Lompat ke konten
Home » Ilmu Psikologi » Penggunaan Defense Mechanism oleh konselor

Penggunaan Defense Mechanism oleh konselor

  • oleh

Para  konselor  juga  melakukan defense  mechanism,  baik  dalam  kehidupan  personal  mereka  maupun  dalam konseling.  Pengetahuan  konselor  mengenai  perilaku  bukanlah  sebuah  usaha penjagaan   menggunakan   pertahanan   yang   bersifat   otomatis.   Faktanya, pengetahuan   mengenai  perilaku  dapat  digunakan  untuk   mengasah  sistem pertahanan  yang  biasa  untuk  menjadi  sistem  pertahanan  yang  lebih  cerdas.

Pengetahuan mengenai perilaku dapat digunakan untuk membenarkan tindakan yang tidak mungkin dibenarkan pada kondisi “kotor” seseorang.  Sebagai contoh, seseorang mungkin sedikit merasa takut untuk mengekspresikan kemarahannya sebelum mempelejari konseling. Tetapi sekarang yang ia pahami adalah bahwa “seorang konselor harus konfrontif” untuk membantu orang menghadapi diri mereka sendiri, individu merasa dibenarkan dalam mencerca dan menyerang orang lain dalam konseling. Kemarahan dan frustrasi konselor yang tertahan, melalui rasionalisasi, menjadi sebuah alat terapeutik.

Contoh   di   bawah   ini   menunjukkan   bagaimana   konselor   dapat menggunakan defense mechanismuntuk menipu dirinya sendiri, dan akibatnya menipu  individu  dalam  konseling.  Seorang  konselor  dapat  berkata  kepada individu dalam konseling “Saya pikir saya telah bersikap toleran kepada Anda dan membiarkan Anda menarik langkah di dalam konseling. Saya akan bersikap sedikit keras kepada Anda tetapi itu untuk kebaikan Anda sendiri.” Individu merespon “baiklah, mungkin itu yang saya perlukan, saya biasanya dapat berhasil secara lebih baik jika seseorang memberi saya sebuah tendangan untuk membuat saya tetap jujur.”

Meskipun baik konselor ataupun individu mungkin menyadarinya, dalam hati konselor mengatakan “lelaki ini secara pasif mengingatkan saya kepada ayah saya yang saya benci. Saya tidak dapat melakukan apapun terhadap ayah saya sekarang,   tetapi   saya   dapat “memukul”   orang   ini   di   bawah   samaran “menguatkannya”, dan itu akan membuat saya merasa lebih baik.

Para konselor harus selalu menyadari kemungkinan bahwa mereka bisa jadi menipu diri mereka sendiri dan orang yang mereka temui dalam konseling pada  waktu  tertentu.  Ketika  keduanya,  baik  konselor  dan  individu,  dapat mendekat satu sama lain dengan menyatakan “Inilah apa yang saya pikir dan saya rasa, tetapi kita sebaiknya melihat bahwa itulah yang benar-benar saya rasakan.” Konseling akan mengalami kemajuan secara lebih efektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.