Lompat ke konten
Home » Sosial Politik » Teori-teori Sosiologi Tentang Agama

Teori-teori Sosiologi Tentang Agama

  • oleh

Banyak Para ahli ilmu sosial untuk memberikan penjelasan tentang munculnya agama. Penjelasan ini nampaknya bertujuan untuk memberikan penjelasan secara ilmiah mengenai bagaimana munculnya fenomena sosial yang disebut agama tersebut.

Penjelasan ini mungkin tidak memuaskan bahkan ditentang oleh para tokoh maupun pengikut agama, yang pada dasarnya berpendapat bahwa agama adalah sesuatu yang berasal dari supranatural being, sesuatu yang taken for granted dan sesuatu yang diyakini ada sebagai penuntun terhadap kehidupan manusia. Agama diyakini sebagai sesuatu yang berkaitan dengan sakral dan adikodrati dan tidak terjangkau oleh kemampuan akal dan pikiran manusia.

Para ahli ilmu-ilmu sosial nampaknya tetap berusaha memberikan penjelasan tentang bagaimana munculnya agama. Seperti apa yang dapat disarikan dan buku karangan EE Evan Frichard yang berjudul Teori-Teori Tentang Agama Primitif. Dijelaskan menurut teori ilmu Jiwa, agama muncul karena perasaan takut yang tumbuh pada diri manusia karena menghadapi berbagai kedasyatan alam dan gejala-gejala alam; maupun dalam menghadapi berbagai macam fenomena sosial yang selama ini tidak dapat dijawab. Misalnya mengapa orang harus mati dan sebagainya.

Untuk menghadapi rasa takut inilah kemudian diciptakan suatu kekuatan yang Maha Besar atau diakui adanya kekuatan yang jauh melebihi dan apa-apa yang selama ini menakutkan mereka; dan selama itu pula tidak ada jawaban yang memuaskan dalam rangka ingin memperoleh jawaban dari sesuatu yang misterius. Oleh karena itu manusia menciptakan kekuatan-kekuatan itu sebagai diwujudkan Tuhan atau sebagai kekuatan yang maha dasyat dan supranatural, dengan suatu keyakinan bahwa kekuatan tersebut merupakan kekuatan yang lebih tinggi dari pada kekuatan-kekuatan yang dihadapi selama ini.

Kekuatan yang lebih tinggi (Tuhan), mereka menumpukan harapannya untuk berlindung dan memohon agar kekuatan-kekuatan yang mengancam mereka tersebut dapat dikalahkan atau ditundukkan oleh kekuatan yang maha dasyat ciptaan mereka. Keyakinan tersebut yang kemudian lahir sebagai agama. Sebenarnya yang berfungsi untuk menjawab sesuatu yang tidak pasti dan misterius tersebut dan sekaligus memberikan ketenangan dan ketentraman batin bagi setiap penuntutnya.

Munculnya agama dilihat dari sosiologi, seperti apa yang dijelaskan Emile Durkheim, bahwa agama muncul akibat kebiasaan manusia untuk memuja orangtua atau nenek moyang mereka. Generasi yang berkembang tents dari waktu ke waktu menyebabkan jarak yang semakin panjang dan jauh antara nenek moyang mereka dengan mereka.

Akibatnya mereka tidak mengenal lagi siapa nenek moyang mereka atau nenek moyang merupakan suatu gambaran atau bayangan dan itu diwujudkan dalam bentuk Tuhan yang mereka kenal sekarang ini sebagai kekuatan yang maha besar. Penyembahan kepada Tuhan pada dasarnya bukan pada Tuhan tetapi pada nenek moyang mereka sendiri yang sudah tidak mereka kenal lagi.

Atau dengan kata lain mereka beribadah tidak menyembah Tuhan, melainkan menyembah sesamanya, yaitu sesama yang telah tidak mereka kenal lagi atau nenek moyang. Oleh karena itu menurut Durkheim , manusia dalam menjalankan agamanya sebenarnya tidak berbakti kepada Tuhan, tetapi berbakti kepada sesamanya dan menggalang kesatuan dan persatuan diantara mereka dalam menghadapi persoalan-persoalan kritik dalam kehidupan sosial secara bersama-sama.

Penjelasan tersebut tentunya tidak akan memuaskan, namun hal yang perlu dicatat bahwa para ahli tersebut berusaha untuk menjelaskan sesuatu (agama) secara rasional dan empiris yang merupakan etos dan ilmu pengetahuan.

Dua penjelasan diatas secara akal dapat diterima, namun secara keyakinan masih merupakan tanta tanya, karena keyakinan menuntut anggapan dasar yang mutlak tanpa pembanding; sedangkan ilmu pengetahuan didasarkan pada anggapan dasar yang relatif. Penjelasan yang dapat ditangkap dengan panca indera dan dapat dialami oleh setiap orang sebagai sesuatu yang empirik diterima sebagai sesuatu yang sah dan memuaskan bagi akal dan pikiran manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.