Lompat ke konten
Home » Arsitektur » Paradigma Mitologi dan Kosmologi

Paradigma Mitologi dan Kosmologi

  • oleh
  • April 16, 2021April 16, 2021

Anton Bakker dalam bukunya „Kosmolgi & Ekologi – Filsafat tentang Kosmos sebagai Rumah Tangga (1995) mengatakan : “Kosmologi menyelidikai dunia sebagai suatu keseluruhan menurut dasarnya. Kosmologi bertitik pangkal pada pengalaman mengenai gejala-gejala dan data-data. Akan tetapi gejala-gejala dan data-data itu tidak ditangkap dalam kekhususannya, tetapi langsung dipahami menurut intinya dan menurut tempatnya dalam keseluruhan dunia”. Sedangkan YB. Mangunwijaya dalam bukunya Wastu Citra (1988) : “Segi mitos dan keagamaan menyangkut ke-ADA-an manusia atau semesta dari dasar-dasarnya yang paling akar, paling menentukan, paling sejati”.

“Pada tahap primer orang mulai berpikir dan bercita rasa dalam alam penghayatan kosmis dan mitis, atau agama. Tidak Estetis”. Estetis disini artinya penilaian sifat yang dianggap indah dari segi kenikmatan. Berdasarkan paradigma-paradigma mitis dan kosmologis keindahan bentuk-bentuk arsitektural bangunan yang terbentuk pertama-tama terjadi bukan karena keindahan semata, tetapi karena adanya tuntutan keagamaan atau penyembahan kepada kosmos (alam semesta raya/yang agung).

Asas-asas rohanialah yang menghendaki bentuk tersebut, demi keselamatan atau ada-diri daerah, khususnya keluarga-keluarga yang bersangkutan. Seperti pada orang yang melakukan pertunjukan wayang kulit di Jawa Tengah atau tarian Kecak di Bali. Dari motivasi dan suasana aslinya, pertunjukan wayang atau tarian kecak melulu dilakukan sebagai penunaian kewajiban kepercayaan/keagamaa, demi keselamatan diri dan keluarga atau masyarakat. Dengan sebutan lain: mitologis. Dan pada saat ini pertunjukan wayang kulit dan tarian kecak banyak dilakukan hanya untuk konsumsi komersial untuk pariwisata, bukan dalam arti mitologis.

Dalam alam pikiran mitologis, manusia masih menghayati diri tenggelam di dan bersama seluruh alam dan alam gaib. Belum ada pemilahan antara sang Subyek dan Obyek, menurut YB Mangunwijaya dalam bukunya Wastu Citra (1988). Raja merasa dirinya titisan dari Dewa Wishnu. Kesuburan Wanita, sawah ladang, sesaji Dewi Sri, merupakan perkaara satu, tumbuhan rotan dianggap perpanjangan usus-usus manusia. Bentuk-bentuk meru di Pulau Bali tidak terlepas dari penggambaran bentuk Gunung Mahameru (Konsep Bhuwana Alit & Bhuwana Agung). Rumah-Rumah tradisional Jawa yang dibangun dengan menggunakan keseimbangan atau keharmonisan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa, Manusia dengan alam semesta (moncopat, kolomudheng, ponco sudho, papat keblat kalima pancer) (Roemanto, 1999).

Piramida dan Spinx di Mesir, dibuat karena adanya penyembahan dan penghargaan kepada Raja-raja Mesir (Firaun) pada masa itu, yang dianggap sebagai „Tuhan‟ yang patut disembah. Penghayatan adanya suatu „pusat dunia‟ atau poros, axis mundi, atau pusat, sentrum, caput mundi, merupakan penghayatan manusia berjiwa religius yang sangat dalam. Manusia tidak dapat hidup dalam angkasa kosong atau ruang homogen, seolah-olah segala titik dan arah itu sama saja. Ia membutuhkan orientasi, pengkiblatan diri. (Mangunwijaya, 1988). Sebagai contoh adalah orientasi kepada matahari (orientasi Timur ke Barat), begitu kuatnya perasaan orientasi kepada matahari yang terbit dari timur ke barat, banyak bangsa yang percaya bahwa matahari adalah sumber segala sumber kehidupan. Bila ada timur dan barat, tentunya pula adapula utara dan selatan, keempat poros inilah menimbulkan suatu titik imajinasi tugu poros, pusat yang tejadi karena persilangan Utara-Selatan dan Timur Barat.

Konsep Vastu-Purusha-Mandala

Dalam buku Wastu Citra dikatakan bahwa suatu wilayah tidak hanya dipahami geografisnya saja, tetapi seperti contohnya di India, sebagai suatu Mandala, yang berarti bentuk (form). Tetapi merupakan bentuk yang berdaya gaib. Dengan hubungan tertentu mendala juga berarti citra gaib atau daerah kerja energi dan pengaruh kekuatan-kekuatan gaib. Dalam Mandala ada tempat yang paling berdaya, yaitu bagian pusar/poros. Dan setiap bagian daerah bangunan memiliki nilai gaibnya menurut susunan daya mandala tadi. Oleh karena itu seluruh tata wilayah dan tata pembangunan menurut orang-orang India Kuno harus diarahkan menurut tata Vastu-Purusha-Mandala (Vastu = norma dasar semesta yang berbentuk dan berwujud; purusha = insan atau personifikasi gejala semesta dasar yang awal, asli, utama, sejati). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bagi orang-orang India dahulu, tata wilayah dan tata bangunan atau arsitekturnya tidak diarahkan pertama kali demi

penikmatan rasa estetika bangunan, tetapi terutama demi pelangsungan hidup secara kosmis, artinya selaku bagian integral dari seluruh kosmos alam semesta raya yang keramat dan gaib. Keraton-keraton di Jawa misalnya menempati pusat dari sumbu-sumbu magis, keraton menjadi patron pusat-pusat pemerintahan yang lebih kecil, tetapi tidak boleh disamai karena ke-binathara-an atau ke-dewa-annya (ratu). Ratu adalah Dewa, menandai penerapan konsep Dewa Raja.

Konsep Tribuwana

Masih dari YB. Mangunwijaya dalam bukunya Wastu Citra (1988), pada masa-masa dahulu, masyarakatnya telah membagi dunia dalam tiga lapis, dunia atas (surga, kahyangan), dunia bawah (dunia maut) dan dunia tengah (dunia yang didiami oleh manusia). Tata bangunan atau wilayah di Dunia Keil kita ini pertama-tama harus merupakan cermin pewayangan Dunia Besar Semesta Raya. Mikro-kosmos selaku karo-kosmos yang mengejawantah. Oleh karenanya dalam wujud bangunan selalu mempunyai beberapa citra dasar, misalnya bentuk Gunung. Gunung selalu dihayati sebagai tanah tinggi, tempat yang paling dekat dengan Dunia Atas. Candi-candi Hindu dan Budha dibentuk juga karena adanya penyembahan kepada alam semesta raya (Sang Hyang Widhi/Tuhan). Dari konsep-konsep diatas tampaklah bahwa bagaimana setiap karya bangunan merupakan upaya penghadiran Semesta atau Kahyangan Raya. Oleh karena itu proses karya pembangunan juga merupakan penghadiran pencipaan Semesta Raya, pewayangan kembali awal mula dunia ketika dijadikan oleh Dewata atau Tuhan.

Teori-teori/Tema yang berkembang

Dari Buku „Kosmolgi & Ekologi – Filsafat tentang Kosmos sebagai Rumah Tinggal‟, (Bakker, 1995) dirinci adanya beberapa tema yang berkembang dalam paradigma mitologi dan kosmologi ini. Berikut ini rinciannya yang dibagi berdasarkan pemilahan regional.

Kosmologi Indonesia

Terdapat kesatuan besar antara para penghuni kosmos, seluruh kosmos dirasuk (dijiwai) oleh suatu „zat kejiwaan‟ atau daya hidup, atau kesaktian, zat atau daya hidup itu non personal dan pada dasarnya tidak berbeda untuk manusia, hewan, tumbuhan, membuat mereka keramat. Keharmonisan ini diwujudkan dalam bentuk keseimbangan antara manusia dengan masyarakatnya, alamnya dan Yang Maha Kuasa. (Roesmanto, 1999).

Kosmologi India

Hindu berdasarkan kitabnya Upanishad (ab. 7 – 3 SM) dan dalam Vedanta (700 – 1400), dunia mempunyai adanya dalam Brahmana. Budhisme yang dibawa oleh Gautama Siddharta (563 – 483) menganggap dunia dan manusia bersatu dalam „kekosongan‟. Jaina (pendiri Vardhamana 540 – 468) percaya bahwa kenyataan terdiri dari dua macam yang berbeda secara radikal. Substansi-substansi yang bukan berjiwa (ajivas) terdiri dari atom-atom, semua sama saja dan tidak bersifat apapun.

Kosmologi Barat

Spinoza (1632 – 1677) percaya bahwa dunia dan manusia kelihatan sebagai substansi-substansi yang berdikari, tetapi sebenarnya hanya satu substansi saja, yaitu Tuhan (sering dikatakan sebagai pantheisme). Hegel (1770 –1831) mengatakan bahwa pada dasarnya manusia dan dunia (alam) adalah fase dan bagian dalam proses penjelmaan Roh Mutlak (Geist). Dalam lingkup manusia tidak ada lagi yang alami, semuanya telah diangkat oleh kerohanian manusia menjadi budaya (Roh Obyektif).

Sementara Karl Marx (1818 – 1883) menganggap bahwa dunia dan manusia lahir dari satu realitas terakhir, materi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.