Lompat ke konten
Home » Ilmu Psikologi » Situasi yang Menciptakan Kecemasan

Situasi yang Menciptakan Kecemasan

  • oleh

Individu dengan kekuatan psikologis yang baik akan dapat membiarkan sebuah penyelesaian yang baik mengenai hal-hal yang mengancam ke dalam kesadaran tanpa merasa cemas terlalu banyak.  Individu yang tidak memiliki kekuatan   psikologis   sering   kali   menggunakan  defense   mechanism  untuk menghindari ancaman kenyataan. 

Sebagai contoh, seorang pria muda melihat dirinya sebagai seorang mahasiswa yang baik tetapi mendapatkan nilai “C” sebagai nilai akhir dalam sebuah mata kuliah. Ketidaksesuaian antara konsep yang ia miliki mengenai dirinya dan kenyataan menerima nilai “C” menciptakan sebuah kecemasan. Untuk menghindari kecemasan, pria itu menggunakan pertahanan proyeksi (“Professor tidak memiliki kompetensi, karenanya saya mendapat nilai ‘C’”) atau rasionalisasi (“rekan sekamar saya memiliki masalah psikologis yang serius yang mempengaruhi saya sepanjang semester”). Dengan menggunakan berbagai  pertahanan  itu,  pria  muda  itu  dapat  terus  mempersepsikan  dirinya sebagai seorang mahasiswa yang baik, pada faktanya, ia hanya berada pada kategori rata-rata.

Akan terlihat bahwa orang akan cenderung menyembunyikan bagianbagian negatif daripada kepribadian mereka dan menerima dengan senang hati bagian-bagian   positif,   tapi   hal   itu   tidak   selalu   benar.   Beberapa   orang menyembunyikan berbagai bagian positif dari diri mereka dan dengan senang hati menerima   bagian-bagian   negatif.   Contoh,   seorang   perempuan   muda mempersepsikan dirinya sebagai orang tidak atraktif dan tidak menarik. Meskipun dia tidak terlalu suka memiliki perasaan seperti itu, ia menggunakan sebagai pembenaran untuk menghindar dari orang lain. Dengan kata lain, konsep diri yang negatif yang dimilikinya mempersiapkan perlindungan terhadap kedekatannya dengan orang dan resiko untuk disakiti dan ditolak. Suatu hari seorang pria muda mengajaknya berkencan, yang menciptakan sebuah cognitive dissonanceantara  konsep  diri  negatifnya  dengan  kenyataan  yang  positif.  Untuk  menurunkan kecemasan, dia percaya bahwa dia ditantang oleh kakak prianya untuk mau diajak pergi atau dia akan percaya bahwa pria yang mengajaknya pergi memiliki motif jahat.

Wanita  muda  ini  memiliki  keinginan  yang  cenderung  tetap  dalam memiringkan sebuah kenyataan yang positif menjadi negatif karena dia akan menghindar. Jika wanita tersebut membiarkan dirinya sendiri untuk memiliki kemungkinan tentang dirinya yang lebih atraktif dan menarik daripada yang ia pikirkan, dia akan lebih dapat berhubungan dengan orang dan lebih memiliki resiko, yang akan memunculkan sebuah ancaman besar. Dengan kata lain, dia akan lebih merasa tidak atraktif dan aman daripada atraktif dan memiliki resiko tersakiti.  Dia akan lebih berpikir bahwa dia tidak menarik daripada memiliki hubungan dengan orang lain dan mengetahui resikonya.

Penting bagi konselor untuk menyadari bahwa, bagi orang dengan konsep diri  yang  negatif,  kenyataan  positif  bisa  jadi  sama  mengancamnya  dengan kenyataan negatif bagi orang dengan konsep diri yang positif. Konselor harus berhati-hati untuk tidak terjadi tarik-menarik dengan individu tersebut, yang menyatakan bahwa individu memiliki beberapa hal positif akan tetapi individu tidak menyatakan hal itu. Jika hal ini terjadi, konselor mungkin menjadi frustrasi dan pada akhirnya mengkomunikasikan perasaan “bagaimana mungkin Anda menjadi begitu bodoh seperti tidak melihat betapa menariknya Anda!” dengan daya dorong ini individu memenangkan tarik-menarik ini. Hal itu mungkin menjadi lebih produktif bagi konselor untuk membantu individu ini memikirkan kualitas pertahanan dari konsep diri negatif mereka dan mengembangkan berbagai kompetensi psikososial untuk berhubungan secara efektif dengan realitas yang mengancam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.