiliki peran dan fungsi yang sama, yakni membawa mereka sama-sama bermaksud menyampaikan pesan. Representasi merupakan ungkapan bahasa yang sangat penting didalam arsitketur, dia mengubah dari suatu gagasan kedalam suatu wujud yang nyata dengan pertimbangan syarat-syarat subyektif dan obyektif tertentu.

Penyampaian gagasan melalui tanda-tanda atau simbol-simbol selalu berlangsung dalam konteks sosial. Bahasa asitektur akan berfungsi dengan baik hanya apabila disertai denga kesepakatan substantif maupun representatif. Kesepakatan sosial merupakan kunci bagi berlangsungnya suatu bentuk komunikasi. Untuk dapat mencapai paras komunikatif, arsitektur membutuhkan penerimaan sosial. Sebagai contoh yang dapat disampaikan ialah penggunaan bahan batu kali atau batu alam lainnya untuk bentuk/konstruksi pondasi batu atau dinding yang masif, dapat memberikan ciri atau tanda yang kokoh.

Arsitektur Adalah Cerminan Kebudayaan

Arsitektur sebagai suatu karya kesenian hanya bisa tercapai dengan dukungan masyarakat yang luas, berbeda dengan karya seni lukis atau seni patung yang bisa terlahir hanya dengan usaha satu orang seniman saja. Untuk melahirkan karya arsitektur diperlukan selain arsitek, juga ahli-ahli teknik lain, industri bahan, sekelompok pelaksana, teknologi dan lain-lainnya. Oleh karenanya patutlah dikatakan bahwa arsitektur adalah pengejawantahan dari kebudayaan manusia. Atau dengan kata lain arsitektur selalu dipengaruhi kebudayaan dan masyarakatnya. Hindro T. Sumardjan menggambarkan proses pembentukan budaya dalam manifestasi arsitektur, sebagai berikut : Kebudayaan Barat Kebudayaan Timur (Hindro T.Sumardjan, dalam tulisan yang berjudul “Pendidikan Arsitektur dan Pembangunan Nasional Sebagai Sebuah Pendekatan Budaya”).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.