Lompat ke konten
Home » Ekonomi » Persediaan bahan mentah (Raw material inventory) dan persediaan barang jadi (finished goods inventory)

Persediaan bahan mentah (Raw material inventory) dan persediaan barang jadi (finished goods inventory)

  • oleh

Untuk melangsungkan usahanya dengan lancar maka kebanyakan perusahaan merasakan perlunya persediaan bahan mentah. Besar kecilnya persediaan bahanmentah yang dimiliki perusahaan ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain:

1. Volume yang dibutuhkan untuk melindungi jalannya perusahaan terhadap gangguan kehabisan persediaan yang akan menghambat atau mengganggu jalannya proses produksi.

2. Volume produksi yang direncanakan, di mana volume produksi yang direncanakan itu sendiri sangat tergantung dengan volume sales yang direncanakan.

3. Besarnya pembelian bahan mentah setiap kali pembelian untuk mendapatkan biaya pembelian yang minimal.

4. Estimasi tentang fluktuasi harga bahan mentah yang bersangkutan di waktuwaktu yang akan datang.

5. Peraturan-peraturan pemerintah yang menyangkut persediaan material.

6. Harga pembelian bahan mentah.

7. Biaya penyimpanan dan resiko penyimpanan di gudang.

8. Tingkat kecepatan material menjadi rusak atau turun kualitasnya.

Dalam pada itu banyak perusahaan merasakan perlunya untuk mempunyai persediaan minimal dan bahan mentah yang harus dipertahankan untuk menjamin kontinuitas usahanya, dan persediaan tersebut ialah apa yang disebut persediaan besi / persediaan inti / persediaan minimal bahan mentah (safety stock).

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya safety stock suatu perusahaan adalah sebagai berikut:

1. Resiko kehabisan persediaan.

Besar kecilnya resiko kehabisan persediaan tergantung kepada:

a. Kebiasaan para levelancier menyerahkan barang kepada kita, apakah mereka biasa menyerahkan barangnya sesuai dengan skedul yang telah kita tentukan atau tidak. Apabila mereka biasa menyerahkan barangnya sesuai dengan skedul yang telah ditentukan sebelumnya, berarti resiko kehabisan persediaan

adalah kecil, yang ini berarti bahwa kita tidak perlu mempunyai safety stock yang besar. Sebaliknya apabila levelancier sering tidak menepati janjinya, berarti resiko kehabisan persediaan adalah besar, maka dirasakan perlunya untuk mempunyai safety stock besar.

b. Besar kecilnya jumlah bahan mentah yang dibeli setiap saat. Kalau jumlah bahan mentah yang dibeli setiap saat besar berarti bahwa persediaan rata-rata di atas safety stock selama suatu periode tertentu adalah besar, maka resiko kehabisan persediaan adalah kecil sehingga kita perlu mempertahankan safety

stock yang besar.

c. Dapat diduga atau tidaknya dengan tepat kebutuhan bahan mentah untuk produksi. Apabila untuk menghasilkan barang jadi tertentu dapat ditentukan dengan mudah besarnya kebutuhan bahan mentahnya dengan tepat, maka resiko kehabisan persediaan adalah kecil. Tetapi apabila besarnya bahan. mentah tidak

mudah ditetapkan atau selalu berubah-ubah untuk menghasilkan sejumlah tertentu barang jadi (bahan mentah yang tidak dengan standar), maka resiko kehabisan persediaan di sini adalah besar, sehingga perlulah kita mempunyai safety stock yang besar.

2. Hubungan antara biaya penyimpanan di gudang di satu pihak dengan biaya-biaya ekstra yang harus dikeluarkan sebagai akibat dan kehabisan persediaan dilain pihak.

Yang merupakan biaya ekstra yang harus dikeluarkan apabila kehabisan persediaan antara lain ialah biaya pesanan pembelian darurat, biaya ekstra yang diperlukan agar supaya para levelancier suka segera menyerahkan produknya. kepada kita, kemungkinan kerugian karena adanya stagnasi produksi dan lain-lain.

Apabila ternyata biaya-biaya ekstra yang harus dikeluarkan karena kehabisan persediaan lebih mahal daripada biaya penyimpanannya, maka perlu adanya safety stock yang besar. Sebaliknya apbila penyimpanannya lebih mahal maka tak perlu kita mempunyai safety stock yang besar. Jumlah investasi dalam safety stock yang sebaik-baiknya ialah pada tingkat dimana tambahan biaya penyimpanan adalah sama besarnya dengan biaya ekstra karena kehabisan persediaan. Perusahaan disamping mempertahankan persediaan minimal bahan mentah, bagi perusahaan tertentu juga perlu mempertahankan adanya persediaan minimal barang jadi untuk menghadapi pesanan-pesanan ekstra di atas pesanan normal. Besarnya persediaan minimal atau safety stock barang jadi ini tidak sama esensinya bagi setiap perusahan. Seperti halnya pada uraian tentang persediaan minimal bahan mentah, maka disinipun kita harus memeperhatikan berbagai faktor yang mempengaruhi besar kecilnya persediaan minimal barang jadi terutama adalah sebagai berikut:

a. Sifat penyesuaian skedul produksi dengan pesanan ekstra

Ada kalanya suatu perusahaan sering mendapatkan pesanan ekstra di atas volume pesanan normal. Selama perusahaan perusahaan tersebut dapat dengan mudah menyesuaikan skedul produksinya dengan pesanan-pesanan ekstra tersebut tanpa mengakibatkan adanya tambahan biaya ekstra, maka perusahaan ini tidak begitu memerlukan adanya persediaan yang besar. Sebaliknya apabila perusahaan tersebut tidak dapat segera menyesuaikan skedul produksinya dengan pesanan ekstra, maka dirasakan perlu baginya untuk mempertahankan persediaan barang jadi yang relatif besar dibandingkan dengan perusahaan lain yang dapat dengan mudah menyesuaikan skedul produksinya.

b. Sifat persaingan industry

Apabila suatu perusahaan termasuk dalam industri di mana penyerahan pesanan yang cepat merupakan bentuk persaingan umumnya, maka bagi jenis perusahaan ini perlu mempertahankan adanya persediaan barang jadi yang relatif lebih besar dalam hubungannya dengan salesnya dibandingkan dengan perusahaan lain di mana bentuk persaingan utamanya terletak pada harga atau kualitas.

c. Hubungan antara biaya penyimpanan di gudang (Carrying cost) dengan biaya karena kehabisan persediaan (stock out cost). Biaya karena kehabisan persediaan atau stock out cost mungkin dalam bentuknya biaya ekstra produksi, kehilangan kesempatan mendapatkan keuntungan karena tidak dapat memenuhi pesanan. Apabila inventory carrying cost-nya lebih kecil daripada stockout cost-nya perusahaan dapat mempertahankan persediaan barang jadi yang lebih besar. Jumlah investasi dalam persediaan minimal barang jadi yang sebaiknya ialah pada tingkat di mana tambahan carrying cost sama besar dengan tambahan stockout cost.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.