Lompat ke konten
Home » Arsitektur » Pemahaman Tentang Individu Dan Kelompok Manusia

Pemahaman Tentang Individu Dan Kelompok Manusia

  • oleh

Kelompok manusia sebagai pengguna ruang memiliki kebutuhan yang berbeda dan dipengaruhi oleh sifat lingkungannya. Kelompok manusia dapat ditinjau secara fender (pria atau wanita); etnis; umur (anak-anak, dewasa, manula) ; profesi; kemampuan dalam konteks difabel. Pentingnya mempelajari faktor perilaku manusia adalah untuk memberikan kepada arsitek perbendaharaan pengalaman yang dapat diterapkan dalam setiap kegiatan mendesain yang melibatkan kelompok manusia tersebut.

Untuk menganalisis perilaku manusia atau kelompok manusia hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut,

a. Jenis dari individu atau kelompok manusia untuk dapat membedakan karakteristik dari masing-masing manusia itu sendiri

b. Memperhatikan Tatar belakang dari karakteristik manusia itu dari sudut fisiologis, psikologis, sosial dan budaya individu atau kelompok manusia tersebut.

c. Memperhatikan perbedaan karakteristik yang akan menentukan perbedaan persepsi, harapan, keinginan dan tutuntutan dalam menghadapi kondisi settingnya.

Karakteristik perseorangan termasuk di dalamnya personalitas, suasana emosi, jenis kelamin dan usia akan mempengaruhi ruang personal bersamaan dengan normanorma sosial dan kaidah kultural yang terkait dengan konteks lingkungan fisik yang berbeda.

Kebutuhan dasar manusia dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu,

a. Kebutuhan psikologis yaitu kebutuhan rasa aman, sosialisasi, relaksasi, aktualisasi diri, orientasi dan kebutuhan penghargaan dan rasa cinta/ kasih sayang

b. Kebutuhan fisiologis yaitu kebutuhan rasa nyaman misalnya kebutuhan kenyamanan fisik seperti terlindungi dari panas matahari dan hujan, ketersediaan fasilitas fisik yang dapat mendukung aktivitas, kebutuhan tidur, makan, minum, estetika dan kenyamanan visual. Selain itu kebutuhan fisiologis yang lain adalah kebutuhan kemudahan akses dan kebebasan beraktivitas.

Secara terperinci kebutuhan dasar manusia tersebut di atas dapat diberikan contoh sebagai berikut,

a. Kebutuhan fisik misalnya terkait dengan fungsi ketersediaan logistik; fungsi kenyamanan udara dan cahaya

b. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan dari ancaman bahaya misalnya perlindungan keamanan fisik (safety) berupa rumah; perlindungan keamanan non fisik (security) berupaperlindungan terhadap teman, keluarga dan tetangga.

c. Kebutuhan rasa keterikatan sosialisasi berupa hubungan sosial masyarakat; rasa keterikatan intimasi berupa hubungan harmonis dengan keluarga

d. Kebutuhan rasa dihargai berupa pengakuan atas individu berupa privasi, ruang personal dan teritori; pengakuan terhadap prestasi, kemampuan, prestise dan status yang muncul dalam bentuk simbol pemaknaan

e. Kebutuhan rasa aktualisasi berupa pengakuan atas potensi unik (istimewa) dari seseorang.

Persepsi lingkungan adalah interpretasi tentang suatu setting individu didasarakan pada latar belakang budaya, nalar dan pengalaman individu tersbut. Setiap individu dengan demikian akan memiliki persepsi lingkungan yang berbeda karena latar belakang budaya, nalar dan pengalaman yang berbeda. Namun dimungkinkan beberapa kelompok manusia memiliki kecenderungan persepsi lingkungan yang sama atau mirip, karena kemiripan budaya, nalar dan pengalaman.

Di dalam konteks studi antropologi lingkungan, isu mengenai persepsi lingkungan akan menyangkut apa yang disebut sebagai aspek emik dan etik. Emik menggambarkan bagaimana suatu lingkungan dipersepsikan oleh kelompok manusia di dalam sistem tersebut. Sementara etik adalah bagaimana pengamat atau outsider mempersepsikan lingkungan yang sama. Masalah emik dan etik menjadi penting karena manusia akan berhadapan dengan suatu pandangan subjektif yang berbeda tentang lingkungan yang sama.

Lingkungan yang dipersepsikan merupakan produk atau bentuk dari persepsi lingkungan seseorang atau sekelompok orang. Apabila yang dibicarakan adalah persepsi lingkungan berarti yang dibicarakan adalah tentang proses kognisi, afeksi dan kognasi seseorang atau kelompok orang terhadap lingkungannya. Proses kognisi meliputi proses penerimaan (perceiving), pemahaman (understanding) dan pemikiran (thinking) tentang suatu lingkungan.

Proses afeksi meliputi proses perasaan (feeling) dan emosi (emotion), keinginan (desire) serta nilai-nilai (values) tentang lingkungan. Sementara proses kognasi meliputi munculnya tindakan perlakuan terhadap lingkungan sebagai respon dari proses kognisi dan afeksi. Keseluruhan proses ini menghasilkan apda yang disebut sebagai lingkungan yang dipersepsikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.