Lompat ke konten
Home » Ilmu Psikologi » Sumber-Sumber Penyebab Prasangka Sosial

Sumber-Sumber Penyebab Prasangka Sosial

  • oleh

Sumber penyebab prasangka secara umum dapat dilihat berdasarkan tiga pandangan, yaitu :

1.Prasangka Sosial

Sumber prasangka sosial, antara lain :

  • Ketidaksetaraan Sosial

Ketidaksetaraan  sosial  ini  dapat  berasal  dari  ketidaksetaraan  status  dan prasangka serta agama dan prasangka. Ketidaksetaraan status dan prasangka merupakan kesenjangan atau perbedaan yang mengiring ke arah prasangka negatif.

Sebagai contoh, seorang majikan yang memandang budak sebagai individu  yang  malas,  tidak  bertanggung  jawab,  kurang  berambisi,  dan sebagainya, karena secara umum ciri-ciri tersebut ditetapkan untuk  para budak. Agama juga masih menjadi salah satu sumber prasangka. Sebagai contoh  kita menganggap agama yang orang lain anut itu tidak sebaik agama yang kita anut.

  • Identitas Sosial

Identitas sosial merupakan bagian untuk menjawab “siapa aku?” yang dapat dijawab  bila  kita  memiliki  keanggotaan  dalam  sebuah  kelompok.  Kita megidentifikasikan diri kita dengan kelompok tertentu (in group), sedangkan ketika kita dengan kelompok lain kita cenderung untuk memuji kebaikan kelompok kita sendiri.

  • Konformitas

Konformitas juga merupakan salah satu sumber prasangka sosial. Menurut penelitian bahwa orang yang berkonformitas memiliki tingkat prasangka lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak berkonformitas.

2.Prasangka secara Emosional

Prasangka sering kali timbul dipicu oleh situasi sosial, padahal faktor emosi juga dapat memicu prasangka sosial. Secara emosional, prasangka dapat dipicu oleh frustasi dan agresi, kepribadian yang dinamis, dan kepribadian otoriter.

  • Frustasi dan Agresi

Rasa sakit dan frustasi sering membangkitkan pertikaian. Salah satu sumber frustasi  adalah  adanya  kompetisi.  Ketika  dua  kelompok  bersaing  untuk memperebutkan  sesuatu,  misalnya  pekerjaan,  rumah,  dan  derajat  sosial, pencapaian goal salah satu pihak dapat menjadikan frustasi bagi pihak yang lain.

  • Kepribadian yang dinamis

Status bersifat relatif. Untuk dapat merasakan diri kita memiliki status, kita memerlukan adanya orang yang memiliki status dibawah kita. Salah satu kelebihan psikologi tentang prasangka adalah adanya sistem status, yaitu perasaan superior. Contohnya adalah ketika kita mendapatkan nilai terbaik di kelas, kita merasa menang dan dianggap memiliki status yang lebih baik.

  • Kepribadian Otoriter

Emosi yang ikut berkontribusi terhadap prasangka adalah kepribadian diri yang otoriter. Sebagai contoh, pada studi orang dewasa di Amerika, Theodor Adorno dan kawan-kawan (1950) menemukan bahwa pertikaian terhadap kaum Yahudi sering terjadi berdampingan dengan pertikaian terhadap kaum minoritas.

3.Prasangka Kognitif

Memahami stereotipe dan prasangka akan membantu memahami bagimana otak bekerja. Selama sepuluh tahun terakhir, pemikiran sosial mengenai prasangka adalah kepercayaan yang telah distereotipekan dan sikap prasangka timbul tidak hanya karena pengkondisian sosial, sehingga mampu menimbulkan pertikaian, akan tetapi juga merupakan hasil dari proses pemikiran yang normal. Sumber prasangka kognitif dapat dilihat dari kategorisasi dan simulasi distinktif.

Kategorisasi merupakan salah satu cara untuk menyedehanakan lingkungan kita,  yaitu  dengan  mengkelompokkan  objek-objek  berdasarkan  kategorinya. Biasanya individu dikategorikan berdasarkan jenis kelamin dan etnik. Sebagai contoh,  Tom (45  tahun),  orang  yang  memiliki  darah  Afrika-Amerika. 

Dia merupakan seorang agen real estatedi Irlandia Baru. Kita memiliki gambaran dirinya   adalah   seorang   pria   yang   memiliki   kulit   hitam,   daripada   kita menggambarkannya sebagai pria berusia paruh baya, seorang bisnisman, atau penduduk bagian selatan. Berbagai penelitian mengekspos kategori orang secara spontan terhadap perbedaan ras yang menonjol.

Selain   menggunakan   kategorisasi   sebagai   cara   untuk   merasakan   dan mengamati dunia, kita juga akan menggunakan stereotipe. Seringkali orang yang berbeda, mencolok, dan terlalu ekstrim dijadikan perhatian dan mendapatkan perlakuan yang kurang ajar.

Berdasarkan pada perspektif tersebut, sumber utama penyebab timbulnya prasangka adalah faktor individu dan sosial.

Menurut  Blumer, (dalam  Zanden, 1984)  salah  satu  penyebab  terjadinya prasangka sosial adalah adanya perasaan berbeda dengan kelompok lain atau orang lain misalnya antara kelompok mayoritas dan kelompok minoritas. Berkaitan dengan kelompok mayoritas dan minoritas tersebut di atas Mar’at, (1988) menguraikan bahwa prasangka sosial banyak ditimbulkan oleh beberapa hal sebagai berikut :

• Kekuasaan faktual yang terlihat dalam hubungan kelompok mayoritas dan minoritas.

• Fakta akan perlakuan terhadap kelompok mayoritas dan minoritas.

• Fakta  mengenai  kesempatan  usaha  antara  kelompok  mayoritas  dan minoritas. Fakta mengenai unsur geografik, dimana keluarga kelompok mayoritas dan minoritas menduduki daerah-daerah tertentu.

• Posisi dan peranan dari sosial ekonomi yang pada umumnya dikuasai kelompok mayoritas.

• Potensi energi eksistensi dari kelompok minoritas dalam mempertahankan hidupnya.

Prasangka sosial terhadap kelompok tertentu bukanlah suatu tanggapan yang dibawa sejak lahir tetapi merupakan sesuatu yang dipelajari. Menurut Kossen (1986) seseorang akan belajar dari orang lain atau kelompok tertentu yang menggunakan jalan pintas mental prasangka. Jadi, seseorang memiliki prasangka terhadap orang lain karena terjadinya proses belajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.