Lompat ke konten
Kategori Home » Sosial Politik » LEMBAGA AGAMA

LEMBAGA AGAMA

Bentuk Umum Lembaga Agama

Ada empat bentuk umum yang sering dikatakan oleh para ahli bentuk tersebut seperti tabel di bawah ini:

a. Church diberikan pengertian sebagai lembaga agama dimana sebagian besar warga negara memeluk agama tersebut

b. Sect, adalah bentuk lembaga sosial yang merupakan bagian dari agama besar yang memisahkan diri dalam rangka pencerahan maupun menjaga krmurnian ajaran.

c. Denomination adalah lembaga agama yang terdiri dari berbagai organisasi yang bersatu dalam berbagai sidang atau muktamar dan tetap eksis sebagai organisasi yang mandiri.

d. Cult, adalah aliran kepercayaan yang biasa berkembang sebagai sarana pengobatan alternatif.

Persamaan dan Perbedaan Lembaga Agama

Persamaan antara Church dan Denomination keduanya tidak menentang klebudayaan yang ada, sedangkan persamaan antara Sect dan Cult keduanya bertentangan dengan kebudayaan yang ada.

Persamaan antara Church dan Sect adalah keduanya memiliki legitimasi tunggal; sedangkan persamaan antara Denomination dan Cult adalah keduanya memilki legitimasi jamak

Perbedaan antara berbagai lembaga yang lain adalah posisi diagonal dari tabel di atas. Kejelasan tersebut meletakan keempat lembaga yang ada memiliki persamaan dan perbedaan masing-masing.

Legitimasi Agama

Agama tidak hanya penting dalam proses konstruksi dunia manusiawi tetapi juga dalam melestarikannya. Dunia yang dibangun manusia bersifat rapuh. Kecuali sosialisasi pola kontrol sosial. Proses legitimasi (Weber) yaitu “pengetahuan” yang diobyektifasi yang digunakan untuk menjelaskan dan membenarkan tertib sosial.

Fungsi legitimasi adalah kognitifdan Normatif Ada berbagai tingkat Legitimasi. Tujuan dari segala bentuk legitimasi adalah mempertahankan realitas. Lingkum legitimasi lebih luas dari agama, tetapi agama secara historik merupakan alat legitimasi paling efektif. Agama melegitimasi institusi sosial dengan memberikan status ontologis kepadanya yaitu dengan menempatkannya dalam suatu krangka sakral dan kosmis.

Bentuk paling kuno dari legitimasi terdapat dalam konsepsi hubungan antara masyarakat dan kosmos sebagai hubungan antara microkosmos; peranan sosial, seksualitas, keluarga, perkawinan merupakan mimesis dan misteri sakral. Skema mikrokosmosmakrokosmos sebagai pola legitimasi telah mengalami perkembangan dari pola dunia mitos ke pola filsafat dan theologi.

Meskipun demikian corak hubungan itu masih tetap, seperti misalnya konsep Tao dalam kebudayaan Cina, Dharma dalam Hinduisme. Skema tersebut mengalami perubahan dalam kebudayaan Yahudi dengan kepercayaan kepada Allah yang transenden dan di Yunani dengan konsepsi tentang hakekat nasional manusia. Ini merupakan benih proses sekularisasi.

Pelanggaran terhadap tertib sakral dihubungkan dengan Khaos yang berlawanan dengan tertib jatuh dalam anomia. Retus Leliius berfungsi untuk mengingatkan terns menerus dengan proses pengingatan kembali, definisi tentang kenyataan dan legitimasinya.

Legitimasi Religius berkembang dalam tradisi dan mendapatkan otonominya. Dengan demikian dapat berinteraksi dengan perbuatan manusia sehari-hari. Kecuali itu, agama juga mempunyai fungsi mengintegrasikan “situasi batas” kedalam nomos seperti misalnya “dunia malam”, “mimpi”, “kematian”, semuanya ini memperoleh legitimasinya.

Setiap proses religius membutuhkan struktur sosial untuk tetap berlangsung. “Dasar Sosial” ini dapat disebut “Plausibility Structurt”. Setiap tradisi religius membutuhkan komunitas religius untuk dapat mempertahankan kredibilitasnya : Jemaat, Ummat, Sangha, dan lain-lain.

Pada kesimpulannya Berger mengingatkan pengertian agama dalam uraiannya “The establishment trought human activity, of an all embracing sacred order, that is, of a sacred cosmos that will be capable of mantaining it self in the ever – present face of chaos”.

Masalah Theodicea

Yang dimaksud dengan Theodicea setiap penjelasan atas fenomena yang mengguncangkan nomos masyarakat dalam rangka legitimasi religius. Dengan rasionalitas dari Theodicea bisa berbeda-beda.

Menurut Berger ada satu tahap fundamental yang emplisit dalam setiap theodicea; sikap penyerahan dari apa yang disebut Pula masokhisrna, “sikap dimana individu menjadikan dirinya suatu obyek pasif seperti benda dihadapan sesama, baik secara sendiri-sendiri maupun dalam kolektivitas maupun juga dalam berhadapan dengan nomos”. Sikap ini sifatnya teoritis.

Dalam rumusan teoritis seperti dilakukan para theolog, sikap ini masih tetap ada, misalnya dalam ungkapan : “penyerahan diri kepada yang tertinggi”. Manfaat dari teodicea menjelaskan dan mengintegrasikan pengalaman anomis dalam nomos yang telah dibangun secara social. Sehingga pengalaman pengalaman itu (kematian, malapetaka) dapat dipahami.

Agama dan Alienasi

Bagi Berger alienasi adalah perluasan dari proses obyektifasi “alination is the process where by the dialectical relationship between individual and his world was and continues tube coproduced by him” . Masyarakat menurut Berger memerlukan alienasi supaya dapat berlangsung. Alienasi adalah ilusi bahwa proses sosial adalah tetap dan tak dapat diubah.

Apabila menekan kesadaran kita bahwa masyarakat adalah buatan manusia, kita mengalami masyarakat sebagai kekuatan yang memaksa kita untuk berbuat ini atau itu. Kita mengalami alienasi karena kita berbuat yang erlawanan dengan kehendak kita. Suatu alienasi dibutuhkan untuk melindungi masyarakat. Alienasi secara antropologis perlu.

Kita membutuhkan banyak simbol legitimasi. Di antaranya yang paling memiliki kekuatan alienasi adalah agama. Agama memberikan sifat sakral kepada masyarakat dan menjadikan kita lupa bahwa itu sebenarnya buatan manusia. Dan segi lain agama mempunyai pola kekuatan dealienasi, karena mampu merealisir realitas secara radikal.

Proses Sekularisasi

Berger menolak penggunaan istilah sekularisasi sebagai konsep ideologis yang memuat penilaian positif atau negatif, ia mencoba melukiskannya sebagai proses empiris, tanpa mengambil posisi mengenai nilainya. Secara empiris ia mengartikan sekularisasi, adalah : “Proses dimana sektor-sektor masyarakat dan kebudayaan dipisahkan dari Dominasi institusi dan simbol-simbol religius”. Sekularisasi dalam arti ini terjadi baik dibidang masyarakat, budaya, maupun dibidang kesadaran.

Bertolak dari analisa masyarakat barat, Berger menanyakan melalui proses Sosio Kultural manakah dan kelompok apakah sekularisasi terjadi. Pembawa proses itu yang terutama adalah proses ekonomi modern, yaitu dinamika kapitalisme industrial. Tetapi faktor-faktor sekularisasi tak dapat direduksi dalam satu sebab. Perkembangan ilmu pengetahuan tentu juga merupakan salah satu faktor.

Tetapi Berger lebih tertarik pada masalah sejauh mana tradisi religius (Karat) membawa serta dalam dirinya benih sekularisasi. Berger melihat dalam protestanisme yang sakral direduksi dalam yang esential (sabda Allah). Sebenarnya unsur sekularisasi telah dimulai dalam Perjanjian Lama. Afermasi transendensi Allah dengan konsepsi pengembangan dunia telah membebaskan sejarah menjadi panggung manusia.

Sekularisasi pada jaman modern merupakan situasi yang sama sekali baru. Menurut Berger mungkin untuk pertama kalinya untuk legitimasi religius atas dunia kehilangan “plausibility”nya. Ini berarti timbulnya masalah “makna”. Tidak hanya bagi institusi-institusi seperti negara dan ekonomi tetapi juga bagi hidup sehari-hari.

Sosialisasi obyektif pada tingkat sosio kultural mempunyai jalur pararelnya dalam tingkat kesadaran. Hubungan antara modernisasi ekonomi dan sekularisasi politis merupakan soal yang komplek. Tetapi dapat dikatakan bahwa ada tendensi kearah sekularisasi menyertai proses industrialisasi. Struktur sosio ekonomi modern bersandar pada rasionalisasi.

Dalam proses sekularisasi agama tidak memiliki monopoli legitirnatisasi terakhir bagi hidup, bagi individual maupun kolektif. Situasi pluralistik ini seolah-olah pasar dimana berbagai agama berada dalam situasi kompetisi antara mereka dan dengan sistem non religius seperti ideologi-ideologi, Ekumenisme (dalam arti luas) merupakan suatu tuntutan situasi pluralistik, tuntutan rasionalisasi, kompetisi.

Muncul Pula semacam kartelisasi dari Birokratisasi agar dapat bergerak secara rasional. Isi religiuspun disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

Situasi pluralistik merelatifir juga isi religius, Isi religius mengalami diobyektivasi dan menjadi “Subjectivized” yaitu telah merupakan suatu yang berakar pada kesadaran dari pada Taktisitas dunia luar.

Dalam tingkat teorisasi theologi menggunakan eksistensialisme dan psikologi untuk melegitimasikan fenomena ini. Demonopoli agama adalah proses sosial struktural dan sekaligus proses sosial dan psikologis.

Dalam tulisannya sebagai appendika pada bukunya “the construction reality of religion”. Berger mengingatkan bahwa janganlah orang mencari implikasi theologis atau anti theologis. Sosiologi sebagi ilmu empiris tidak dapat menerima jawaban dari disiplin non empiris dan normatif, sosiologi memandang agama sub speciatamporis dan berusaha memahaminya sebagai proyeksi manusia, berdasar pada infra struktur tertentu dalam sejarah manusia tanpa memberi penilaian. Krisis theologi muncul dari adanya situasi adanya dimana tradisi religius sebagai simbol yang luas ruang lingkupnya mencakup keseluruhan masyarakat ada dua pilihan : menyesuaikan diri dengan situasi, pada konsumen; atau tetap mempertahankan diri kendati adanya perubahan dasar sosial budayanya. Masalahnya ialah : definisi religius tentang kenyataan dipermasalahkan.

Berger memberikan uraian perkembangan corak-corak theologi dalam protestanisme yang semuanya merupakan reaksi terhadap proses sekularisasi yang telah berjalan (pietisme, nasionalisme, liberalisme theologis, neo ortodoks, theoloi sekuler) sosiologi tidak dapat mengatakan kemungkinan bahwa proyeksi itu mengacu pada sesuatu yang lain dari pada yang membuat proyeksi.

Berger akhirnya mempersalahkan apakah definisi agama yang diberikan Luckman dapat bermanfaat sebagai alat kerja? Esensi dari konsepsi Luckman tentang agama ialah bahwa manusia mampu mengatasi kodrat biologisnya dengan membangun dunia arti yang obyektif, mengikat secara moral.

Agama tidak hanya merupakan fenomena sosial, tetapi juga fenomena antropologis par exelience. Agama adalah rasedensi diri simbolis. Masalahnya menurut Berger ada berbagai bentuk transedensi diri antara lain ilmu pengetahuan. Dengan demikian definisi semacam itu kurang bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *