Lompat ke konten
Home » Kehutanan » Konsep Tingkatan Integrasi Biologis

Konsep Tingkatan Integrasi Biologis

  • oleh
  • Januari 8, 2021Januari 8, 2021

Tingkat organisasi biologis yang terdiri atas organisasi sel, jaringan, organ, organisme, populasi, komunitas dan ekosistem, temyata belum menunjukkan tingkatan integrasi biologis yang sesunguhnya. Jadi baru menunjukkan tingkat sebenarnya dalam biologi saja, yaitu sel, individu organisme dan ekosistem.

Untuk itu Rowe (1961, dalam Kimmins, 1987) mendefinisikan `a true level of biological integration’ sebagai satu kesatuan, artinya yaitu lingkungan total dari semua tingkatan organisasi biologis yang ada di bawah (dari sel sampai sistem organ) dan komponen struktural maupun fungsional dari tingkatan organisasi yang diatas (mulai individu organisme sampai ekosistem dan biosfir). Kemudian dijelaskan pula bahwa prediksi yang akurat terhadap kondisi setiap satu tingkatan organisasi biologis dapat dibuat hanya berdasarkan pada pengetahuan tingkatan sesungguhnya dari integrasi biologis organisasi di atas. Sebagai contoh: perkembangan ke depan suatu sel tidak dapat diprediksi segera dengan pengetahuan tentang jaringan dimana sel dijumpai dan juga tidak dari pengetahuan organ dimana jaringan berada. Jadi hanya dengan pengetahuan tentang kondisi fisiologis dari organisme secara utuh untuk prediski yang dapat dihandalkan, yang berkenaan dengan semua aspek dari setiap sel dalam organisme yang bersangkutan. Jadi dalam hal ini organisme adalah ‘true level of integration’ dia atas sebuah sel.

Nasib kehidupan suatu individu organisme tidak dapat diprediksi dengan basis pengetahuan populasi yang memiliki individu organisme tersebut, dan juga tidak dari pemahaman tentang komponen biotik dari komunitas dimana populasi berada. Hal ini hanya dapat diprediksi dengan basis pengetahuan ekosistem, yaitu bahwa semua hal terdahulu yang relevan yang berpengaruh pada individu organisme yang bersangkutan dapat diidentifikasi dan dipertimbangkan, dan prediksi yang dapat dipercaya tentang individu tersebut akan diperoleh. Jadi, ekosistem adalah `the only true level of biological integration’ di atas individu organisme.

Kesimpulan penting dari pembahasan ini ialah akan sangat rawan atau bahaya, bila dalam mempelajari ekologi maupun pengelolaan ekosistem hutan kemudian mencoba memprediksi kondisi populasi ataupun komunitas hanya berdasarkan pada pengetahuan tentang populasi dan komunitas yang bersangkutan saja. Sebagai contoh, prediksi tentang pertumbuhan tanaman anakan pohon jati (Tectona grandis) adalah tidak dapat dipercaya bila hanya berdasarkan pada pengetahuan tentang sifat kemampuan tumbuh yang melekat pada spesies tersebut, bagaimana sebatang pohon dapat bersaing dengan masing-masing pohon lainnya, dan juga ketahanannya terhadap serangan hama dan penyakit. Pengetahuan lain tentang kemampuan jenis tumbuhan lain, hewan maupun mikroba yang hidup di sekitarnya yang mempertingi maupun yang mengganggu pertumbuhan anakan pohon jati tersebut akan meningkatkan nilai prediksi sedikit, tetapi hal ini hanya sebuah pengenalan terhadap seluruh ragam faktor-faktor biotik, klimatik, hidrologik, dan edafik yang mempengaruhi populasi anakan pohon jati yang cukup memberikan prediksi pertumbuhan ke depan yang dapat diterima.

Atas dasar basil pembahasan di muka dapat memberikan gambaran bahwa unit dasar dalam mempelajari ekologi adalah ekosistem dari pada individu organisme. Seperti digambarkan dalam gambar 1.1. tentang sub-divisi ekologi. Dalam gambar tersebut terdapat pandangan tradisional tentang sub-divisi ekologi yaitu dengan fokus pada identifikasi entitas sub-divisi tertentu (misal populasi pada tingkat populasi). Sementara pandangan ekosistem, fokus utamanya sama tetapi pada setiap tingkat hubungan antara obyek studi dan komponen lainnya dari ekosistem diberikan pertimbangan secara tegas. Dengan melihat gambar tersebut maka akan tampak bahwa dua pandangan tersebut identik pada tingkat ekosistem, tetapi berbeda pada tingkatan lainnya. Konsep ekosistem akan menjadi konsep tunggal yang penting dalam pengelolaan hutan secara intensif. Manusia harus belajar bahwa manusia bukan satu-satunya spesies di atas permukaan planet bumi ini.

Kegiatan manusia akan mengubah ekosistem dunia yang menjadi system pendukung dan penyangga kehidupan manusia itu sendiri. Perubahan dalam skala besar yang terjadi pada atmosfir secara kimiawi (a.l. hujan asam dan pencemaran gas buang karbon dioksida atau CO2) tidak hanya akan berpengaruh terhadap tumbuhtumbuhan dan hewan, melainkan jugs berpengaruh terhadap manusia karena manusia adalah bagian dari ekosistem.

Bahan Bacaan:

Ewusie, J.Y. 1980. Elements of Tropical Ecology. Heinemann, London.

Kimmins, J.P.1987. Forest Ecology. Macmillan Publishing Company, New York. Odum, E.P. 1971. Fundamentals of Ecology. 3th ed. W.B. Saunders Co., Toronto.

Referensi : Universitas Gadjah Mada

Gambar Sub-divisi dalam Ekologi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.